logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Desember 2007 MURIA
Line

Harga Ungker Kalahkan Daging Sapi

BLORA- Ulat daun jati atau yang biasa disebut ungker kini sulit dicari. Hal itu menyebabkan harganya naik. Ulat berwarna cokelat kehitaman tersebut harganya melampaui daging sapi. Satu kilogram ungker ditawarkan Rp 50.000/kg, sedangkan daging sapi kualitas bagus dijual Rp 45.000/kg.

Rasmini (27), salah seorang penjual ungker di Desa Sambongrejo, Kecamatan Sambong, Blora menyatakan sejak beberapa hari terakhir makanan yang konon berprotein tinggi itu semakin susah didapat.

Dia mengaku tidak mengetahui apa penyebabnya, tapi berdasarkan pengalaman curah hujan tinggi menyebabkan perkembangbiakan ungker tidak sempurna. "Adanya ungker itu hanya di pergantian musim. Sekarang sudah masuk musim hujan, jadi sudah jarang,íí ujarnya, kemarin.

Berbeda halnya ketika awal musim hujan. Menurut Rasmini, saat itu ungker cukup banyak. Diduga, teriknya sinar matahari saat musim pancaroba mempunyai andil besar terhadap perkembangbiakan hewan tersebut.

Hujan yang turun sehari dilanjutkan dengan panas beberapa hari membuat ungker bermunculan. "Itu berdasarkan pengalaman saja. Yang betul bagaimana, saya tidak tahu.íí

Dia mengatakan, kali pertama muncul ungker dijual Rp 40.000/kg. Setelah makin banyak warga yang mencari di kawasan hutan jati Blora, harganya turun menjadi Rp 30.000. Selang beberapa minggu kemudian naik menjadi Rp 50.000/kg. "Harga tersebut masih bisa ditawar. Kalau cocok kami berikan,íí tandasnya.

Sri (45), penjual lainya, mengemukakan untuk mendapatkan ungker satu kilogram bukan hal mudah. Nenek dua cucu itu menyebutkan setelah melakukan pencarian selama empat jam lebih, dia hanya mendapatkan setengah kilogram. Mencarinya pun harus masuk hingga ke tengah hutan. "Di pinggir hutan sudah habis,íí katanya.

Dia menyatakan ungker didapatkan di bawah pohon jati. Daun jati yang rusak menandakan di bawahnya ada ungker. Guna memudahkan penjualan, yang diperoleh di tempatkan di keranjang plastik. "Kalau ditimbang kira-kira setengah kilogram,íí ujarnya.

Sri mengemukakan lantaran makin susah diperoleh, kini tidak banyak penjual di pinggir jalan di sekitar kawasan hutan jati Blora-Cepu. Padahal, sebelumnya di sepanjang hutan itu dengan mudah dijumpai penjual. "Penjual sekarang hanya ada di sekitar Buk Brosot,íí katanya.

Mereka jumlahnya tidak lebih dari tujuh orang. Menawarkan dagangannya kepada pengendara yang melintas. Waktu penjualannya pun terbatas. Para penjual yang membentuk beberapa kelompok itu hanya bisa dijumpai siang hingga sore hari. "Sejak pagi kami mencari ungker. Siangnya dijual. Kadang cepat laku namun sering juga sampai sore. Selama berjualan belum pernah tak laku," tandas Sri. (H18-19)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA