| Jumat, 04 Januari 2008 | INTERNASIONAL |
Oposisi Desak Musharraf MundurISLAMABAD - Presiden Pakistan harus mundur sebelum pemilihan bulan depan atau negara berisiko terjerumus ke dalam perang saudara, kata para pemimpin oposisi dan lembaga riset independen, kemarin. Seruan itu dilontarkan setelah pemerintah menunda pemilihan dari 8 Januari menjadi 18 Februari karena kerusuhan. Pakistan rusuh menyusul pembunuhan terhadap pemimpin oposisi Benazir Bhutto, pekan lalu. Kematian Benazir dalam bom bunuh diri dan aksi penembakan makin memperparah krisis di Pakistan. Pemerintah dikecam lantaran pengaturan keamanannya terhadap Benazir, yang mengklaim unsur-unsur dalam partai berkuasa berusaha membunuhnya. Partai berkuasa itu membantah tuduhan itu. Para pendukung Benazir bersikeras penyelidikan PBB merupakan satu-satunya cara untuk mengungkap kebenaran di balik pembunuhan terhadap mantan perdana menteri itu 27 Desember lalu. Pemerintah sebelumnya mengesampingkan perlunya keterlibatan asing dalam penyelidikan pembunuhan itu. Mereka membantah pengumuman Presiden Pervez Musharraf pada Rabu lalu bahwa Scotland Yard, dinas mata-mata Inggris, akan segera bergabung dalam investigasi itu. Seorang polisi penyidik, kemarin, mengatakan polisi Pakistan telah mengamankan bukti kunci, antara lain mayat pelaku bom bunuh diri, dua pistol, dan telepon selular. Dia tidak bersedia disebut namanya karena kepekaan investigasi itu. Penundaan pemilihan itu dikecam PPP dan kelompok oposisi utama lainnya, pimpinan mantan PM Nawaz Sharif. Namun mereka menyatakan ettap akan ikut pemilihan .(rtr-niek-26) |