| Minggu, 30 Desember 2007 | NASIONAL |
Nasib Wisudawan
KELUARGA Celathu sedang diliputi kebahagiaan. Untuk ukuran normal memang seharusnya begitu. Coba, keluarga mana yang tidak bungah, jika salah seorang anggota keluarganya, dinyatakan lulus menjadi sarjana dengan predikat cumlaude, berindeks prestasi 3,62? Sarjana lho, sarjana lho.... Ing atase Mbakyu Celathu statusnya hanya lulusan setingkat SMA, dan Mas Celathu cuma berpredikat ''DO'' alias drop out, lha kok bisa menghasilkan ''dokterandes''. Bukankah itu pertanda si orang tua telah berhasil memenuhi kewajibannya, memfasilitasi pendidikan anaknya? Memang, Mas Ndut, anak mbarep Mas Celathu, yang dari hari ke hari perutnya tambah buncit, kemarin termasuk salah seorang wisudawan dalam acara penobatan di sebuah sekolah tinggi. Dia sudah boleh menyandang gelar kesarjanaan, berhasil nangkring di level diploma empat yang setara dengan S1. Prestisius kan? Paling tidak, sekarang keluarga Celathu boleh mbagusi, misalnya, memajang rambu-rambu bergengsi di ruang tamunya: foto Mas Ndut berjubah hitam dengan toga bertengger di kepala. Dengan begitu, kelak setiap tamu yang singgah di rumahnya jadi tahu, ''Awas, di sini ada sarjana lho.'' Normalnya memang begitu. Persis yang kita jumpai di rumah-rumah keluarga normal pada umumnya. Malah terkadang, selain foto sang anak bertoga, dinding-dinding mereka kerap diimbuh hiasan tambahan berupa piala-piala kejuaran olah raga atau piagam-piagam penataran apa gitu. Tapi, berhubung keluarga Celathu bisa dikategorikan keluarga ''abnormal'', maka yang terjadi justru kebalikannya. Boro-boro memajang foto wisudawan bertoga di ruang tamu. Mas Celathu justru tampak sedih. ''Sampean itu ya aneh. Anaknya lulus kok malah mrengut? Mbok ya sedikit menghargai jerih payah anak yang sudah berjuang keras. Tidak gampang lho jadi sarjana itu,'' kata Mbakyu Celathu sambil mencolek suaminya yang masih njegadul. Dia meneruskan dengan agak merajuk, ''Sampean rak ya bangga ta punya anak sarjana?'' Sambil masih tetap bermuka kecut, Mas Celathu menjawab sekenanya, ''Yaaaahhh,... kalau mengaku bangga, bisa membuatmu bahagia, ya wis...bolehlah disebut aku sedang bangga. Lagian, aku kan sudah menyalami anakku. Sudah berterima kasih karena dia sudah memenuhi kewajiban, menyelesaikan sekolah. Tapi, yang jadi pikiran bukan itu.'' ''Lalu apa?'' ''Ya peristiwa di kampus anak kita tadi pagi itu. Setiap melihat acara seperti itu, ati saya selalu mak gregel. Trenyuh. Seperti mau nangis, tapi seperti ada yang ngganjel di telak,'' kata Mas Celathu lirih dengan nada rada bergetar. Mas Celathu lalu mengudari pikiran yang bergelayut di benaknya. Rupanya dia mengidap sindrom ganjil. Saban dia lihat foto-foto penobatan wisudawan di koran, apalagi menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri, Mas Celathu bukan melihatnya wajah ratusan anak muda dan keluarganya yang gembira berseri-seri. Tapi yang tampak di mata, adalah antrian pengangguran anyar yang mengular tambah panjaaaaang. Hari ini mereka tampak bersuka cita, saling berfoto dengan bibir tersungging melengkung ke atas. Tapi, lusa atau bulan depan, siapa yang bisa menjamin garis bibir mereka tidak melengkung ke bawah? Apakah Depnaker, Depdiknas, Depdagri dan Kementerian Pemuda, bisa memberikan kepastian atas ketersediaan lowongan kerja, sehingga arus gelombang sarjana-sarjana baru berusia muda itu, benar-benar bisa menjemput masa depannya dengan aman dan penuh kepastian? Rupanya, keperihatinan itulah yang membuat dadanya seseg. Lebih terasa menyesakkan lagi, karena di antara ribuan, juga mungkin jutaan sarjana baru itu, adalah anak sulungnya. Arus calon pengangguran yang menggelombang itu, seperti berbaris slow motion sambil tangan kirinya mengempit ijazah, dan satu tangannya lagi menadah minta jatah pekerjaan. Rombongan itu seperti gerak eksodus besar-besaran. Gerakannya serempak. Seperti wayang rampogan. Suaranya menggeremang. Pelan, tapi menakutkan. Karena yang tergambar kemudian, adalah ancaman setelah mereka gagal menembus lowongan kerja. Mungkin ketergelinciran menuju penyalahgunaan narkoba atau kriminal lainnya. Mas Celathu membatin, ''Oalaaah pemerintah-pemerintah, Sampean kok tega-teganya membudidayakan pengangguran? Terus, apa guna pendidikan jika setelah berani memalak bayaran tinggi, ternyata pendidikan tidak bisa menjadikan orang siap bertarung ke dunia kerja?'' ''Tapi lulusan macam anak kita, gampang cari kerja Mas. Dia kan sekolah multimedia. Zaman mendatang kan zaman digital. Pasti laku. Lowongan kerja tersedia di mana-mana,'' kata Mbakyu Celathu menggembosi kegusaran suaminya. ''Memang iya. Tapi ribuan, bahkan jutaan teman-temannya, lalu bagaimana? Kalau pabrik-pabrik pada gulung tikar karena kapok dipalak preman berseragam, kalau setiap usaha ditakuti-takuti gerakan anarki berkedok agama, kalau masyarakat masih juga berpikiran rasialiss dan selalu curiga terhadap kesuksesan ekonomi etnis tertentu, apakah masih mungkin tersedia lapangan kerja?'' sergah Mas Celathu dengan nada tinggi. Mbakyu Celathu mengulurkan sebatang kretek filter kepada suaminya. Maksudnya, biar emosi Mas Celathu kendor. Sambil menyulutkan api, Mbakyu Celathu bilang, ''Kalau toh pabrik-pabrik tutup, sarjana-sarjana itu kan selalu punya akal untuk bersiasat. Lha wong sebentar lagi bakal rame menyongsong 2009. Pasti akan banyak peluang kerja. Mau jadi apa saja bisa.'' Mbakyu Celathu lalu nyerocos menyebut sejumlah mata pencaharian yang datangnya cuma lima tahun sekali: penggembira kampanye, sablon kaos, demonstran bayaran, calo politik, satgas partai, desainer logo partai baru, bikin slogan. ''Dan anak kita, dengan ilmu multi medianya bisa bikin iklan partai politik. Jelas tidak bakal nganggur dia,'' kata Mbakyu Celathu gembira. Memang, ilmu multi media di era digital, selalu memberikan kemudahan kerja yang serba cepat. Bisa meringkas informasi, sekaligus bisa memoles dan membuat trik manipulasi. Yang busuk bisa dibuat segar. Yang kasar bisa ditampilkan lembut. Yang jahat bisa dicitrakan alim. Yang koruptor bisa dihadirkan suci. Yang pembunuh mahasiswa bisa disugestikan sebagai pengentas kemiskinan. Yang kriminal bisa dibesut jadi dermawan nan agamis. ''Wuuahhh,.... ilmu multi media memang jos tenan. Anak kita nggak salah milih sekolahan,'' ujar Mbakyu Celathu girang. Demi mendengar kegembiraan itu, Mas Celathu hanya membatin, ''Kalau setiap ilmu dan kepintaran hanya digunakan untuk membodohi masyarakat, lebih baik anak saya ndak usah jadi sarjana. Saya nggak rela anak saya jadi wisudawan. Biar pun yang dipoles untuk tahun 2009 itu pensiunan jendral sekalipun.'' Mas Celathu hanya berani membatin. Kalau sampai diucapkan, ia khawatir membuyarkan kebahagiaan istrinya yang sedang happy punya sarjana baru. (35) | ||||