logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 29 Desember 2007 SALA
Line

Kaleidoskop Kota Surakarta 2007

Usaha Mikro ''Naik Pangkat'', Usaha Besar Berkibar

2007 merupakan tahun bersejarah bagi usaha mikro yang biasa mangkal di pinggir-pinggir jalan. Mereka yang sebelumnya menempati gubug-gubug darurat atau tenda kumuh di pinggir jalan, dibangunkan shelter oleh Pemkot Surakarta. Mereka juga diberi gerobak seragam untuk jualan. Mereka tetap menempati lokasi pinggir jalan, namun lebih teratur. Pemandangan kota menjadi lebih indah, berdagang lebih tenang karena tak takut lagi dioprak-oprak Satpol PP.

Ini adalah kelanjutan program mengangkat harkat dan martabat wong cilik yang berwiraswasta di tengah kota, tapi tak mampu membeli tempat. Sebelumnya, pertengahan 2006, program dimulai memindahkan para pedagang kaki lima (PKL) dari Monumen Banjarsari. Ribuan PKL di sana dibangunkan Pasar Klithikan Notoharjo.

Uniknya, pemindahan ke tempat yang jauh lebih representatif ini, PKL menempati kios secara ''gratis''. Pola yang demikian, memang belum pernah terdengar. Yang biasa berlaku di mana-mana, setelah pasar dibangun, pedagang masuk, langsung keluar uang beli kios. Para PKL yang masuk ke Pasar Notoharjo, justru kebalikannya. Setelah masuk, baru mencicil setiap bulan.

Menutup tahun 2007, baru-baru ini Pemkot memberikan bantuan permodalan pada pemilik kios Pasar Klithikan Notoharjo ini senilai Rp 5 miliar. Meskipun omzet penjualan mereka hingga saat ini belum menggembirakan, tetapi upaya menata usaha mikro jenis PKL dengan pola seperti ini, di satu sisi merupakan usaha untuk mengangkat harkat dan martabat. Di sisi lain, akan membuat suasana pemandangan kota menjadi lebih indah dan teratur.

Penataan usaha mikro di pinggir-pinggir jalan itu sampai akhir 2007 masih terus berjalan. Di beberapa tempat, terutama di tengah kota, sekarang telah berdiri shelter-shelter untuk menampung PKL. Upaya mengangkat usaha kecil juga dilakukan Pemkot dengan cara merehabilitasi pasar-pasar teradisional. Maret 2007, pasar yang direhabilitasi : Pasar Harjodaksino, Pasar Kembang, Pasar Mojosongo, dan Pasar Nusukan. ''Ini untuk membantu rakyat kecil,'' jelas Kepada Dinas Pengelola Pasar Drs Satriyo Teguh Subroto.

Apartemen

Tahun 2007 Solo juga mencatat sejarah dalam pembangunan properti, utamanya apartemen. Hunian untuk kalangan menengah atas ini benar-benar hal baru bagi warga kota. Di sini memang telah banyak hotel berbintang menjulang tinggi. Juga telah berdiri rumah susun sewa (rusunawa). Tetapi untuk apartemen, ini kali pertama.

Pada tahap awal, tiga apartemen telah mulai dibangun. Apartemen ''Center Point'' yang dibangun PT Duta Mitra Propertindo ini berada di Jl Slamet Riyadi, menempati bekas bangunan Super Ekonomi (SE) atau Purwosari Plaza yang hancur karena dirusak massa pada 1998. Bangunan 23 lantai ini juga dilengkapi area bisnis.

Sedangkan Apartemen ''Kusuma Mulia Tower'', juga di Jl Slamet Riyadi (tepatnya sebelah kiri) ''Luwes'', dirancang sebagai apartemen yang menyatu dengan mal. Bangunan berlantai 17 ini dikelola Manajemen Swiss-bel Hotel International. Yang baru beberapa minggu lalu mulai dibangun, Apartemen ''Solo Paragon''. Apartemen ini sangat luas, di areal tanah 41.350 m2.

Bangunan yang rencananya terdiri atas empat tower ini menempati bekas gedung rumah sakit pusat. Bangunan milik investor besar ini tentunya untuk orang-orang berkantong tebal. Munculnya bangunan-bangunan komersial pencakar langit ini diharapkan akan memiliki kontribusi terhadap peningkataan kesejahteraan warga kota dan bukan sebaliknya akan menimbulkan masalah baru. (Subakti A Sidik-50)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA