| Senin, 31 Desember 2007 | PANTURA |
Nelayan Nekat Melaut meski Gelombang TinggiTEGAL - Meski gelombang tinggi dan cuaca buruk sering terjadi, nelayan Kota Tegal dan sekitarnya nekat melaut. Aktivitas tersebut tetap mereka lakukan, lantaran terdesak kebutuhan hidup sehari-hari. ''Saya dan teman lainnya terpaksa melaut, karena didesak kebutuhan hidup sehari-hari,'' kata Radis (40), salah satu nelayan dari Kelurahan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat. Menurut dia, selain didesak kebutuhan hidup, nelayan tetap melaut karena perahunya dinilai cukup kuat menghadapi hantaman gelombang pasang. Kondisi tersebut, bagi para nelayan merupakan hal biasa, karena setiap tahun mereka alami. ''Gelombang besar maupun cuaca buruk merupakan tantangan yang harus kami hadapi untuk mencari penghasilan,'' ujarnya. Hal senada juga disampaikan nelayan lain, Naryo (36). Dia menyatakan terpaksa melaut karena persediaan makanan dan kebutuhan lain di rumahnya sudah minim. ''Kalau tidak melaut mau makan apa keluarga saya,'' ungkapnya. Sementara itu, hasil pantuan dari Stasiun Meteorologi Tegal, saat ini tekanan rendah di Samudera Indonesia selatan Bali atau Nusa Tengara Barat (NTB), masih tetap berlangsung. Kondisi demikian berpotensi menjadikan embrio badai di wilayah selatan equator, karena suhu muka laut di perairan tersebut lebih panas dibanding perairan lainnya. Menurut Kepala Stasiun Meteorologi Tegal, Agus Hadi Utomo, pias konvergensi (ITCZ) masih berada di atas Pulau Jawa. Pusaran kecil di Samudera Indonesia Selatan Bali ( NTB ) merupakan cikal bakal badai (embrio badai) telah mampu menarik uap air atau perawanan ke wilayah tersebut. Rawan Hujan Akibatnya, wilayah selatan Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali serta beberapa tempat di Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan daerah yang paling rawan terhadap hujan lebat disertai angin kencang atau puting beliung, termasuk perairannya. Karena itu, lanjut dia, pihaknya mengimbau kepada semua pemilik kapal dan nelayan untuk tidak melakukan aktivitas melaut di perairan Laut Jawa di bagian timur. Antara lain, di perairan selatan Kalimantan, utara Jawa Tengah, utara Jawa Timur, perairan dekat Selat Makasar, perairan Selatan Jawa Timur, serta perairan Selatan NTB. ''Daerah tersebut sangat berbahaya untuk pelayaran,'' katanya. Agus mengemukakan, di Jawa dari arah barat kecepatan angin mencapai 15 - 45 km/jam. Sementara, gelombang Laut Jawa bagian barat ketinggiannya rata-rata 0,5 ñ 1 meter. Di Laut Jawa bagian timur, terutama perairan selatan Kalimantan, utara Jawa Tengah, utara Jawa Timur serta perairan Laut Jawa dekat Selat Makasar, tinggi gelombang mencapai 4 - 5 meter. Diperkirakan kondisi tersebut akan berlangsung hingga tiga hari mendatang. Selain itu, nelayan juga diminta untuk mewaspadai tinggi gelombang laut mencapai 3 meter di perairan barat Sumatera Barat, Bengkulu serta perairan Banten. ''Sedangkan perairan selatan Jawa Timur serta perairan selatan Bali, tinggi gelombang laut 3 - 4 meter berbahaya akibat akumulasi awan Cummulus Nimbus (CB),''terangnya. (H17-15) |