| Sabtu, 05 Januari 2008 | SEMARANG |
Dari Usaha Mebel ke Kerajinan Batok KelapaSETIAP bentuk usaha yang kita geluti untuk mencari nafkah, pastinya akan mengalami pasang surut. Ada kalanya usaha tersebut mengalami peningkatan yang membuat pengusaha itu sukses. Namun ada kalanya juga mengalami penurunan yang mau tidak mau, memaksa kita untuk berganti usaha. Hal itulah yang kini dilakukan Bambang Supriyanto (40) warga RT 5 RW 3 Dukuh Pengilon Kelurahan Mangunsari Kecamatan Sidomukti Salatiga atau tepatnya di Jalan Aliwijayan No 01. Karena usaha membuat mebel yang digelutinya beberapa tahun lalu terus mengalami penurunan, ia kemudian banting stir membuat kerajinan dari bahan batok (tempurung) kelapa. Berbekal pengalamannya di bidang mebel, ia kemudian mengkolaborasikan keterampilan membuat mebel dan kerajinan batok kelapa menjadi satu karya yang berbeda. ''Usaha ini saya mulai usai Lebaran tahun 2006 yang lalu. Saya tertarik membuat kerajinan dari batok kelapa ini ketika saya jalan-jalan ke Bali dan melihat kerajinan batok yang dijual disana,'' tuturnya. Berawal dari situ, ia kemudian mencoba membuat kerajinan tersebut di Kota Salatiga yang kebetulan juga belum ada yang membuat. Tempat Payung Dengan menggunakan alat-alat yang sudah dimilikinya dari usaha mebel, ia mengumpulkan batok kelapa yang dibelinya dari Pasar Sapi. Batok tersebut kemudian diolah dan dibentuk menjadi beberapa kerajinan seperti pigura, asbak, pot bunga, tempat payung, kotak perhiasan, dan kotak tisu. Ada juga mebel yang dihias dengan batok kelapa seperti meja sudut, nakas, meja rias, meja makan, dan yang lainnya. ''Jika ada permintaan dengan bentuk lain dari pembeli, saya bisa membuatkannya,'' terang bapak tiga anak yang sering menerima jasa profil dari beberapa kota. Selain dijual di depan rumahnya, hasil kerajinannya tersebut juga dipasarkan oleh beberapa orang dengan sistem komisi, setiap kali ada pameran dan pasar malam. ''Selain mendapatkan komisi, mereka bisa mengambil untung sendiri dari hasil penjualannya,'' terangnya. Kerajinan tersebut dijual mulai dari harga Rp 7.500 seperti asbak hingga Rp 700 ribu untuk meja makan ukuran 1 m x 1,8 m. ''Harga tersebut tergantung dari besar kecilnya barang dan tingkat kesulitan dalam pembuatannya,'' jelasnya. (Leonardo Agung B-16) |