logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Desember 2007 NASIONAL
Line

Waduk Gajahmungkur "Digugat'' Korban Banjir

MASYARAKAT Kabupaten Wonogiri, Sukoharjo, Solo dan Sragen (Jateng), Ngawi sampai Bojonegoro (Jatim) belakangan ini menjerit karena kebanjiran sungai Bengawan Solo. Di tengah penderitaan yang mereka alami itu, wajar kalau mereka ''menggugat'' apakah Waduk Gajahmungkur Wonogiri sekarang tidak lagi efektif sebagai pengendali banjir?

Gajahmungkur dikenal sebagai waduk legendaris yang diresmikan Presiden Soeharto 17 Nopember 1981. Pembangunannya memakan tumbal karena menenggelamkan 51 desa di enam wilayah kecamatan di Kabupaten Wonogiri. Juga memindahkan sekitar 61 ribu jiwa penduduk, yang sebagian ditransmigrasikan ke Sumatera.

Waduk ini berfungsi utama sebagai pengendali banjir. Juga untuk irigasi sekitar 30 ribu hektare (Ha) sawah di wilayah hilir (Sukoharjo, Klaten, Sragen, Karanganyar - Jateng dan Ngawi - Jatim), memberikan manfaat dari segi perikanan, produk daya listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan pariwisata.

''Katanya untuk pengendali banjir, tapi mengapa kami yang di Sukoharjo kebanjiran seperti ini,'' keluh H Sidik yang bermukim di Grogol Sukoharjo. Keluhan sama juga dikemukakan oleh Kasmadi yang rumahnya di Solo Baru terendam banjir. ''Ruas jalan raya Sukoharjo-Solo pun juga terendam banjir dan tidak dapat dilewati mobil,'' timpal Indra yang tinggal di Desa Gayam Kabupaten Sukoharjo. ''Jangankan Sukoharjo dan Solo, kami orang Wonogiri saja juga kebanjiran,'' ungkap Widi, warga Kedungringin Wonogiri Kota.

Keluhan senaha juga diungkapkan korban banjir di Sukorejo, Salak dan Sanggrahan. Rambat, petugas Sandi Telekom (Santel) Pemkab Wonogiri, merasa kewalahan karena setiap saat menerima telepon dari korban banjir wilayah hilir, yang menanyakan apakah Waduk Gajahmungkur jebol. Bahkan dari Pemkab Ngawi dan Bojonegoro Jatim, juga menanyakan hal sama, karena rumah warganya banyak yang tenggelam oleh banjir.

Pimpinan Proyek Bengawan Solo (PBS) Ir Imam Agus Nugroho Dipl HE melalui Kasi Monitoring dan Laporan PBS, E Liliek Dwi Sularyanto BE, Minggu (30/12) menegaskan, Waduk Gajahmungkur masih efektif sebagai pengendali banjir, utamanya dari Wonogiri sampai Solo. Sebab, pelepasan airnya terkendali hanya 200 sampai 300 meter kubik/detik. Debit ini terhitung sangat kecil bila dibandingkan dengan debit banjir tahun 1966, yang waktu itu mencapai 4.000 meter kubik/detik-bersamaan ketika Kota Solo tenggelam bagai menjadi lautan.

Saat ini, tandas Liliek, elevasi Waduk Gajahmungkur baru +136,49 meter atau masih di bawah elevasi normal +137 meter dari duga permukaan laut (DPL). ''Tidak betul kalau Gajahmungkur dituduh sebagai biang terjadinya banjir,'' tegas Liliek.

Banjir yang terjadi belakangan ini, disebabkan oleh tingginya curah hujan, yang menyebabkan banjir sejumlah kali di hilir, seperti Kali Jlantah dan Kali Samin di Sukoharjo dan Kali Dengkeng yang mengalir dari Klaten pada banjir dan meluap. (Bambang Pur-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA