| Jumat, 04 Januari 2008 | WACANA |
TAJUK RENCANATeguhkan Reorientasi Sikap terhadap AlamKita makin berpengalaman diguncang bencana alam. Dalam catatan harian ini, secara nasional sepanjang 2007 lalu terjadi tidak kurang dari 93 terjangan banjir dan 200 kejadian tanah longsor. Yang paling aktual dan terasa mengguncang adalah banjir dengan skala luas di wilayah Surakarta, Bojonegoro, Kudus - Grobogan, serta tanah longsor di Karanganyar - Wonogiri. Bukan hanya jumlah korban dan kerusakan yang kita catat menggetarkan, karena jumlah berapa pun dalam bencana alam tetap saja menimbulkan kepahitan dan penderitaan. Yang patut digarisbawahi tentu saja eskalasi bencana dan semua varian potensinya. Meluapnya air Bengawan Solo yang menenggelamkan daerah-daerah di sekitarnya, terutama Kabupaten Bojonegoro, serta saluran-saluran yang terkait dengan Waduk Kedungombo dan Gajah Mungkur mengisyaratkan ketidakmampuan daya serap tanah untuk mengakomodasi air yang datang dan mencari "lahan parkir". Pertanyaan logisnya, mengapa sungai meluap, atau waduk muntah secara tidak terkendali? Semua itu jelas tidak terlepas dari realitas mutu manajemen air. Mengapa manajemen air tidak mampu mengatasi, karena minimnya infrastruktur irigasi yang diperparah oleh potensi sikap abai manusia. Sikap abai manusia dapat dipandang dari dua sisi, yakni bagaimana orientasi kebijakan strategis-praktis para pengambil keputusan, serta sejauh mana sikap masyarakat secara umum terhadap alam. Mulai dari konsistensi kebijakan tata ruang yang idealnya menuntut sikap visioner - berpandangan jauh ke depan, berpihak mutlak kepada keseimbangan ekologis, dan ditopang oleh komitmen penegakan hukum. Pada sisi lain, masyarakat memberi dukungan dengan secara tidak langsung menjadi "jaga tirta", "jaga kali", atau "jaga wana" yang dimulai dari kesadaran diri masing-masing, berupa sikap tertib, peduli, dan memelihara. Melihat kerusakan dan masa depan para korban, referensi kita pun mestinya bertambah kuat untuk berani mengambil langkah komprehensif menghadapi ancaman-ancaman yang bisa diperkirakan meningkat pada tahun-tahun mendatang. Manajemen air dengan pemetaan penyebab dan akibat dari meluapnya Bengawan Solo, Waduk Gajah Mungkur, dan Waduk Kedungombo sebenarnya telah dapat terbaca. Dan, kita tentu bisa membayangkan, kalau pada musim penghujan berikutnya belum ada antisipasi dan sikap kuat, eskalasi bencana itu bisa meluas ke jangkauan-jangkauan yang sekarang mungkin masih aman. Kita baru saja menjadi tuan rumah Konferensi tentang Perubahan Iklim yang menggalang sikap kolektif mengenai dampak pemanasan global dan upaya-upaya meminimalisasinya. Berbagai diskusi dan rekomendasi kepedulian terhadap lingkungan terus mewacanakan pentingnya keberpihakan kepada alam. Realitasnya, seberapa jauh sikap nyata semua stakeholder alam? Bagaimana dengan kebijakan tata ruang dan keberanian pemerintah untuk mempertahankan kawasan dengan orientasi masa depan lingkungan? Rasanya, tidak ada lagi justifikasi untuk berkelit dari pengalaman-pengalaman buruk ini. Sudah sedemikian parah akibat-akibat yang dirasakan, masihkah kita tidak bergerak dengan iktikad memfokuskan perhatian pada persoalan mendasar ini? Disadari bersama, betapa berat penanggungan dan kerugian akibat banjir setiap kali musim penghujan tiba. Dari Jakarta, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur. Belum lagi tanah longsor. Biaya besar memang dibutuhkan untuk semua kebutuhan infrastruktur yang ideal, tetapi akan lebih parah jika setiap kali dibutuhkan biaya pemulihan, sifatnya hanya recovery setahun, tidak menyentuh akar masalah. Kita mengajak semua meneguhkan orientasi terhadap pesan-pesan alam. |