logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Desember 2007 SALA
Line

Penghuni Bantaran Bengawan Solo (1)

Trauma tapi Tak Berniat Pindah Rumah

BANJIR menghanyutkan harta benda bagi korbannya, khususnya yang tinggal di bantaran Bengawan Solo. Ya, daerah tepi sungai itu memang sangat rawan banjir. Pada musibah lalu, rumah mereka habis digenangi air bah. Ada rasa trauma atas musibah yang terjadi. Namun mereka tetap kukuh untuk terus hidup dalam bayang-bayang luapan Bengawan Solo.

Tari (45) salah seorang di antaranya. Ibu rumah tangga yang tinggal di Kampung Dadapan RT 4 RW 13, Sangkrah, Pasarkliwon ini tidak kuasa menyembunyikan kesedihannya atas musibah yang terjadi.

Rumah wanita ini berdekatan dengan Bengawan Solo. Jaraknya hanya beberapa meter saja. Saat membuka pintu dapur, pemandangan derasnya arus sudah di depan mata.

Tidak hanya Tari, hampir sebagian besar rumah warga di tempat ini hanya berjarak beberapa meter saja dari bengawan. Banjir tidak hanya terjadi kali pertama ini, sebab beberapa tahun lalu banjir juga sudah terjadi.

Namun, meski arus Bengawan Solo selalu menebar ancaman, terlebih dalam situasi seperti ini, tidak pernah menyurutkan niatnya untuk pindah dari pemukiman miskin ini. "Trauma memang, tetapi kami dan warga di tempat ini tidak akan pindah kemana-mana," tuturnya.

Menurut pemulung ini, tinggal di pinggir Bengawan Solo sudah dilakukan sejak puluhan tahun silam. Meski Tari mengaku selalu waswas jika hujan lebat terjadi. Petak sempit dan kumuh itu bukan pilihannya.

Namun, dia tidak berdaya untuk menempati lokasi yang lebih baik. Keadaan ekonomi tidak pernah memberikan ruang bagi dia dan keluarga untuk menikmati hidup jauh dari bayang-bayang banjir. "Sebenarnya ada keinginan untuk pindah, tetapi semua itu tinggal keinginan yang sulit terwujud. Saya dan keluarga sudah terlanjur menikmati hidup di sini," tuturnya.

Apa yang dikatakan warga ini, juga diungkapkan oleh Wartini, warga Dadapan RT 5 RW 13. Wanita berusia 50 tahun ini, mengaku sampai akhir hayat tidak akan pindah dari rumah warisan orang tuanya.

Bagi dia, meninggalkan rumah sama artinya memutus sejarah masa lalu. Dimana orang tuanya selalu membimbingnya dalam menapaki kerasnya kehidupan. "Hidup dan makan kami sudah di sini. Kami dibesarkan dan mengenal dunia juga dari sini, jadi tidak ada alasan untuk pindah," katanya.(Heru Susilo-67)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA