logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Desember 2007 MURIA
Line

Pilih Tidur dengan Kerbau

DATANGNYA banjir yang tak pernah terduga membuyarkan sesuatu yang telah terencana sebelumnya. Termasuk acara pernikahan yang membutuhkan persiapan panjang. Namun, apa mau dikata, bencana tidak pernah berkompromi.

Kejadian itu dialami pasangan Faidhurahman (30) dan Sri Sulistyawati (24). Mulai Kamis siang lalu (27/12) seluruh fasilitas seperti tratag, ratusan kursi, dan gebyog penganten sudah terpasang.

Saat itu keadaan tanggul Sungai Wulan memang sudah kritis. Menjelang sore bocoran air mulai merangsek melalui tanggul tambahan yang dibuat warga. Karena rumah Faidurrahman RT 2 RW 3 Desa Undaan Kidul, Kecamatan Undaan, Kudus

tepat di sisi timur tanggul, pada saat bocor halaman rumahnya sudah terendam air. Sesuai rencana akad nikah dan resepsi dilakukan di rumah Faidhurrahman, Jumat pagi (28/12), tapi karena Kamis malam tanggul jebol rencana itupun gagal.

Menurut Hj Musyarofah (50), kakak kandung mereka mengubah rencana secara mendadak. "Akhirnya diputuskan untuk menikah di rumah Sri Sulistyawati, di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati." Tidak berbeda jauh dengan Faidhurahman, Kayat (55) warga RT 3 RW 2 Undaan Lor mengalami hal serupa. Hari Jumat rencananya ia mengadakan akekah putranya.

Kambing sudah disembelih, dan makanan sudah disiapkan. Namun, acara urung dilakukan karena warga sibuk mennyelamatakan diri dari banjir. Akhirnya, acara hanya berupa bagi-bagi makanan kepada warga yang tidak mengungsi.

Bersama Ternak

Di saat orang sibuk mengungsi ke tempat yang lebih aman, sebagian warga di Kecamatan Undaan justru memilih menunggui ternaknya. Mereka mengaku lebih tenang dengan bertahan di tanggul merawat rajakayanya. Meski pengungsian yang dibuat ditanggul tersebut jauh dari kondisi layak.

Yatinah (50), warga RT 4 RW 1 Desa Undaan Lor adalah contoh nyata. Perempuan itu membuat gubuk dari bambu lempengan gabus berukuran 1X2 meter di tanggul timur Sungai Wulan.

Di dalam gubuk reot itu hanya ada alas dari kardus dan kain. Sebuah termos air, kompor, dandang dan radio tua menjadi perabotannya. Di sisi kanan berbatasan persis dengan tanggul pemukiman darurat itu empat ekor kerbau tertambat pada pancang bambu. "Kalau saya ngungsi siapa yang mengurusi rajakaya saya."

Maklum, Jumadi (50) suaminya sudah tidak bisa kerja lagi. "Sudah dua tahun ini suami saya tidak bisa melihat dengan jelas. Makanya dia yang ngungsi ke tempat anak saya," kata ibu empat anak itu.

Untuk kebutuhan makanan Yatinah mengandalkan kiriman dari dua anak perempuannya Sutikah (30) dan Ngatemi (27) yang tinggal di Kecamatan Jati. Sedangkan dua anak laki-lakinya Nur Fatah (30) dan Edi (13) bergantian mengurusi kerbau dan rumah Yatinah yang tergenang air.

Masih beruntung Yatinah mempunyai cadangan air bersih dari sumur pompa, sehingga tiga hari ini ia tidak kesulitan mendapatkan air bersih.(Sony Wibisono-19)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA