| Senin, 31 Desember 2007 | BUDAYA |
27 Maestro Seni Tradisi Terima PenghargaanJAKARTA-Sebanyak 27 maestro seni tradisi yang tersebar dari Sabang sampai Merauke menerima penghargaan dari pemerintah melalui Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar). Setelah memenuhi kriteria seperti kelangkaan tradisi, waktu menekuni tradisi paling tidak selama 20 tahun, usia lebih dari 50 tahun, kesiapan mewarisi keilmuan tradisi, dan dianggap masih perlu dibantu secara ekonomi, maka ditetapkan 27 nama seniman tradisional yang tersebar di seluruh Indonesia. "Pemberian penghargaan ini berangkat dari keprihatinan pemerintah atas kebudayaan kita yang sedemikan besar, dengan banyaknya maestro seni tradisi tapi pengetahuan mereka tidak ditularkan dan diwariskan ke generasi selanjutnya," ujar Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film (NBSF) Dr Mukhlis PaEni di Jakarta, baru-baru ini. Dengan diberikannya penghargaan berupa honorarium transfer pengetahuan tiap bulan sebesar Rp 1 juta, imbuh Dirjen NBSF, diharapkan para maestro seni dapat lebih berkonsentrasi menularkan keilmuan mereka atas penguasaan seni tradiri. "Honorariun transfer pengetahuan akan dihentikan jika para maestro itu dianggap tidak mampu lagi mewariskan keilmuannya," katanya. Pemilihan 27 nama itu melibatkan sejumlah pakar dalam bidangnya masing-masing seperti Dr Mukhlis PaEni, Romo Mudji Sutrisno, Nano Riantiarno, Prof Dr Achadiati, Prof Sardono W Kusumo, Prof Dr Sapardi Sjoko Damono, Prof Dr Ida Sundari Husen, Titi Said, dan Dr Pudentia MPSS MA. Menurut Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Dr Pudentia, MPSS, MA, timnya yang telah bekerja sejak bulan Januari lalu telah menjaring 50 nama seniman tradisi. Namun, setelah melalui proses seleksi yang sangat ketat, akhirnya ditetapkan 27 nama sebagai maestro seni tradisi. "Adapun dalam bank data kami di Indonesia kira-kira masih terdapat 300 sampai 400-an seniman tradisi yang tersisa," katanya. Untuk itulah, dia bersama Dirjen NBSF Depbudpar akan meneruskan tradisi mencari, menemukan, dan memberikan penghargaan kepada para seniman tradisi yang selama ini cenderung kurang mendapat perhatian pemerintah. Encim Masnah, 75 tahun, penyanyi klasik gambang kromong dari Tangerang, Banten yang datang dan mewakili ke-27 maestro penerima penghargaan, yang secara resmi akan diberikan pada bulan Januari mendatang, menyatakan kegembiraannya. "Selama ini kami berjuang sendiri untuk meneruskan warisan turun temurun orang tua kami. Penghargaan ini memberikan dorongan kami untuk makin giat mewariskan seni tradisi ini kepada generasi selanjutnya." Adapun penerima lainnya di antaranya Ki Sugito Adiwarsito (65), seniman wayang topeng pedalangan dari Yogyakarta, Karimun (87), seniman topeng Malang, Euik Muhtar (90), guru sinden dan rebab Bandung, dan Sermalina Maniburi (88), seniman tradisi Munaba, Waropen, Papua. (G20-45). |