| Jumat, 04 Januari 2008 | KEDU & DIY |
Kisah Liburan Sekolah Anak MerapiCari Pasir untuk Beli Perlengkapan SekolahPAGI itu sinar mentari tak mampu menembus tebalnya mendung hitam yang menggelantung di Lereng Gunung Merapi. Nyanyian alam suara berbagai serangga terdengar nyaring di pinggiran Kali Blongkeng, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Sebelum embun mengering, empat anak bergegas menceburkan diri ke kali yang warna airnya agak kekuningan. Dengan peralatan sederhana skop mereka mengangkat pasir dari dasar kali ke permukaan. Sedikit demi sedikit akhirnya pasir terkumpul segunduk. Apa yang dilakukan mereka merupakan bagian dari kegiatan anak-anak di pinggiran Kali Blongkeng untuk mengisi liburan sekolah. Jika sebagian siswa yang ekonomi keluarganya serba kecukupan, mungkin saja menghabiskan liburan dengan darma wisata atau mengikuti kursus kilat. Berbeda dengan yang dialami Putra (13) siswa kelas 2 SMPN Dukun, yang hanya bisa berendam di kali untuk mengais rezeki. Namun itu semua tak menjadi beban baginya karena kegiatan itu dijalaninya dengan senang hati dan sambil bermain-main di aliran kali tersebut. Tidak Menyurutkan Niat Meski airnya dingin menusuk persendian dan tulang, tak mampu menyurutkan niat mereka mengeruk pasir di dasar kali. Dia tetap ceria terlihat sesekali menyipratkan air kepada temannya, sebagai bahan candaan agar tak cepat lelah. Mencari pasir dimulai sejak pagi mulai pukul 07.00 sampai dengan 09.00. Seharinya, dia bersama tiga temannya bisa meraup uang Rp 40 ribu. Setiap anak kebagian Rp 10 ribu. Jika selama sepekan, hasil lumayan akan dikantongi mereka. ''Sebagian ditabung untuk membeli buku pelajaran dan sisanya untuk jajan,'' kata Putra. Menurutnya, melakukan kegiatan itu untuk melatih kemandirian. Meski orang tuanya tak menganjurkan atau melarangnya, namun merasa bangga ketika bisa meringankannya. Dia merasa iba melihat orang tuanya yang bekerja di sawah dan mengeluarkan uang cukup banyak disaat memasuki musim tanam. Putra dan tiga orang temannya mungkin menjadi contoh bagi anak-anak lainnya. Mereka tak berlatih kemandirian tapi juga mendapatkan hiburan tersendiri di sungai. Begitulah potret anak Merapi yang penuh kesederhanaan dalam menghabiskan masa liburannya. (Sholahuddin al-Ahmed-39) |