| Sabtu, 05 Januari 2008 | SALA |
Dibutuhkan Terapi untuk Anak Korban BanjirSOLO- Ratusan anak yang menjadi korban banjir pekan lalu perlu mendapat bimbingan psikologis di sekolah. Hal tersebut diperlukan untuk mengembalikan kondisi mental mereka agar kembali seperti semula. Dari pantauan di sejumlah sekolah, beberapa siswanya belum kembali ke sekolah padahal kegiatan belajar mengajar, bahkan ujian semester telah kembali dimulai. Juliani Prasetyaningrum MSi Psi, psikolog dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengatakan ada dua kemungkinan yang terjadi yaitu belum tersedianya tempat tinggal yang layak, atau si anak mengalami pengalaman traumatis akibat banjir. "Memang tampaknya mereka bergembira ketika bermain di air banjir, tetapi itu hanya sesaat. Ketika mereka sadar banyak hal telah berubah, akan mempengaruhi kondisi mental. Meski dalam hal ini masih dalam tingkat rendah, tetapi ada potensi gangguan psikologi individu, " jelas Juliani yang juga sekretaris Program Magister Psikologi UMS itu, Jumat (4/1). Tempat Berlindung Kondisi yang berubah itu dicontohkan hilangnya peralatan sekolah, ruang belajar dan tempat berlindung. Diakui, dampak yang ditimbulkan bencana banjir secara psikologis "lebih ringan" ketimbang gempa, karena kedatangan airnya relatif bisa diprediksi. Juli, sapaan akrab dosen psikologi perkembangan tersebut mengatakan, perlu pemetaan kondisi jiwa anak pasca banjir. Apabila ada yang mengalami pengalaman traumatis maka perlu disediakan guru konseling sebagai teman bicara si-anak. Kalaupun tidak mengalami itu, setidaknya anak punya teman berbagi. "Mungkin guru kelas, atau kalau perlu disediakan guru pembimbing yang menemaninya sharing, karena persoalan yang dialami sebenarnya bukan saja soal harta benda hilang saat banjir. Tetapi mungkin orang tua menjadi temperamen, padahal sebelumnya hubungan mereka harmonis," jelasnya. Karenanya, pihak sekolah maupun orang-orang terdekatnya (significant other) harus mampu menunjukkan rasa aman dan empati pada anak. Lebih lanjut dikatakan, mereka harus mampu mempersiapkan anak untuk menerima kondisi tersebut. "Selain itu, ada solusi, misalnya penyediaan sarana prasarana sekolah maupun sehari-hari, seperti yagn sudah berjalan saat ini. Karena dengan begitu akan timbul semangat baru bahwa mereka masih bisa melanjutkan aktifitasnya," tambahnya. Anak-anak,menurut Juli, perlu juga dipahamkan risiko-risiko yang timbul dari banjir, misalnya dari sisi keselamatan jiwa serta kesehatan. Sehingga mereka bisa mawas diri apabila mengalami kondisi serupa. (J6-50) |