| Senin, 31 Desember 2007 | NASIONAL |
Tyasno Usulkan Revolusi NuraniKEBUMEN- Mantan KSAD Jenderal (Purn) Ki Tyasno Sudarto mengusulkan perlu ada revolusi nurani dan tobat nasional guna mengakhiri krisis bangsa ini. Kalau mau jujur, bangsa Indonesia saat ini dalam keadaan krisis dan kritis serta carut-marut. "Bila kita tidak segera melakukan perubahan mendasar yang terjadi adalah bencana yang besar," tandas Ketua Umum Perguruan Taman Siswa itu. Dia mengatakan itu dalam Sarasehan Nasional Sangga Negara di Makam RM Kartodipoera di Bukit Indrakila, Desa Kretek, Kecamatan Rowokele, Kebumen, Minggu (30/12), Hadir anak cucu Ki Kartodipoera dari berbagai Tanah Air, Ketua DPRD Kebumen H Probo Indartono SE MSi dan Arembono dari FPDI-P. Dia mengaku bangsa ini telah keluar dari belenggu penjajahan dan meraih nikmat Allah, berupa kemerdekaan 17 Agustus 1945. Namun setelah itu bangsa ini lupa menghargai nikmat Allah. Bahkan cenderung melupakan Pancasila, NKRI dan UUD 45. Bangsa ini dilahirkan sudah memiliki fitrah dan kekayaan adanya kebhinekaan dari suku bangsa, budaya dan adat istidat. Namun belakangan perbedaan itu bukan sebagai perekat, namun malah menjadi akar konflik. Pancasila, lanjut Tyasno, diberikan Allah dan dirumuskan Bung Karno 1 Juni 1945 dari rangkuman keanekaragaman budaya dan kekayaan moral Indonesia. Pancasila tidak bertentangan dengan semua agama. Bahkan di dalamnya mengandung ajaran semua agama. Sayang, belakangan ini falsafah bangsa itu pun mulai dilupakan. Bahkan Tyasno mengusulkan dilakukan pertobatan nasional. Para pemimpin dan elite serta siapa pun harus mau bertobat. Bahkan perlu ada revolusi nurani untuk memperbaiki sikap mental menjadi lebih baik. "Saya sedih, penjajahan gaya baru kini nyata-nyata ada dengan eksploitasi ekonomi oleh sekelompok orang." Di sisi lain, dia mengkritik konsep politik kenegaraan Wakil Presiden M Yusuf Kalla tentang negara korporasi. Dalam pengertian corporate state, tidak masalah kekayaan bangsa ini dikuasai siapa pun, termasuk asing, asalkan rakyat bisa makan, cukup sadang dan pangan. Menurut Tyasno, pendapat itu keliru dan menodai semangat para pendiri bangsa dahulu. Buktinya, BUMN pun dijual ke asing. Bahkan keamanan dan pertahanan yang strategis pun juga dilego ke asing. Pengelolaan ladang minyak hampir semuanya kini dijalankan oleh asing. Termasuk di Blok Cepu.(B3-77) |