logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Desember 2007 WACANA
Line

Wujudkan Masyarakat Kutu Buku

  • Oleh Abdul Waid

SEKITAR sepuluh tahun lalu, setelah International Association for Evaluation of Educational Achievement (IAEEA) memublikasi hasil studinya secara luas tentang tingkat melek baca siswa usia 9-14 tahun di 41 negara, kita sempat dikejutkan oleh kemampuan anak bangsa kita yang menduduki posisi kedua dari urutan paling bawah. Untungnya, pada siklus riset kedua (1998-2001) yang melibatkan 35 negara, Indonesia tidak dilibatkan, sehingga keterkejutan itu sempat reda sekitar beberapa tahun terakhir.

Pada 28 November 2007, IAEEA secara resmi memublikasi hasil risetnya tentang minat baca anak di 41 negara, termasuk Indonesia. Dalam riset itu, Indonesia masuk ke dalam kelompok negara belahan bumi bagian selatan bersama Selandia Baru dan Afrika Selatan yang data hasil surveinya telah dikumpulkan sejak November 2005. IAEEA memublikasi hasil temuannya pada 2007 dan database-nya tersedia luas pada 2008 (IAEA/PIRLS, 2006).

Mencermati minat baca anak bangsa sebenarnya tidak sederhana. Seperti dinyatakan Susan Burns (1998) dalam bukunya Starting Out Right, minat membaca merupakan suatu yang kompleks yang melibatkan keterampilan membaca sekaligus lingkungan yang melingkupinya. Keduanya saling bertalian. Keterampilan dibentuk karena proses pembelajaran, sementara itu lingkungan membaca merupakan efek latar kondisi masyarakat sekitar yang berpengaruh kepada pembiasaan membaca.

Pada masyarakat maju, membaca merupakan fenomena sosial yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas lainnya. Saat di rumah, mereka membaca, ketika bepergian mereka membaca, pergi ke perpusakaan mereka membaca, di sekolah atau kampus mereka membaca, bahkan ketika makan pun mereka masih menyempatkan membaca.

Andaikata dalam sehari mereka membaca 1.000 kata atau sekurang-kurangnya sama dengan membaca satu artikel penuh di Suara Merdeka, misalnya, dalam satu tahun syaraf mata mereka telah mengirimkan sinyal ke otak untuk menangkap makna dari sekitar 360.000 kata, atau setara dengan membaca enam buku setebal 200 halaman setiap tahunnya.

Tenteng Buku

Perhitungan tersebut boleh jadi merupakan jumlah minimal dari suatu kebiasaan membaca di negara yang sudah maju. Sebab, hampir rata-rata mereka menenteng buku ke mana pun pergi dan membacanya saat memungkinkan.

Satu hal menarik pada masyarakat Amerika Serikat, misalnya, mereka banyak yang menyukai buku-buku fiksi seperti novel. Bahkan di perpustakaan lokal, buku referensi yang terlampau akademis menjadi buku yang jarang dipinjam para pengunjung perpustakaan. Karena itu, buku yang banyak tersedia di perpustakaan lokal adalah buku-buku berkategori fiksi.

Fenomena itu sebenarnya menandakan bahwa mereka sudah menjadi life-time readers, yakni pembaca sepanjang hayat. Membaca bagi mereka merupakan kebiasaan yang menyenangkan dan telah menjadi hiburan yang bermanfaat. Dengan membaca, mereka juga dapat bercerita kepada temannya tentang apa yang telah mereka peroleh dari sejumlah buku.

Dalam konteks masyarakat maju seperti itu, benar apa yang dinyatakan Mark Twain bahwa orang yang membaca buku dapat memberikan manfaat bagi orang yang tidak dapat membacanya.

Pada dunia akademik seperti di perguruan tinggi, kelengkapan buku memang luar biasa. Perpustakaan kampus di Columbia University, misalnya, dapat meminjamkan buku untuk jangka waktu selama satu semester.

Jumlah buku yang dipinjamkan boleh lebih dari 50 eksemplar. Sementara itun pada perpustakaan lokal, anggota perpustakaan dapat meminjam sekitar 20 buku. Jadi, untuk seorang mahasiswa yang mengakses dua perpustakaan saja dapat tersedia 70 buku di kamar kosnya tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun untuk pengadaan buku. Hebatnya, buku-buku tersebut rata-rata buku baru.

Di sekolah, peranan perpustakaan juga sangat membantu siswa. Pada sekolah negeri (public school), setiap siswa memperoleh buku yang diperlukan untuk selang waktu satu semester. Begitu juga di sekolah swasta yang sudah lebih maju. Secara jujur kita tak dapat menafikan bahwa budaya baca masyarakat kita masih rendah. Meski rendahnya minat baca tidak pernah dapat diukur secara persis, indikator jumlah eksemplar buku yang diterbitkan setiap tahun barangkali masih relevan untuk memperkirakan kecenderung tersebut.

Ditambah lagi, hasil penilaian IAEEA merupakan suatu yang tak dapat dibantah, bahwa pada kenyataanya mayoritas masyarakat kita belum melek baca. Mungkin membaca hanya sekadar kebutuhan untuk memenuhi pelajaran di sekolah atau untuk pekerjaan tertentu boleh jadi cukup bagus; tetapi membaca sebagai kegemaran tampaknya belum melekat kuat pada sebagian besar masyarakat kita.

Yang menjadi persoalan sekarang adalah bagaimana membuat masyarakat agar memiliki kebiasaan membaca sebagai kegemaran dan kebutuhan sehari-hari. Itu tentu harus ada upaya untuk menggeser tradisi membaca pada masyarakat yang hanya membaca untuk kepentingan akademik atau pekerjaan ke arah tradisi membaca sepanjang hayat. Karena itu, dibutuhkan upaya-upaya untuk membuka ruang, akses informasi, dan partisipasi, secara luas agar masyarakat terbiasa membaca.

Kalau dipilah, strategi membangun budaya baca pada masyarakat kita ada beberapa cara yang dapat ditempuh. Pertama, sudah saatnya pemerintah khususnya pemerintah daerah, menyediakan fasilitas perpustakaan lokal. Perpustakaan itu bukan yang dimaksud dengan perpustakaan daerah seperti yang ada saat ini. Perpustakaan lokal harus tersebar pada beberapa titik kota dengan pertimbangan jarak radius tertentu antarperpustakaan. Atau paling tidak, pada setiap kecamatan ada perpustakaan lokal yang menjadi tempat bagi masyarakat untuk membaca koran, majalah, novel, cerpen, buku pelajaran sekolah, buku referensi, CD, kaset, dll.

Perpustakaan lokal itu sebaiknya didirikan dengan anggaran APBN atau APBD. Kalau suatu pemda dapat memberikan suntikan dana miliaran rupiah untuk olahraga sepak bola, mengapa membangun beberapa perpustakaan saja tidak bisa?

Kedua, diperlukan event-event yang menantang untuk membaca buku. Kegiatan seperti bedah buku, pameran, dan jumpa pengarang, perlu semakin digiatkan. Kegiatan semacam itu masih lebih populer dilakukan perguruan tinggi daripada di sejumlah sekolah/madrasah. Buku yang dapat didiskusikan dapat bervariasi. Buku-buku pelajaran yang baru terbit, buku untuk anak-anak, atau novel, dapat menjadi bahan kaya untuk dibedah di tingkat sekolah.

Ketiga, diperlukan peran yang lebih besar dari orang tua dalam mengarahkan minat baca anak. Peranan orang tua itu ternyata sangat penting dan signifikan terhadap kemampuan baca anak dan perkembangan intelektualnya.

Seperti dinyatakan Bernice Cullinan & Brod Bagert (1996) dalam bukunya Helping Your Child to Read, anak yang membaca bersama orang tuanya ternyata cenderung memiliki intelegensi, kemampuan membaca, penguasaan bahasa, dan keterampilan berkomunikasi dibandingkan dengan mereka yang kurang memperoleh bimbingan dari orang tuanya. Alih-alih, membangun masyarakat melek baca harus dimulai dari lingkungan keluarga.

Keempat, perlu peran yang lebih besar dari sejumlah penerbit buku dalam memasyarakatkan minat baca. Pemasyarakatan minat baca tidak cukup dengan pameran buku berdiskon harga, tetapi perlu adanya pendermaan yang lebih besar dari usaha mereka untuk pengadaan buku di sejumlah institusi pendidikan. Buku-buku yang kurang laku dijual, ada baiknya dihibahkan ke sejumlah lembaga pendidikan untuk melengkapi perpustakaan.

Kelima, lembaga pendidikan seperti sekolah perlu lebih cerdas dalam memilih buku yang berkualitas untuk bahan pembelajaran. Buku-buku yang menggunakan visualisasi gambar dan memiliki alur skema berpikir yang sistematis dapat menjadi pilihan bahan pembelajaran anak didik.

Selain itu pembiasaan anak untuk membaca teks narasi seperti novel, cerpen, cerita rakyat, dan buku cerita lainnya, akan membantu pembentukan konstruksi memori anak yang lebih beralur ketimbang hanya membaca buku-buku teks pelajaran yang sifatnya definitif. Kesenangan membaca buku kategori naratif itulah, sesungguhnya yang membedakan minat baca di negara maju dengan negara berkembang.

Lima strategi itu diharapkan mampu meningkatkan budaya melek baca pada masyarakat kita. Jika budaya baca menyebar bagaikan virus endemik pada masyarakat kita, tentu penghargaan terhadap ilmu pun menjadi meningkat.

Membaca adalah jabatan ilmu dan urat nadi kehidupan yang dapat menjadikan bangsa kita lebih terhormat. Kegemaran membaca juga diharapkan melahirkan kreativitas menulis yang sementara ini masih belum menjadi tradisi luas bangsa kita.(68)

- Abdul Waid, direktur eksekutif Lembaga Pendampingan Masyarakat (LPM ) di Yogyakarta


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA