| Senin, 31 Desember 2007 | NASIONAL |
Jalur KA Semarang-Surabaya Putus
BOJONEGORO- Banjir di wilayah Bojonegoro sejak Rabu lalu menyebabkan jalur kereta api (KA) utara Semarang-Surabaya putus total. Penyebabnya landasan rel hilang tergerus air. Luapan air sungai Bengawan Solo telah menggerus landasan rel hingga sedalam dua meter. Akibatnya, rel beserta bantalannya melengkung dan menggantung di atas air. Menurut Kepala PT KA Daerah Operasi (Daop) IV, Rono Pradipto, ada lima titik rel di Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro yang menggantung, terletak antara Stasiun Kalitidu dan Stasiun Bojonegoro. Dari lima lokasi, empat di antaranya berada di Desa Sale dan sisanya di Desa Mayang Geneng. "Dengan kondisi rel yang seperti ini, kereta jelas tidak mungkin bisa melintas. Karena itu, seluruh kereta jurusan Surabaya dialihkan melalui jalur selatan dan status jalur utara Semarang-Surabaya menjadi waspada I," ujarnya saat mendampingi Direktur Teknik PT KA, Darmawan Daud, meninjau kondisi rel di Desa Mayang Geneng, Minggu (30/12). Kereta-kereta jurusan Semarang-Surabaya atau Jakarta-Surabaya seperti KA Sembrani, KA Gumarang, KA Anggrek, KA Kertajaya, dan KA Rajawali, terpaksa harus memutar melewati jalur Semarang Tawang-Brumbung-Kedungjati-Gundih-Solo Kota-Sragen-Madiun-Surabaya. "Dampaknya, kereta-kereta ini akan mengalami keterlambatan dari jadwal semestinya hingga tiga jam," katanya. KA lokal jurusan Semarang-Bojonegoro yaitu KA Feeder dan KRD, juga harus berhenti sampai Stasiun Cepu saja, sehingga banyak penumpang yang kecele. Rono menambahkan, belum tahu sampai kapan jalur akan kembali normal. Yang jelas, PT KA telah mengerahkan beberapa pekerja dan mengirim ribuan kubik material seperti kricak, pasir dan bantalan dari berbagai stasiun untuk menormalisasi jalur utara. Sementara ini, untuk mengangkat rel yang menggantung, PT KA telah menyiapkan beberapa buah penyangga besi. Tak Beroperasi Humas PT KA Daop IV, Warsono mengatakan, akibat hilangnya landasan rel, jadwal perjalanan KA Rajawali terpaksa ditiadakan mulai hari ini hingga 2 Januari. "Demi keamanan, kelancaran, dan kenyamanan penumpang, kami harus mengambil keputusan ini," katanya. Sejak Jumat (28/12), rel yang tergenang sudah mulai terkikis landasannya sedikit demi sedikit. Hingga Sabtu, landasan yang terkikis mencapai kedalaman dua meter. "Praktis sejak Sabtu jalur utara kami tutup dan dialihkan. Hari ini (Minggu-red), perbaikan baru dimulai," kata Warsono. Dia mengatakan, selain lima titik jalur rel yang menggantung, ada dua titik jalur lain yang terendam air cukup tinggi, yaitu Stasiun Tobo-Stasiun Kalitidu di KM 104+8/0 setinggi 55 cm dan antara Stasiun Cepu-Stasiun Tobo di KM 91+7/9 setinggi 38 cm. "Total ada tujuh titik rawan antara Cepu-Bojonegoro yang membuat jalur utara putus," ujar dia. Awalnya, panjang tujuh titik rawan yang tidak bisa dilalui adalah 270 meter. Namun hingga Sabtu malam, jumlah bertambah menjadi 350 meter. "Kondisi ini sewaktu-waktu bisa berubah, mengingat pintu Waduk Gajahmungkur telah dibuka," kata dia. Djamin (30), warga Dukuh Kenteng Kulon Desa Mayang Geneng mengatakan, hujan yang turun sejak Rabu telah menggenangi jalan Cepu-Bojonegoro dan rel kereta. Banjir kali ini adalah banjir terbesar kedua setelah tahun 1993. Sejak Jumat, landasan rel sedikit demi sedikit mulai tergerus air. "Waktu gerusannya masih sedikit, rel masih bisa dilewati sepeda. Tapi sejak Sabtu sekitar pukul 11.00 rel sudah menggantung," katanya. Sementara itu, sejak Rabu malam, Kecamatan Cepu lumpuh total akibat meluapnya Sungai Bengawan Solo. Ratusan rumah di sepuluh kelurahan yaitu Jipang, Gadon, Loram, Sumber Pitu, Getas, Balun, Janar, Cepu, Ngroto dan Ngeto terendam air. Bahkan di beberapa kelurahan hanya atap rumah saja yang terlihat. Ratusan warga mendirikan tenda pengungsian di sepanjang jalur rel, di gedung Sosono Suko dan tempat ibadah. Di Kudus Di Kudus, ratusan warga dari beberapa desa di Kecamatan Undaan bergotong-royong menambal tanggul Sungai Wulan yang jebol di Desa Undaan Kidul. Ribuan karung plastik berisi tanah uruk ditumpuk di tanggul berlubang itu. Ada tujuh titik bobol dan limpas di tanggul kanan sungai itu. Kerja bakti tersebut mendapat dukungan personel Kodim dan Polres Kudus. Puluhan relawan juga terlibat. Namun usaha secara manual tersebut tampaknya belum membuahkan hasil optimal. Genangan setinggi lutut bercampur lumpur menyulitkan upaya mereka. Meski beratus-ratus karung sudah disiapkan, tanggul yang jebol belum juga dapat diperbaiki. ''Warga dari beberapa desa sudah berusaha membuat penguat tanggul,'' kata Kades Undaan Tengah, Akrab. Menurut Kepala Kesbanglinmas, Ali Rifai, bila pembenahan tanggul dengan cara manual tidak berhasil baik, pihaknya akan mendatangkan buldozer. Pembenahan tanggul rusak memang menjadi prioritas untuk saat ini. Pasalnya, kemungkinan datangnya banjir susulan dapat terjadi. Itu dapat dilihat dari tingginya debit air hujan pada Januari-Februari. Koordinator Perkumpulan Petani Pengguna Air sistem Kedungombo, Kaspono, mengkritik usaha pembenahan tanggul secara manual. Bila upaya itu diteruskan pihaknya tidak yakin hasilnya akan maksimal. Selain penyelesaiannya akan membutuhkan waktu lama, kekuatan tanggul tentunya tentu dipertanyakan. Menurutnya, lebih baik menggunakan buldozer dan begu. Untuk menambal tanggul jebol dengan bantuan alat berat, diperkirakan bisa diselesaikan dalam waktu tiga atau empat hari. Sedangkan dengan cara manual, kemungkinan baru dapat selesai sepekan lebih. ''Kita harus waspadai banjir susulan karena Januari dan Februari curah hujan cukup tinggi,'' katanya. Benahi Rumah Meskipun genangan air di beberapa di Kecamatan Undaan sudah semakin surut, bukan berarti penderitaan yang mereka alami berkurang. Hingga kemarin siang, sejumlah warga masih disibukkan dengan kegiatan membersihkan rumahnya. Berdasarkan pengamatan di lokasi musibah, hampir semua perabot milik penduduk rusak. Mereka juga harus bekerja keras membersihkan lumpur yang memenuhi rumahnya. Kondisi itu jelas menyulitkan warga. Untuk sekadar memasak makanan bagi anggota keluarga pun, saat ini, bukan merupakan pekerjaan mudah. ''Perabot di rumah saya banyak yang rusak terendam banjir,'' kata warga Desa Undaan Kidul, Zainuri. Tak hanya itu, jalan Kudus-Purwodadi yang belum sepenuhnya terbebas dari lumpur membuat mobilitas warga terganggu. Bahkan, beberapa pengendara sepeda motor terjatuh akibat jalanan licin karena ada lapisan lumpur di atas jalan. Sampai saat ini pembersihan masih berlangsung dengan menggunakan begu dan bantuan pemadam kebakaran untuk menyemprot lumpur di jalanan. Data sementara yang dihimpun dari Posko Penanggulangan Bencana di kantor Kesbanglinmas, kerugian atas kerusakan infrastruktur akibat banjir mencapai Rp 250 miliar. Dalam musibah tersebut, tercatat 35.000 ribu rumah rusak. Kerusakan juga menimpa dua unit pasar, 55 mushala, 32 masjid, 46 SD, 2 SMP. Juga rumah dinas, kantor Koramil, Polsek dan Puskesmas masing-masing satu unit. Ada pula kerusakan menyangkut lima unit kantor pembantu puskesmas. "Kami memang meprediksikan kerugian sebanyak itu," kata Kepala Kesbanglinmas, Ali Rifai. Sejak Jumat (28/12), sekolah yang terendam banjir diliburkan. Untuk proses belajar mengajar selanjutnya, Dinas Pendidikan akan berkoordinasi dengan masing-masing kepala sekolah dan UPTD Kecamatan.(J8,H8,H35,H50-46) | ||||