| Sabtu, 29 Desember 2007 | WACANA |
Surat PembacaHukum Mati Pengkhianat BangsaDari cerita di zaman perjuangan '45, bila ada penghianat bangsa selalu dihukum mati dengan cara tembak langsung oleh pejuang. Maka kalau ada yang berkhianat pasti dihukum mati/tembak himgga keluarganya ikut malu karena dicemooh masyarakat. Tapi kini, di zaman merdeka (katanya), pengkhianat bangsa bebas berkeliaran di muka umum bahkan naik mobil mewah, tinggal di rumah mewah. Juga punya pembela/pengacara dan banyak backing. Mereka benar-benar bebas dan leluasa, masih mengumbar senyum, berbangga diri dan nampak sombong alias arogan. Mereka itu para koruptor, pembalak hutan, pejabat eksekutif dan legislatif yang ketahuan korupsi. Juga para oknum pejabat aparat hukum yang membebaskan, menghukum ringan atau memasilitasi pelarian penjahat kelas kakap. Pengkhianat bangsa juga berlaku bagi para pejabt penentu kebijaksanaan menyengsarakan rakyat di mana keputusannya tidak berpihak kepada rakyat. Misal impor beras yang menyengsarakan petani, menaikkan harga kebutuhan pokokdan BBM. Mereka yang mengingkari pasal 33 UUD'45 yang berbunyi, segala bentuk kekayaan alam (tambang) untuk kesejahteraan rakyat. Tapi kini kekayaan alam tersebut dijual/digadaikan ke bangsa asing akibat kebodohan dan ketamakan pejabat. Para pengkhianat bangsa ini dalam kebijaksanaannya juga sangat merugikan para buruh dan TKI/TKW yang notabene sebagai pahlawan devisa negara. Merekalah yang berjasa mengumpulkan dolar untuk pundi-pundi keuangan negara. H Erlangga Chandra (EI) Bantulan RT 1/RW 1 Banyudono, Boyolali. Tipuan Gaya Baru Sering dimuat di Surat pembaca mengenai berbagai tipuan, gendam yang dilakukan baik orang kita sendiri maupun orang asing. Berdasarkan cerita Sdr Ir Soetardi dari Salatiga yang nyaris menjadi korban, suatu saat dia menemukan bubuk sabun So Klin yang terbungkus rapi di depan rumahnya tanpa diketahui siapa pemiliknya. Di luar bungkus ada tulisan sabun berhadiah motor. Sesudah dibuka dan dibahas dengan keluarga (istri dan anak), ternyata ada suatu kartu kecil di dalamnya yang tercetak rapi dan memuat beberapa data dan tulisan antara lain, Selamat anda memenangkan hadiah utama satu unit mobil Avanza, hubungi 021 925562222, tulisan asli dengan nomor pin dari PT Wing Surya beralamat Jl. Gatot Subroto KV 47 Jakarta. Tapi dia sudah curiga sebab di bagian luar bungkus hadiahnya motor tapi di kartunya berhadiah mobil Avanza. Guna lebih meyakinkan, dia menghubungi nomor yang tertulis di kartu dan ada jawaban bahwa bulan ini yang mendapat hadiah utama hanya empat orang termasuk teman saya itu. Orang yang mengaku dari Wing Surya bertanya, butuh mobil Avanza berwarna apa ?. Hal ini menambah curiga. Ada lagi pernyataan mobil segera dikirim ke alamat dan agar segera mendapat plat nomor maka diminta transfer uang ke rekening yang disebutkan sebanyak Rp 2,9 juta. Teman saya minta tolong putranya yang ada di Jakarta, agar segera mencari kantor Wing Surya di Jl Gatot Subroto Jakarta. Si anak di Jakarta bertindak cepat, tetapi tidak langsung ke Jl Gatot Subroto, namun cari info dulu ke Telkom yang mendapat jawaban tegas bahwa PT Wing Surya tidak di jalan tersebut, tetapi di wilayah Cakung. Juga dikatakan, kartu yang diterima itu palsu jangan diurus lagi. Kesimpulan, setiap hadiah yang dijadikan iming-iming tetapi harus membayar dulu pasti tipuan. Awas dan waspadalah Moelyono HP Jl Banteng Utara VII/I, Semarang. *** Sepak Bola Kita Novelis, dramawan dan esais Prancis, Albert Camus (1913-1960) pernah berujar bahwa sepanjang keyakinannya mengenai moralitas dan tanggung jawab, dia berutang dari sepak bola. Misal dia sekarang masih hidup dan melihat drama yang terjadi di organisasi sepak bola Indonesia (PSSI), mungkin dia akan mati mendadak. Lihat saja, ketua umumnya Nurdin Halid harus masuk penjara tersangkut perkara korupsi. Kemudian badan tertinggi sepak bola dunia FIFA memerintahkan dilakukan pemilihan ulang ketua umum. Tetapi kalangan petinggi PSSI justru ramai-ramai ingkar demi mempertahankan kursi ketua umumnya. Kalau sudah begini, di mana moral dan tanggung jawab dari roh sepak bola itu di mata dunia. Dalam kemelut yang menyedihkan wajah sepak bola kita, di mana suara suporternya. Di antara ratusan ribu atau bahkan jutaan penggila bola di tanah air, apa benar-benar tidak ada sosok yang cerdas, punya nurani, moral dan juga aksi yang bertanggung jawab untuk ikut menyelamatkan sepak bola Inasional. Jock Stein pernah bilang, sepak bola itu omong kosong bila tanpa suporter. Maka sepak bola Indonesia juga hanya omong kosong bila para suporter sepakat untuk Iibur sementara waktu menonton semua pertandingan sepak bola kita, di tengah arogansi para petinggi PSSI-nya. Bambang Haryanto (08 1329306300) Jl Kajen Timur 72, Wonogiri *** Metode Cepat Belajar Alquran Banyak orang ingin belajar baca Alquran namun secara diam-diam. Mereka ingin orang lain menilai dia sudah bisa baca Alquran. Secara pribadi saya senang karena meski belum bisa, tetapi punya semangat belajar. Sebenarnya belajar membaca Alquran sangat mudah, asal ada kemauan bahkan belajarnya pun bisa relatif singkat. Hanya dalam beberapa waktu, orang bisa baca Alquran meski mulai dari nol atau belum bisa sama sekali. Berbagai metode banyak diajarkan, salah satunya metode al-Barqy karangan Ustadz Muhadjir Sulthon (alm) dari Surabaya. Metode ini digunakan sampai ke Malaysia dan Singapura. Metode ini cocok untuk rujukan, di samping membantu orang tua yang ingin belajar. Lepa Al-Barqy Semarang menerima mereka yang secara pribadi atau berkelompok belajar baca Alquran di Pancakarya Blok XXXIX/ 221 RT 9/RW 5 Rejosari, Semarang telp 024-3580317/085228205307. Agus Setyono Utomo *** Ingin Hibahkan Buku Buku adalah jendela informasi dan ilmu pengetahuan karena dengan buku bisa mengerti segala hal. Namun makin banyak yang ingin dipelajari dalam buku tersebut maka makin besar biaya yang dikeluarkan mengingat buku yang berbobot dan tebal halamanya makin mahal harganya. Dalam soal baca, kita jauh tertinggal dibanding negara tetangga apalagi negara maju. Berkaitan hal itu saya bermaksud menghibahkan ratusan buku bermutu berbagai judul seperti teknologi informasi dan komputer, agama, pendidikan, sejarah, seni, bisnis, matematika, cara mendidik anak, membuat origami, kesehatan, novel, sulap, daftar lembaga donatur, biografi orang terkenal resep masakan membuat lamaran kerja, membuat perjanjian bisnis, belajar bisnis strategi China dan lainnya. Dengan senang hati saya akan menghibahkan atau membagikannya kepada pembaca yang ingin terbuka wawasanya dengan membaca buku bermutu. Bila berminat silakan kirim data diri dan alamat lengkap. Subagyo JI Sidomulyo 256 Lebakbarang, Pekalongan *** Buat KTP Masal Tanggal 25 November 2007 Kelurahan Kebon Batur Bumi Pucang Gading Mranggen, Demak mengadakan pembuatan KTP secara massal. Bayangan warga yang belum punya atau habis masa berlakunya menyambut acara ini dengan antusias termasuk saya. Tetapi suasana di kantor kelurahan kurang nyaman, karena data dari warga ditumpuk jadi satu tanpa pembagian wilayah secara jelas. Sehingga berjam-jam warga menunggu giliran untuk foto tanpa ada kepastian dan akhirnya banyak yang mencabut data yang sudah ditumpuk. Suasanya makin semrawut ketika warga akan mengambil data sebab ternyata data itu diletakkan begitu saja di lantai tanpa ada yang mengatur dan bahkan ada yang hilang. Tujuan acara ini sangat mulia tetapi seharusnya ada koordinasi yang baik dari seluruh jajaran staf kelurahan dengan para ketua RW sehingga antrean bisa dikurangi. Kalau dari pihak penyelenggara terkoordinasi secara otomatis warga juga tertib. Mohon perhatian Bapak Camat Mranggen. Untuk warga, jangan mengedepankan emosi sesaat, mari berpikir jernih agar para aparat bisa lebih baik melayani masyarakat dan mengedepankan koordinasi yang baik. Retno Wahyuningsih SPd Jl Kebon Arum Selatan VII/9, Mranggen *** Tanggapan Pesona Sunset Manado Tua Membaca artikel di rubrik Jalan-jalan 2 Desember 200, saya teringat beberapa kali kunjungan ke Manado, pintu gerbang Bumi Nyiur Melambai yang memang patut mendapatkan nilai tertinggi dalam pelayanan publik. Betapa tidak? Tanpa ada jemputan, saya pernah tiba di Manado lewat pukul 22.00. Yang saya temui di bandara Sam Ratulangi adalah deretan papan informasi "biaya taxi" yang lengkap routenya, ditulis dalam huruf besar lengkap dengan besaran rupiahnya sehingga pendatang tidak takut dan tidak ragu menggunakan fasilitas umum tersebut. Saya paling suka tinggal dihotel dikawasan Boulevard, karena dari jendela kamar dengan sea view bisa sepuasnya memandang Gunung Manado Tua di tengah birunya laut. Persis di depan hotel ada Sunset cafe serta dermaga Blue Banter Marine untuk menikmati indahnya taman laut Bunaken dan lewat pintu belakang hotel, nyambung ke super market untuk beli oleh-oleh termasuk kacang goyang Manado. Manado kuliner bukan hanya sepanjang Boulevard, ada kolam pancing dan lesehan di Sonder, ada jagung rebus di Kakaskasen dan juga ada ikan bakar di tepian danau Tondano. Kalau di Semarang ada nasi kucing, di Denpasar nasi Jinggo, di Manado ada nasi kuning. Murah meriah, nasi kuning dengan lauk pauk bak nasi rames, dibungkus pelepah jagung. Menikmati Manado yang kontur tanahnya mirip Semarang (ada pantai, ada bukit juga ada pegunungan), bukan hanya kemegahan gedung Manado Convention Center dan deretan bermacam mal, cafe serta hotel yang bertumbuhan. Tetapi juga ada taman bunga di Tomohon, villa cantik di Pineleng yang notabene bersemayam makam Pahlawan Nasional Tuanku Imam Bonjol, resort dan villa artistik di rerimbunan pinus di kaki Gunung Lokon yang indah. Yang lebih membuat saya angkat topi adalah keramahan dan kedamaian penduduknya yang berbeda suku dan agama, bertaburnya gereja yang sebagian berdekatan dengan masjid. Ada Kampung Arab dengan masjidnya yang legendaris di tengah kota Manado. Demikian juga Kampung Jawa Tondano yang mayoritas beragama Islam karena tidak lepas dari sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro, termasuk makam Kiai Mojo beserta sekian puluh prajuritnya. Beristirahat dengan tenang di pangkuan bumi Minahasa yang indah. Bravo Sulawesi Utara, kita samua basudara. Bravo Manado, Kota Tinutuan Menuju Kota Wisata 2010. Dokter Sri Rahayuningsih MARS Jl Ketileng Raya D-1, Semarang *** Lagi, Printer Canon Melengkapi tulisan Bapak Ruslim Hendriana SPd di Karangmangu RT 2/RW 5 Kroya Cilacap di Surat Pembaca 5 November 2007 tentang Cartridge hitam yang mati dan tulisan Oscar Computer Bapak Edy Marsuki tentang tidak ada garansi pada cartridge, saya dari Pusaka Computer Sukorejo Kendal juga punya pengalaman serupa. Priter Canon IP 1880 yang baru 2 bulan dibeli pelanggan, cartridge hitamnya mati. Karena tahu tidak ada garansi maka saya melakukan pembenahan sendiri dengan cara menjemur cartridge selama 10 menit. Hasilnya cartridge hitam yang mati bisa hidup lagi. Namun baru dipakai 10 menit warnanya mati lagi sehingga harus diulang. Memang pada saat pembenahan memerlukan kesabaran karena tidak langsung bisa hidup dan perlu lepas - pasang cartridge berkali-kali. Namun akhirnya bisa dipakai semua tanpa harus membeli baru. Dari pengalaman tersebut saya percaya itu bukan produk gagal, karena pasti sudah diuji coba sebelum dilempar ke konsumen. Sebagai pemakai, perlu sabar merawat printer karena pada dasarnya peralatan komputer yang paling banyak membutuhkan perawatan adalah printer terutama pada cartridge. Bila cartridge tidak keluar tinta namun isi penuh, lakukan penyedotan pada head-nya atau dilap dengan kapas yang diberi air hangat. Dari pengalaman saya menyervis printer Canon yang belum saya dapatkan adalah program reseter Canon Di mana program tersebut bisa saya dapatkan. Mari saling berbagi ilmu agar hidup ini indah. Semoga pihak Canon bisa membantu memberi solusinya. Joko Nugroho (081326271595) Pusaka Computer Sukorejo, Kendal *** Soal Honor Guru Mencermati surat pembaca 4 Desember 2007 mengenai honor bagi guru mengaji/madrasah, saya ingin mengkoreksi bahwa sebenarnya mereka itu jangan hanya memikirkan honor saja karena guru mengaji/guru madrasah adalah profesi ibadah dalam rangka syiar agama Islam. Hal ini juga berlaku untuk sekolah Islam yang menjamur di kota ini. Bahkan juga negara ini apa pantas menyebut sekolah Islam bila masih mewajibkan bayar sekolah walau diganti namanya bukan SPP/BP3 tapi infaq, sedekah. Pokoknya harus bayar kalau tidak bayar dilarang masuk sekolah. Kalau mereka menuntut gaji/bayaran seharusnya tidak menjadi guru, tidak memakai embel-embel sekolah Islam. Kalau seandainya guru mengaji/madrasah juga sekolah Islam masih menutut gaji/bayaran, seharusnya mereka malu. Kalau alasannya ekonomi/kemanusiaan di mana orang hidup harus bekerja agar bisa makan pantas saja umat Islam terus terpuruk sebab para guru, ustadz, ulamanya komersil. Tri Wijanarko. Jl Srinindito Tmr II RT 6/RW 3, Semarang *** Jalan Berlubang Jalan berlobang di sepanjang Jl Barito Semarang mulai diurug dan di aspal. Ini menambah kenyamanan pengguna transportasi di jalan yang terkenal sebagai PKL loakan terpanjang di dunia setelah sekian lama terimbas rob yang mengakibatkan jalan rusak untuk aktivitas angkut manusia dan barang. Di tempat lain saya menemui jalan berlobang yang membahayakan pengguna jalan yakni di depan gedung Korpri Jl Ki Mangunsarkoro. Lobang ini dari kejauhan tidak kentara sebab amblas bersamaan dengan aspalnya. Kira-kira seukuran ember cucian dengan kedalaman empat puluh sentimeter. Mungkin dinas terkait dapat meninjau dan memperbaiki. Agus Eko Santoso SE Pondok R Patah Blok K1/21, Demak. *** Yudicial Review Lebih Jantan Menanggapi upaya yudicial review ke Mahkamah Agung oleh Sdr Asung Budianto SIP dan Sdr Sogol (SM 12 Desember 2007) atas 2 SK KPU Purworejo No 05/SK/KPUD/2005 tentang Penetapan Pasangan Calon Peserta Pemilihan Bupati/Wakil Bupati Purworejo Tahun 2005 dan No 12/SK/KPUD/2005 tentang Penetapan Pasangan Terpilih Bupati/Wakil Bupati Purworejo Tahun 2005, saya memberi komentar sbb: Yudicial review/uji materi justru jalan terbaik dan jantan untuk menunjukkan kesadaran hukum yang membanggakan sekaligus bijaksana. Menurut analisa saya, kasus ini bisa dilakukan dengan yudicial review sekaligus dibarengi laporan kepada aparat penegak hukum karena ada dugaan pemalsuan surat oleh pejabat publik. Tersangkanya bisa dijerat Pasal 263 ayat 1 dan 2 KUHP dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 6 tahun penjara bagi yang membuat maupun yang menggunakan surat palsu tersebut. Saya berharap masyarakat Purworejo berani mengemukakan pendapat karena dijamin UUD '45 Pasal 28. Hal ini agar semua pihak makin melek hukum secara komprehensif sehingga tidak perlu takut lagi pada intimidasi, ancaman, tekanan tindakan anarkhis dan sejenisnya. Ada polisi sebagai penegak hukum yang siap bertindak adil tanpa pandang bulu. Sekarang sudah bukan zamannya asu gedhe menang kerahe. Drs Sudarmo Subroto MM (0275 323195) Jl Jend Sudirman 44, Purworejo |