| Senin, 31 Desember 2007 | WACANA |
Surat PembacaKritik = Tanda CintaBekas Presiden Amerika (1974 - 1978) Jimmy Carter punya nasihat bagus berbunyi : "Kekuatan Anda akan mengimbangi kelemahan saya, kebijaksanaan Anda akan mengurangi kesalahan saya". Petuah ini patut direnungkan oleh setiap penguasa, pemimpin dan pejabat karena punya makna yang sangat dalam. Siapa pun Anda, apakah presiden, jenderal, menteri, gubernur, bupati/wali kota, camat, lurah atau ketua RT sekali pun. Pemimpin, tetaplah manusia biasa yang punya kemampuan terbatas. Tersirat pula, pemimpin andal harus didukung pejabat lain yang tak kalah tangguh dan dikontrol ketat oleh rakyat yang kritis dan cerdas. Carter bukan orang Indonesia, tapi dia mengaplikasikan ide gotong-royong, keterbukaan dan pola saling asih, asah dan asuh. Memang begitulah seharusnya mekanisme aturan main berpolitik yang benar. Lawan politik, kelompok oposisi dan tukang kritik jangan dipandang sebagai momok dan musuh yang harus dilenyapkan dari muka bumi. Ketiga elemen tersebut hanya sebatas beda pendapat, mengkritik dan mengontrol. Boleh berbeda pendapat, adu argumentasi dan berdebat namun secara pribadi tetap bersahabat, bersaudara dan berkawan. Bagi seorang negarawan, beda pendapat sebagai anugerah, keberadaan kelompok oposan menjadi alat kontrol sepak terjang para elite politik dan birokrat, hingga kesalahan sekecil atom pun bisa segera dikoreksi. Hal ini demi kebaikan pemimpin/pejabat sendiri maupun bagi bangsa dan negara secara komprehensif. Juga akan tercapai bila kritik tidak ditafsirkan sebagai ungkapan rasa benci dan menebar permusuhan namun justru dianggap sebagai "tanda cinta" kepada para penguasa, pemimpin dan pejabat. Contoh, bila seorang komandan menghukum anak buahnya karena tak becus menembak, apakah itu sebagai ekspresi rasa benci. Seorang ustadz yang marah pada santrinya karena salah melafalkan satu ayat, apakah ini juga bentuk rasa benci. Tentunya tidak. Maka kepada para pemimpin dan pejabat, jangan mabuk sanjung puja yang hanya menjerumuskan pada sifat terlena, khilaf dan lupa diri. Juga jangan alergi, muak dan antipati bila mendapat kritik. Jadikan kritik sebagai "pil pahit" yang harus diminum, guna menyembuhkan dan menyehatkan mental, batin dan rohani. Khusus untuk warga epistoholik, mari bersatu menjadi "tukang kritik" yang tak kenal lelah untuk melakukan kontrol, koreksi sebagai wujud sikap "oposisi" pada penguasa atau pejabat. S Joko Wiyono Sudagaran RT 5/RW 1 Sukorejo, Kendal Beli Perdana Flexi Tanggal 4 Desember 2007saya beli Perdana Flexi Trendy Dahsyat No (024) 70517951 dan langsung diaktifkan, regristrasi via 147 dan aktifkan No Combo untuk Kota Ambarawa. Semua berjalan lancar. Keesok harinya ponsel tersebut dibawa istri ke Ambarawa dan saya dari Semarang bisa call atau sebaliknya semua juga berjalan lancar. Namun tiga hari berikutnya sekitar pukul 14.00 WIB saat mau menelepon, saya melihat ada masalah karena di layar yang tampak hanya tulisan "Kartu Salah". Hal ini yang membuat saya sangat heran, tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba ponsel tidak dapat saya pergunakan. Ponsel saya bawa ke Plaza Telkom Jl Kelud Raya. Setelah dicek, petugas tanpa beban menyatakan bahwa kartu saya rusak dan kalau ingin menggunakan harus ke Plaza Telkom Pahlawan dengan biaya ganti kartu Rp 27.500. Kenapa di Indosat penggantian kartu bisa gratis, sedang diTelkomsel dipungut biaya bila kartu rusak fisik (misal kartu patah). Yang menjadi pertanyaan, apakah hanya inikah komitmen PT Telkom menjaga pelanggannya. Kartu dengan umur pakai cuma 3,5 hari bernama perdana yang cukup sensasional "Flexi Trendy Dahsyat". Semoga kejadiaan Flexi Trendy da-da sayang, tidak menimpa calon pengguna yang lain. Hati-hatilah. Nur Wiyono Jl Kaligarang 19 D, Semarang. *** Calon Gubernur, Mana Perhatianmu ? Suara Merdeka beberapa waktu lalu memuat berita penderitaan seorang anak Bernama Retno Purnama Sari yang tidak sekolah karena penyakit tumor mata. Keluarganya tidak mampu mencari biaya untuk mengobati dan lebih menderita lagi ketika berobat ke RS pemerintah, ditolak petugas serta lebih tragis lagi bukan diperiksa tapi malah diterlantarkan. Berita sedih tersebut tidak membuka hati para calon gubernur maupun pejabat seperti wali kota, gubernur dan anggota Dewan yang dipilih rakyat. Para tokoh politik dan pejabat jangan hanya mendekat kepada rakyat bila akan ada pilkada dan pemilu tapi perhatikan rakyat yang menderita dan membutuhkan bantuan. Percayakah kepada calon pemimpin yang tidak memperhatikan penderitaan rakyat. Kepada banteng muda Indonesia yang telah membantu, saya ucapkan selamat berjuang untuk memperhatikan rakyat kecil. Suprapto Karangduwet RT3/RW 19 Winong, Boyolali *** Hati-hati Penipuan Baru Toko Eco Rasa di Jl Jend Soedirman 72 telp (0281) 7620950 Sokaraja yang mengaku sebagai pusat oleh-oleh khas Banyumas kerja sama biro perjalanan Orsela Semarang telah melakukan tindakan kurang terpuji di depan para pendidik termasuk saya yang sedang wisata keluarga sekaligus berbelanja pada liburan 23 Desember 2007. Modus penipuan berupa ''pemaksaksaan'' belanja oleh-oleh makanan khas Banyumas dengan cara membelokkan bus rombongan wisata ke dalam garasi toko tersebut dan pintu gerbang garasi langsung ditutup rapat sehingga wisatawan yang ingin belanja tidak ada pilihan lain kecuali di toko tersebut. Pada hal di luar garasi banyak sekali toko sepanjang Jl Jend Sudirman yang menjual oleh-oleh makanan dan barang sejenis dengan harga lebih murah dan lengkap. Merasa ditipu dengan harga yang lebih mahal, saya langsung komplain kepada counter pembayaran tapi dia kelihatan cuek dan acuh. Masyarakat yang akan membeli oleh-oleh khas Banyumas agar memperhatikan dan cara yang dilakukan oleh toko tersebut beserta biro perjalanan Orsela Semarang Ir Agus Rochadi MM (08122901427) Jl Sekip IV/9 Undip Tembalang, Semarang *** Tentang Kartu Mentari Sehubungan tulisan saya di Surat Pembaca 22 Desember 2007 mengenai masa aktif kartu Mentari, pihak Indosat segera memberi tanggapan dan mengklarifikasi serta memberi penjelasan terhadap masalahnya. Saya dapat mengerti penjelasan tersebut dan bahkan Indosat memberi bonus isi ulang serta mengembalikan nomor Mentari saya. Terima kasih responnya yang cepat menanggapi keluhan pelanggan. Abdul Latief Jl Lemahgempal II/981, Semarang *** Beli Susu Indomilk Tanggal 21 Desember 2007 saya berbelanja ke Hypemart Java Supermal Semarang, salah satunya membeli susu kotak Indomilk Kids yang kondisi kemasannya masih terlihat utuh/bagus. Esok harinya susu diminum anak saya tapi langsung dimuntahkan karena katanya berbau/tidak enak. Karena penasaran, istri mencoba meminum, ternyata susu memang dalam keadaan bau/seperti busuk. Hal ini menyebabkan perut terasa mual padahal jelas dalam kemasan tercanum expired date 31 Juli 2008. Yang ingin saya tanyakan, apakah tanggal kedaluwarsa yang tercantum dalam kemasan tersebut salah cetak atau ada kegagalan dalam memproduksi susu. Sampai sekarang susu yang lain belum saya buka karena takut kondisinya sama sebelumnya. Mohon semua pihak berhati-hati. Djoko Sudarto Jl Dinar Mas Utr IV/21 Meteseh, Semarang *** Tentang Star One Saya ucapkan terima kasih kepada Sdr Antony Suryawan dari pihak Star One atas penjelasan dan perbaikan terhadap kartu saya. Pada 16 Desember 2007 surat saya dimuat di Surat Pembaca soal kerusakan nomor kartu saya dan tidak menyangka mendapat tanggapan cepat. Namun karena saya kuliah sehingga agak sulit ditemui meski pihak Star One tidak berhenti begitu saja. Akhirnya 22 Desember 2007 saya dapat ditemui dan dijelaskan bahwa nomor Jagoan saya belum ter-update ke frekuensi yang baru. Selain itu ternyata semua operator CDMA juga melakukan transmigrasi ke frekuensi lain. Jadi bila kartu CSMA ada masalah, mungkin lebih baik pergi ke provider center untuk memindahkan ke frekuensi yang baru. Nur Rachmad Safi'i Jl Keruing Utara Dlm 29, Semarang *** Soal Pencalonan Murdoko Menyikapi tulisan Sdr R Adi Setyo warga Sawangan RT 2/RW 4 Kebasen Banyumas yang dimuat di Surat pembaca 30 Desember 2007, selaku panitia penjaringan dan penyaringan bakal calon Gubernur/Wakil Gubernur Jateng, DPD PDI-P menyampaikan sbb: Apa yang disampakan Sdr R Adi Setyo, mengenai tidak tercantumnya nama H Murdoko SH sebagai salah satu pengambil formulir yang mengembalikan berkas formulir pendaftaran adalah tidak berdasar. Menurut data di 6 panitia, H Murdoko SH mengambil formulir 7 November 2007 dan mengembalikan 14 November 2007. Sdr sama sekali tidak pernah melakukan konfirmasi terkait pengambilan/pengembalian formulir sehingga yang disampaikan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Tidak ada perlakuan khusus baik untuk calon luar partai maupun kader, semua diperlakukan sama. Justru dalam proses pilgub ini, PDI-P Jateng melaksanakan secara transparan dan menjunjung tinggi nilai demokrasi sebagai upaya memberikan pendidikan politik khususnya untuk kader dan masyarakat pada umumnya. Pendapat Sdr mengenai tokoh yang pantas menjadi bakal calon yang bisa mengangkat citra partai, sangat kami hargai. Namun harus dipahami, pendapat Sdr belum tentu representasi dari rakyat kebanyakan. Yang disayangkan, ketika Sdr menyampaikan dengan cara menyudutkan calon lain, itu bertentangan dengan demokrasi sehingga ada kesan sebagai pesanan dari pihak tertentu. Saya memberikan apresiasi kepada Sdr R Adi Setyo yang menginginkan perbaikan citra partai dan kemajuan partai di masa mendatang. Adalah harapan bagi semua untuk menghilangkan kesan negatif terhadap partai. Hanya saja tidak cukup dengan keinginan dan harapan sebab perlu tindakan dan kerja nyata. Kalau menginginkan kesan partai tidak arogan, kasar, mari mulai dari diri sendiri, jangan berbicara tanpa data dan fakta, memfitnah serta menyudutkan orang lain. Apa lagi terhadap yeman sesama kader karena itu bagian dari tindakan arogan dan kasar. Sikap itulah yang meruntuhkan persatuan kader, memecahbelahkan akar rumput,serta mengerdilkan partai. Tim Penjaringan dan Penyaringan Bakal Calon Gub/Wagub DPD PDI-P Jateng *** Kondom dan Sembako Saking bingungnya, aktivis peduli AIDS/HIV membuka 24 titik penjualan kondom antara lain di terminal, pemberhentian truk dan panti pijat. Dari sini terbukti panti pijat ternyata tidak cuma pijat murni, tapi juga pijat yang menjurus perzinahan. Apa boleh buat tapi saya tidak setuju kalau kondom dijual seperti itu karena bukan barang kebutuhan pokok. Saya lebih cocok bila dijual di apotek sebab sesuai dengan bidang kesehatan atau di lokalisasi saja. Jangan dipermudah penjualannya. Kalau dujual di tempat umum, masyarakat mudah membeli bahkan pelajar dan mahasiswa sehingga mereka bisa coba-coba. Walau demikian saya prihatin pada bayi dan anak korban HIV/AIDS yang ditularkan orang tuanya atau korban transfusi darah. Mereka pantas ditolong. H Erlangga Chandra (EI) Bantulan RT 1/I Banyudono boyolali. *** Hati-hati Servis AC Bagi para pemilik mobil yang ingin memperbaiki AC-nya jangan sembarangan ke bengkel servis AC. Saya punya pengalaman saat memperbaiki di bengkel Jarno Jl Puspogiwang III/40 Semarang. Di tempat tersebut selain tidak memuaskan juga tidak bergaransi walau di papan reklamenya bertuliskan bergaransi. Setelah diperbaiki di bengkel tersebut, beberapa hari kemudian terjadi kebocoran yang ditimbulkan dari AC double blower mobil. Kemudian saya kembalikan ke bengkel sampai dua kali tapi pemiliknya berkilah, AC mobil saya sudah mengalami kerusakan lebih dulu. Namun setelah saya bawa ke bengkel lainnya ternyata kebocoran tersebut akibat baut yang ada di dalam AC double blower belum terpasang dengan benar sehingga air pembuangan yang seharusnya menetes ke luar malah masuk ke dalam mobil. Sigid Prasetyo Perumda Tembalang Baru 38, Semarang *** Untuk Mendiknas Saya sepakat dengan tulisan Sdr Ika Puspita mengenai "Jatuh cinta sejarah". Benar bahwa orang tidak akan belajar sejarah kalau tidak ada gunanya, sampai Presiden pertama kita pernah mengeluarkan filosofinya tentang "Jasmerah" yang mengandung makna, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Namun ironis, dengan kurikulum yang dipakai sekarang yakni KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang diistilahkan orang sekarang sebagai Kurikulum Kate Siape. Kurikulum ini sering membingungkan para guru yang dituntut untuk menyampaikan materi semenarik dan sekreatif mungkin, namun fasilitas dari sekolah tidak mendukung. Para guru mata pejaran Sejarah yang tadinya di tingkat SLTA baik kelas X maupun Program IPA mendapat jatah waktu 2 jam/minggu kini malah dipangkas menjadi 1 jam/minggu. Sungguh malang dan ironis nasib para guru sejarah yang ingin memperoleh sertifikasi dengan persyaratan harus ngajar 24 jam/minggu. Para guru sejarah ingin memajukan bangsa dan negerinya namun pemerintah melalui pembuat kebijakan dangan seenaknya memangkas jam pelajaran sejarah. Bagaimana bangsa ini bisa maju dan besar jika generasi mudanya tidak diajarkan pelajaran sejarah lebih mendalam, hanya 1 jam/minggu. Bukankah bangsa yang besar adalah yang cinta dan menghargai sejarahnya. Semoga Bapak Prof Dr Bambang Soedibyo mendengar suara ini dan para calon mendiknas mendatang nantinya membawa bangsa ini keluar dari keterpurukan. Nur Zaman SPd (085640009975) Jl PLN RT 2/RW 1 Bumiayu, Brebes *** Makna Kehidupan Saya siswa SMA Kolese Loyola Semarang merasakan ada beberapa hal, salah satunya tentang makna kehidupan sesungguhnya. Makna kehidupan menurut saya adalah sesuatu yang berharga karena sifatnya terbatas. Dapat diumpamakan, hidup adalah air di gurun yang jika jumlahnya sedikit maka kita sangat menghargai. Tetapi jika air itu berlimpah orang cenderung untuk membuangnya. Kehidupan merupakan sesuatu yang aneh, terkadang dapat menghargainya jika mendapat sesuatu yang baik, tetapi juga segera membuang ketika yang didapat adalah sesuatu yang buruk. Di dunia ada 2 tipe orang, yaitu yang memandang hidup sebagai hasil dan lainnya melihat hidup sebagai proses. Orang yang berpandangan hidup sebagai hasil, cenderung tidak dapat menghargai apa yang didapatkan jika ternyata itu buruk. Penyebabnya, orang ini tidak mampu menerima hasil kerja yang menurutnya tidak sesuai dengan pengorbanannya. Berbeda dengan orang yang berpandangan bahwa hidup sebagai proses, maka dia cenderung lebih bisa menerima hasil apa pun sebab dia sudah merasa melakukan yang terbaik. Hidup bak roda yang terus berputar. Jika hanya berpatokan pada hasil maka ketika hasilnya buruk maka akan menghentikan roda tersebut. Tetapi jika melihat hidup sebagai proses, maka akan tetap dapat menggerakkan roda tersebut walau dengan perlahan. Saya bukannya ingin memperlihatkan bahwa hasil itu tidak penting, tetapi melihat proses yang terkandung di dalamnya dapat menjadi lebih penting. Dari proses itulah semua dapat belajar menjadi lebih baik. Hidup bukan bagaimana mengakhiri tetapi bagaimana menjalani. Adrita Bima Adi Siswa SMA Loyola, Semarang |