logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Desember 2007 RAGAM
Line

Ayam Arab, Ras atau Buras?

Pertanyaan ini kerap disuarakan para pedagang telur ayam kampung maupun penjual jamu tradisional yang menggunakan telur ayam kampung sebagai salah satu bahan bakunya. Mereka bingung apakah ayam arab termasuk ayam ras atau bukan ras (buras) alias ayam kampung.

ISTILAH ayam buras muncul pada awal dekade 1980-an, ketika Pemerintah RI mengenalkan program Intab (Intensifikasi Ayam Buras). Program ini berupaya meningkatkan produktivitas dan daya reproduksi ayam kampung, antara lain lewat pemeliharaan semi-intensif (umbaran terkurung) maupun pemeliharaan intensif (kandang batterei dan litter).

Seluruh ayam lokal, atau biasa di-sebut ayam kampung, termasuk dalam kelompok ayam buras. Istilah buras digunakan untuk membedakannya dari ayam ras. Baik ayam ras petelur (misalnya ayam harco, leghorn, dan lain-lain) maupun ayam ras pedaging (ayam potong/broiler).

Sejak awal tahun 2000, masyarakat peternak mengenal jenis ayam yang baru datang ke Indonesia, yaitu ayam arab. Mendengar namanya, orang-orang pasti mengira ayam ini berasal dari Jazirah Arab. Padahal ayam arab berasal dari Belgia, dengan nama popular silver brakel kriel.

Disebut ayam arab, karena penampilannya yang dikaitkan dengan gadis berkerudung. Ya, ayam arab mempunyai ''kerudung'' berwarna putih di bagian belakang lehernya. Kerudung ini makin kentara pada ayam jantan, karena terlihat berjuntai panjang.

Kecantikannya memang tak diragukan lagi, apalagi jika muncul kombinasi totol-totol hitam pada warna bulunya hingga ke bagian ekor. Pada awal kehadirannya di Indonesia, ayam arab diposisikan sebagai ayam hias. Artinya, sejajar dengan ayam serama, bantam, kate, pelung, bangkok, dan bekisar.

Keunggulan lain dari ayam ini adalah jenggernya yang amat panjang dan bersifat tunggal. Sedangkan pada betina, kerudung hanya sebatas pangkal leher, dengan kombinasi totol-kotol hitam. Bulu-bulu pada betina lebih tebal daripada pejantan. Pial dan jenggernya, sebagaimana pejantan, juga berwarna merah.

Produksi Telur

Ayam arab jantan memiliki bobot tubuh rata-rata 1.500-1.800 gram / ekor, sedikit lebih berat daripada betina yang hanya 1.100-1.500 gram. Bobot ini tak jauh berbeda dari ayam buras yang ada di sekitar kita.

Bukan hanya itu, telur ayam arab juga mirip dengan ayam buras, baik ukuran maupun warnanya. Sulit membedakan mana telur ayam kampung dan telur ayam arab, jika keduanya didekatkan.

Berdasarkan penelitian, ternyata kandungan gizi telur ayam arab juga nyaris sama dengan telur ayam kampung. Bahkan rasa dagingnya pun tidak berbeda. Jauh lebih lezat dan lebih gurih daripada ayam ras.

Yang membuat ayam ini''mengungguli'' ayam kampung adalah produksi telurnya. Dalam berbagai penelitian, ternyata ayam ini termasuk tipe petelur unggul. Setiap tahun, seekor induk betina sanggup menghasilkan 280 butir telur. Bandingkan dengan ayam kampung yang hanya bertelur 70 butir/tahun dalam pemeliharaan ekstensif, atau 155-160 butir/tahun dalam pemeliharaan intensif.

Kini, ayam arab tak lagi diposisikan sebagai ayam hias, tapi sengaja dipelihara sebagai ayam kampung petelur. Apalagi masyarakat Indonesia memiliki mitos tersendiri mengenai telur ayam kampung, yang dianggap lebih ''josss'' ketimbang telur ayam ras.

Kalau begitu, apakah ayam arab merupakan ayam ras yang dikamuflasekan sebagai ayam kampung atau ayam buras? Apakah peternak ayam arab sekadar ''memanfaatkan'' mitos masyarakat soal telur ayam kampung, untuk kepentingan ekonomis?

Proses Domestifikasi

Jawabannya tidaklah sesederhana itu. Untuk menyebut ayam ras atau bukan ras, kita harus melihat proses domestifikasinya. Jika telah berbaur, apalagi dipelihara bersama-sama ayam kampung, ayam jenis apapun sebenarnya sudah bisa dikelompokkan sebagai ayam buras.

Bukankah ayam bangkok yang berasal dari Thailand juga telah mengalami domestifikasi selama lebih dari 50 tahun di Indonesia, dan kini termasuk dalam ayam buras? Begitu pula dengan kate yang berasal dari Jepang.

Di Indonesia, ayam arab pertama kali dipelihara di Malang, tahun 1995, dan dipelihara bersama-sama ayam kampung dalam sistem pemeliharaan ekstensif (diumbar). Tentu keturunan ayam arab ini sudah tidak murni lagi, tetapi persilangan antara ayam arab dan ayam kampung.

Beberapa tahun kemudian, praktik persilangan serupa juga terjadi di Pondok Cina, Depok. Hasil persilangan inilah yang dikenal sebagai ayam poncin (akronim dari Pondok Cina).

Hal yang sama juga dilakukan beberapa peternak di Kabupaten Temanggung. Tetapi namanya bukan poncin, melainkan rengganis. Produktivitas ayam poncin atau ayam rengganis tidak jauh berbeda dari ayam arab.

Persilangan ayam arab jantan dan ayam kampung betina juga sudah lama dilakukan oleh masyarakat di Kaliurang, Kecamatan Pakem, Sleman. Praktik persilangan inilah yang menarik perhatian tiga siswa Madrasah Aliyah Negeri I Yogyakarta (Fajar Fathurrahman, Nuri Hidayati dan Nurma Fitria).

Ketiganya melakukan penelitian dan hasil penelitiannya terpilih sebagai juara harapan I dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) 2002 yang diselenggarakan LIPI. Dengan demikian, hampir semua ayam arab di Indonesia sebenarnya merupakan hasil persilangan dengan ayam kampung.

Ditambah lagi proses domestifikasi selama 10 tahun lebih, maka layaklah jika ayam arab diposisikan sebagai ayam buras. Jadi, peternak maupun pedagang telur tidak perlu bingung dan mempersoalkan apakah ayam arab termasuk ras atau buras. (Sriyati-32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA