logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 04 Januari 2008 SALA
Line

Rumah Mereka Hilang Diterjang Banjir (1)

Tinggal Baju yang Menempel di Badan

BANJIR yang terjadi sejak Rabu (26/12/07), menyisakan duka teramat mendalam bagi sebagian korbannya. Puluhan rumah warga ikut hanyut terbawa derasnya arus Bengawan Solo.Dari puluhan warga Kampung Ampera, Sangkrah, Pasarkliwon yang masih tinggal di Balai Pertemuan Kantor Kalurahan setempat, nampak sosok ibu muda dengan dua anaknya.

Dia berbagi duka dan tawa bersama korban banjir lainnya. Namun, dari sekian warga itu, ibu muda itu mempunyai kisah memilukan di balik ganasnya banjir. Sariyana (27) itulah nama ibu muda ini.

Bibirnya rapat tertutup meski Aji (2) dan Bagas (5) anaknya mengajak bercanda saat berada di pangkuannya. Sekali waktu dia menatap Aji lalu megelus rambutnya dengan rasa haru. Suara Merdeka memberanikan diri mendekati wanita ini. Ternyata sambutannya hangat, meski wajahnya nampak pucat dan matanya sembab akibat terlalu banyak menangis.

Dengan kata-kata yang kadang terbata-bata, istri dari Wiji (35) seorang pemulung ini menceritakan peristiwa mengerikan yang menimpa hidupnya. Satu-satunya rumah yang dimilikinya di RT 05 RW 13, Kampung Ampera, Sangkrah, hilang terbawa arus ganas Bengawan Solo.

"Sesaat setelah banjir datang, saya tidak tahu bagaimana keadaan rumah. Saya tidak sempat menyelamatkan apapun selain anak-anak dan baju yang menempel ini," tuturnya sedih.

Ibu dua putra ini tidak tahu lagi bagaimana nasib suaminya. Sebab, pada saat arus besar Wiji berusaha menyelamatkan barang-barang yang ada di dalam rumah. Apalagi, dia harus menggendong dua anaknya yang masih balita ke tempat yang aman.

Rasa khawatir dan was-was berkecamuk saat mengetahui air terus datang dan semakin tinggi. Teriakan-teriakan memilukan warga semakin menambah kepanikannya, terlebih suaminya juga belum muncul.

Wanita berkulit sawo matang ini baru bisa tersenyum beberapa saat setelah di pengungsian melihat sosok Wiji. Dengan wajah yang diselimuti kesedihan, dia berusaha menyambut kedatangan suami yang selama ini memberikan nafkah bagi keluarga.

Ibu rumah tangga yang akrab disapa Nana ini bagai disambar petir saat mendengar cerita dari Wiji bahwa rumah yang selama ini dijadikan tempat berteduh, hanyut terbawa arus. "Saya tidak tahu harus kemana nanti akan berteduh dan membesarkan anak-anak ini," katanya sembari terisak.

Butiran bening menetes di pipi wanita ini. Nampak jelas beban dan penderitaan yang disandangnya setelah banjir memporak-porandakan semua miliknya. Wanita ini hanya bisa berharap, pemerintah memperhatikan nasibnya dan memberikan tempat baginya untuk sekedar bisa berteduh di waktu mendatang. (Heru Susilo W-50)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA