logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 29 Desember 2007 WACANA
Line

Mengamati ''Cinta Buta'' Nasabah Bank

  • Kiprah Dr Mutamimah, Dosen Unissula

CINTA itu buta. Begitulah pameo di kalangan remaja. Rupanya, fenomena psikologis yang memiliki gejala aksentuasi visual (semua tampak serba indah) itu juga menular ke kalangan nasabah bank syariah.

Tak peduli apakah lembaga perbankan itu bagus atau tidak, bagi hasilnya (setara bunga) besar atau kecil, yang penting menabung di bank syariah. Kesimpulan ini juga sesuai dengan hasil penelitian Dr Mutamimah, staf pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang.

Menurut dia, jumlah nasabah loyalis lebih besar daripada nasabah rasional. ''Keberadaan nasabah loyalis merupakan berkah bagi bank syariah. Te-tapi tak boleh hanya mengandalkan kalangan loyalis. Perlu memperluas pangsa pasar pada nasabah rasional,'' ujarnya.

Sebenarnya fenomena cinta buta ini juga terjadi pada bank-bank umum. Ada sebagian nasabah yang fanatik terhadap lembaga perbankan tertentu. Pokoknya jika nabung di bank ini pasti menguntungkan.

Penelitian Mutamimah ini merupakan kerja sama antara Bank Indonesia (BI) Cabang Semarang dan FE-Unissula. BI menargetkan share bank syariah terhadap bank umum bisa mencapai delapan persen pada akhir 2008. ''Penelitian ini berusaha memotret karasteristik dan prereferensi nasabah. Sedangkan hasilnya akan digunakan bank syariah dalam memperluas pasar,'' ujar doktor lulusan UGM ini.

Saat ini, bank syariah mengalami pertumbuhan menakjubkan. Populasi bank syariah hingga Oktober 2007 mencapai 28. Selain itu, masih ada 111 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Syariah. ''Total asetnya mencapai 33,02 triliun rupiah. Ini pertumbuhan yang luar biasa. Tak diduga bank syariah bisa diterima masyarakat dalam waktu singkat''.

Perkembangan menakjubkan ini, selain didukung oleh para nasabah loyalis, juga karena bank syariah profesional dalam melayani nasabah. Di antaranya pelayanan ramah dan cepat, didukung jaringan kantor dan ATM luas, serta sistem bagi hasil yang relatif lebih besar daripada bunga bank umum.

Menurut Mutamimah, bank syariah kini sudah memiliki brand image profesional serta modern. Makanya masyarakat tak ragu-ragu lagi menjadi nasabah. Bahkan banyak pula nasabah yang berasal dari kalangan nonmuslim.

Peneliti dari FE Unissula menyebarkan kuesioner kepada responden di lima kota (Semarang, Tegal, Pekalongan, Magelang, Salatiga) dan lima kabupaten (Kudus, Pati, Grobogan, Kebumen, Kendal).

Pemilihan daerah sampel itu ditentukan berdasarkan aset minimal bank syariah yang ada di kluster-kluster tersebut, yaitu Rp 900 miliar. Hasilnya bersifat deskripsi, yaitu potret karasteristik nasabah dan pemetaan potensi pengembangan.

Dominasi Perorangan

Dari penelitian ini disimpulkan, nasabah bank syariah masih didominasi perorangan. Pada kategori ini, unsur personal seperti agama, pekerjaan, penghasilan, dan peran sosial sangat memengaruhi pilihan.

Sedangkan nasabah korporat cenderung profit oriented. Mereka maunya meraup bunga besar saat menabung, dan dikenai bunga rendah saat berutang. Mengingat nasabah korporat memiliki nilai kapital besar, bank syriah mesti bergegas merebut pangsa pasar ini.

Bagaimana caranya? Mutamimah menganjurkan pihak bank melakukan promosi ke korporasi, dengan menekankan keunggulan-keunggulan finansial. Selain itu, bank syariah mau melakukan sindikasi agar mampu mendanai proyek-proyek besar. ''Bank umum pun melakukan sindikasi saat mendanai proyek besar. Apalagi bank syariah yang lebih memahami makna berjamaah,'' jelasnya.

Dari sisi marketing, dosen berjilbab ini menilai masih banyak promosi yang tidak mampu menjelaskan pengetahuan produk kepada konsumen. Ada kecenderungan marketter memasarkan produk dengan terminologi Islami, seperti murabahah, musyarakah, dan mudharabah.

''Istilah ini terdengar asing bagi sebagian masyarakat, apalagi bagi kalangan nonmuslim. Perlu inovasi dan kreativitas untuk menciptakan produk perbankan dengan nama-nama populer, tetapi tetap sesuai dengan syariah,'' sarannya.

Mutaminah meramalkan, perkembangan bank syariah ke depan makin menanjak. Berdasar penelitian, potensi korporat yang berminat menjadi nasabah bank syariah mencapai 28,46 persen. Kalau saat ini mereka belum menjadi nasabah, itu karena syiarnya (promosi) belum sampai. (Panji Satrio-32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA