logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Desember 2007 RAGAM
Line

Lihat Induknya, Baru Beli Bibitnya

BIBIT anthurium jenmanii dengan 2-3 daun kini laris manis bak pisang goreng. Seperti halnya sang induk, harga bibitnya pun ikut naik. Tak jarang kita temui bibit yang dihargai ratusan ribu rupiah. Padahal daunnya masih sebesar ujung jari kelingking.

Uniknya, tidak semua pedagang dan penggemar tanaman hias mengenal jenis tanaman tersebut. Ini karena banyak varian dan silangan yang beredar di pasaran, sehingga tidak ada nama standar untuk bibit-bibit tersebut. Tak ayal, banyak yang tertipu dengan bibit aspal: kelihatannya asli, tapi sebenarnya palsu.

Silsilah

Kebanyakan bibit anthurium punya karakter daun yang sama. Terutama antara jenmanii dan hookeri. Bentuk daun keduanya sangat mirip, sama-sama berbentuk jantung hati. Namun kalau dicermati akan terlihat perbedaan di antara keduanya. Sebab daun jenmanii lebih tebal, bahkan perbedaan ketebalan itu sangat menyolok.

Namun ketika ukuran daun masih seujung jari kelingking, perbedaan itu belum bisa diketahui. Sejago apa pun penggemar jenmanii, pasti kesulitan membedakan bibit ketika seukuran itu. Varian jenmanii baru bisa dibedakan, jika tanaman sudah memiliki daun berukuran lebih 35 cm atau lebih.

Karena itu, jika ingin membeli bibit jenmanii, usahakan melihat dulu indukannya. Dengan mengetahui indukan, kita bisa tenang, meski tak ada jaminan dari penjual bahwa bibit itu akan seperti induknya.

Tiga Tips

Bagaimana jika tidak bisa melihat induknya? Pertama, pilihlah bibit berdaun tebal, karena biasanya berasal dari induk yang bagus. Jenmanii induk yang punya karakter seperti cobra, sawi, pagoda, piton, entong, daun nangka, dan sebagainya memiliki daun tebal.

Kedua, pilihlah bibit yang serat daunnya menonjol. Serat menjadi salah satu pertanda bahwa jenmanii itu berkualitas. Kalau serat daun pada bibit jenmanii sudah nampak, maka makin tua tanaman makin jelas pula seratnya. Ketiga, pilihlah bibit berdaun lebar, karena kalau sudah dewasa kemungkinan besar memiliki karakter seperti mangkuk, sweta, atau jenis lainnya.

Bukan berarti bibit yang daunnya agak memanjang itu jelek. Karena dalam jenmanii seringkali terjadi mutasi saat dewasa. Bisa jadi yang berdaun jelek akan berubah menjadi berkarakter seperti jaipong, golok, atau lainnya.

Karakter jenmanii memang unik. Saat kecil sampai memasuki remaja terlihat bagus, tetapi menjelang dewasa kadang muncul gen aslinya, sehingga malah berubah jadi jelek. Sebaliknya, saat kecil terlihat jelek tapi setelah dewasa malah bagus. Memang kemungkinan seperti itu jarang terjadi. Karena itu, yang terpenting adalah perhatikan serat dan ketebalan. Serat bagus dan daun tebal bisa jadi pertanda jenmanii bagus. (Ari-32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA