| Kamis, 27 Desember 2007 | WACANA |
Surat PembacaArogansi PolisiTanggal 15 Desember 2007 saya kena tilang di arteri Jl Yos Sudarso Semarang gara-gara STNK dalam proses perpanjangan. Saya sudah jelaskan namun Pak Polisi tak mau peduli dan tetap menilang dengan biaya ''damai'' Rp 50.000 atau kendaraan disita. Setelah berunding, akhirnya saya putuskan ditilang saja dan saya diberi surat warna merah. Saya menolak surat merah tersebut dan meminta warna biru namun oknum petugas malah memaki-maki dengan kata-kata yang tak seharusnya dikeluarkan oleh petugas. Dia katakan saya goblok dan tak tahu aturan hukum karena surat warna biru sudah tak berlaku lagi. Namun sekali lagi saya sangkal dan mengajak dia ke pengadilan untuk membuktikan. Walau saya ''goblok'' namun masih sadar dan tahu hukum, eeh ... ternyata dia malah tambah marah serta memaki dengan wajah merah padam. Untung perdebatan sengit tersebut dilerai ''komandan'' tapi akhirnya saya diberi surat warna biru inilah salah satu contoh arogansi petugas di lapangan. Untuk pembaca, sekadar info jika ditilang maka perlu tahu bahwa polisi lalu lintas punya 2 slip yaitu warna amerah dan biru. Kalau warna merah berarti kita menyangkal melanggar aturan dan mau membela diri secara hukum. Prosesnya lewat sidang dan SIM/STNK nantinya diambil di pengadilan serta dendanya bisa lebih dari Rp 50.000. Tahu sendiri proses sidang yang berbelit-belit dan lama, belum lagi ulah para calo yang siap ''memangsa''. Sedang warna biru berarti kita mengakui kesalahan dan bersedia membayar denda (tak lebih dari Rp 50.000) dibayar di BRI dan dananya masuk ke kas negara. Terus tinggal ambil SIM/STNK di polsek di mana kita kena tilang. Dengan slip biru berarti kita turut menyumbang negara bukannya masuk ''kantong'' petugas hingga turut menyukseskan gerakan antikorupsi dan kolusi. Untuk Pak Polisi, mohon mengendalikan dan mengurangi sikap arogansi di lapangan. Jangan menolak dan menghindar jika pelanggar lalu lintas meminta slip warna biru. AB Kuduma SKom Beringin Putih D-II/14 Ngaliyan, Semarang Kecewa Seleksi CPNS Dosen FKIK Unsoed Saya peserta seleksi CPNS dosen di FKIK Unsoed dengan kualifikasi akademik dokter umum. Awalnya saya senang ketika lulus seleksi tahap I bersama 5 dokter umum lainnya. Namun setelah mengikuti tes tahap II, justru jadi kecewa. Seleksi terdiri 2 macam yaitu psikotes dan wawancara yang dilaksanakan 14-15 Desember 2007. Saat itu panitia mengatakan tidak ada prioritas/perlakuan khusus untuk tenaga honorer. Namun kenyataannya hal tersebut tidak terbukti pada saat wawancara. Dari 6 calon, ternyata 3 di antaranya telah menjadi tenaga honorer di FKIK Unsoed. Pewawancara telah mengenal baik ketiga tenaga honorer tersebut. Yang saya sayangkan, wawancara dilakukan oleh orang yang mengenal baik orang yang diwawancarai. Hal ini menyebabkan netralitas dan profesionalisme dan pewawancara dipertanyakan. Inilah awal dari kekecewaan saya. Wawancara yang biasanya satu persatu, justru dilakukan 2 orang sekaligus. Satu calon dari tenaga honorer berpasangan dengan 1 calon luar. Pewawancara mengajukan pertanyaan kepada saya sampai selesai secara formal. Tapi, ketika saya menjawab justru dia sibuk merapikan berkas. Setelah itu wawancara dilanjutkan kepada calon dari tenaga honorer dengan pertanyaan yang sama persis, dan diselingi canda tawa. Tentu saja hal ini merugikan saya, karena dia telah mengetahui pertanyaan yang sebelumnya diajukan kepada saya dan punya waktu lebih untuk berpikir serta memperbaiki/melengkapi jawaban saya. Bahkan, ketika tidak bisa menjawab pertanyaan dengan tepat, pewawancara malah membantu mengarahkan pada jawaban yang benar. Apa benar tidak ada prioritas untuk tenaga honorer. Kalau tes ini hanya sekadar formalitas, mengapa diadakan open recruitment yang akhirnya mengecewakan banyak orang.Namun bila bukan formalitas, mengapa pewawancara tidak bersikap profesional. Satu lagi yang ingin saya tanyakan, mengapa formasi untuk kualifikasi dokter umum yang pada awal pengumuman CPNS dosen di FKIK Unsoed hanya ada satu, kemudian menjadi dua pada pengumuman tahap berikutnya. Apakah tambahan satu jatah ini dimaksudkan agar tenaga honorer yang terserap makin banyak? Dokter Fita Nuratri Kutabanjarnegara RT 5/RW 3, Banjarnegara *** Dikecewakan Kelapa Gading Square Saya membeli 1 unit apartemen di Kelapa Gading Square Tower Lyon Garden Lt 12 I S Jakarta secara tunai (fotokopi kuitansi terlampir) karena saat penawaran pengembang menjanjikan penyerahannya pada akhir tahun 2006 atau paling lambat Januari 2007. Angan-angan saya, awal 2007 sudah bisa ditempati anak yang kuliah sehingga tidak perlu lagi membayar uang kos. Namun ternyata hanya impian kosong karena sampai saat ini pembangunan apartemen tersebut belum selesai. Yang mengecewakan adalah, penyerahan unit molor 1 tahun 6 bulan.(dijanjikan sekitar Juni 2008). PPJB yang saya tanda tangani pada 23 Mei 2007 (sudah 6 bulan) belum juga jadi dengan alasan tidak masuk akal (belum ditandatangani pimpinan). Pada saat penawarkan, mereka menjanjikan Iantai 12 bebas pandang dan tidak tertutup bangunan karena di depan hanya ada bangunan mal berketinggian 3 Iantai. Namun kenyataannya saat ini di atas mal dibangun The Villas (3 lantai) yang pada menutupi pandangan dari unit di lantai 12. Saya sudah mengajukan pindah unit ke Lt 20 dan disetujui dengan menambah biaya Rp 15 juta bayar di muka (meski pun unit belum jadi). Saya menyanggupi membayar setelah penyerahkan, namun mereka menolak. Padahal saya sudah membayar lebih dari Rp.520 juta, belum mendapatkan hak seperti mereka janjikan. Bukankah kebijakan ini merugikan konsumen. Kalau uang didepositokan (lama 1 tahun 6 bulan) berapa kerugian saya. Belum lagi uang yang saya keluarkan untuk membayar kos anak. Sungguh ironis dibandingkan iklan Kelapa Gading Square yang gencar ditayangkan di teve. Semoga tidak ada lagi konsumen lain yang dikecewakan seperti saya. Budhi Hartono Jl Ki Mangunsarkoro 73, Semarang *** Stop Kemaruk Malam tahun baru tahun lalu, seorang teman membelanjakan mercon sesdor mencapai ratusan nbu rupiah. Katanya, sayang malam istimewa kok dilewatkan tanpa pesan dan kesan. Saat itu saya jadi kayak orang kuno karena ngunduri umur, beberapa kali malam tahun baru lewat begitu saja. Ya paling nonton teve sampai agak Iarut malam. Gitu aja. Tapi saat itu memang pos kamling kampung jadi ramai orang lek-lekan. Sambil guyon mereka bilang, ngiras-ngirus ngurangi jatah wajib jaga kamling. Tapi yang agak menarik, teman tadi seminggu kemudian pinjam duit buat beli beras. Melihat ini saya coba menelaah lebih dalam. Ternyata, orang sering terbalik-balik. Yang primer dijadikan sekunder, sebaliknya sekunder dijadikan primer. Sering juga orang memaksakan diri kredit motor. Begitu nggak bisa ngangsur, motor pun ditarik dealer. Tapi walau begitu dia masih bisa berdalih, katanya idhep-idhep nyewa motor. Tahukah, sikap kemaruk ini aslinya sudah ketinggalan zaman. Di San Fransisco Amerika, telah muncul kelompok antikonsumerisme The Compact yang didirikan justru oleh orang-orang kaya. Pola yang dipakai, sistem barter antar 4000-an anggotanya. Bila barang yang diinginkan tidak ketemu, mereka mencari di pasar loak. Hanya kebutuhan dasar dan pokok saja yang mereka konsumsi seperti odol, sikat gigi, sabun, deterjen, sampo, makanan, minuman. Itupun tidak berlebihan. Ini bukan hendak kembali ke zaman Flinstone tapi hasil pemikiran orang modern di sana. Mampukah kita memodifikasi semangat The Compact di tengah kultur masyarakat timur. Meski konon keroyalan kita terkenal sampai luar negeri. Bahkan berhaji pun mencuri kesempatan untuk royal. Dalihnya, pergi jauh ya pulang bawa cangkingan. Noor Rofiq Jl Wamena V/228-229, Ungaran *** Kata "Daripada" Ini menyangkut penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Sering mendengar dalam pergaulan sehari-hari, entah itu di kalangan orang awam atau para pejabat mengucapkan kata "daripada". Dia mungkin tidak menyadari, kata tersebut salah tempat atau yang lazim saya sebut salah kaprah. Contoh, "... untuk menurunkan angka kemiskinan adalah menjadi tanggung jawab daripada kita bersama...". Kesimpulkan saya, kata ''daripada'' bermakna milik. Padahal arti dan tujuan pemakaian kata ini sebenarnya merupakan nilai banding atau dipakai sebagai perbandingan antara dua hal yang berlawanan. Contoh, "... Si A kemampuan menyelesaikan tugasnya lebih baik daripada B...". Inilah yang saya maksud bermakna nilai banding dalam penggunaan kata tersebut. Mari gunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar untuk berkomunikasi. Bahasa Indonesia adalah suatu tata bahasa yang indah dan selayaknya wajib memelihara sebagai warisan leluhur. Sekali lagi, gunakanlah bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Djarot Sudjanarko Jl Gaharu Raya 221 Banyumanik, Semarang *** Soal Sosis Fiesta Keluhan saya di Surat Pembaca 13 Desember 2007 berjudul "Sosis Fiesta Basi" mendapat tidak lanjut dari pihak perusahaan tersebut maupun ADA Siliwangi Semarang. Saya ucapkan terima kasih atas tanggapan bahkan utusan mereka yang datang ke rumah hari itu juga. Mereka menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut. Sehingga tidak ada permasalahan lagi dan produk pengganti sudah saya terima. Sebagai perusahaan nasional PT Prima Food selaku produsen telah memproduksi makanan berkualitas dan aman serta melalui quality control sudah sesuai prosedur. Jadi tidak perlu ada kekhawatiran mengkonsumsi. Nurul Bariroh (08156525625) Bukit Permata Puri DXB/9, Semarang *** Layanan RS Sultan Agung Kejadian ini saya alami 10 Desember 2007 saat istri rawat inap di kelas I RS Sultan Agung Semarang karena didiagnosa menderita demam berdarah dan typus. Di kamar, perawat menelepon dan menanyakan apakah akan menggunakan obat standar Askes atau resep dokter. Sebagai PNS, istri saya menyanggupi menggunakan Askes dengan mengisi blanko penggunaan obat standar Askes. Pada hari itu juga saya disodori blanko persetujuan tes diagnosa seharga di bawah Rp 200.000. Perawat juga menjelaskan jika pengeluaran untuk obat di atas Rp 100.000 akan selalu memberitahu dan meminta pesetujuan pasien/keluarga. Pelayanan kurang memuaskan karena infus habis tapi perawat tidak melakukan pengecekan. Bahkan perawat menyalahkan saya kenapa tidak memberitahu petugas kalau infus habis. Sebenarnya ini tugas siapa?. Menjelang pulang 14 Desember 2007 saya kaget karena disodori biaya tagihan sebesar Rp 3.608.000, karena perawat tidak pernah meminta persetujuan obat di luar Askes. Kesepakatan semula, menggunakan standar obat Askes dan ada persetujuan pasien. Setelah dikurangi Askes sebesar Rp 518.000, maka saya harus membayar Rp. 3.090.000 (kuitansi terlampir). Saya berusaha klarifikasi bahkan bertemu dengan salah satu pimpinan RS. Beliau mengakui terjadi miskomunikasi karena perawat tidak memberitahu ke dokter tentang pemakaian Askes tersebut. Namun tidak ada penyelesaian yang memuaskan. Hanya permintaan maaf yang saya terima. Inikah yang dinamakan pelayanan dan di mana tanggung jawab atas rniskomunikasi yang merugikan pasien. Atau hanya sebuah permintaan maaf tanpa ada tindakan/kompensasi lain yang saya dapatkan. Semoga orang lain tidak mengalami peristiwa seperti ini. Sugiyanto Pondok R Patah Blok N I/17, Demak *** Operasi Yustisi Kota metropolitan Jakarta yang bergelimang uang memimpikan berjuta keberhasilan guna mendapatkan nasib/pekerjaan bagus bagi perantau. Urbanisasi bikin sesak dan sarat berbagai tindakan serta gejolak kepentingan yang berakar kebutuhan hidup hidup yuang makin meningkat. Razia KTP dan operasi lain oleh Pemprov DKI Jakarta dimaksudkan untuk mendapatkan ketertiban dan keamanan. Alangkah baiknya dalam penerapan operasi yustisi didukung berbagai pihak dengan rasa kesadaran penuh masyarakat, bukan oleh warga Jakarta saja. Jelas operasi ini bertujuan ketertiban dan keamanan di tingkat yang lebih tinggi karena ibukota sudah sarat dengan berbagai permasalahan. Misal kehidupan keras memengaruhi jiwa seseorang dalam berpikir dan berpola hidup hingga tercipta kondisi yang tidak mengedepankan rasa dalam diri manusia. Namun diingat dalam operasi justisi harus mengedepankan rasa kemanusiaan yang lebih tinggi, mengapa pendatang harus urban ke Jakarta ?. Hal inilah yang perlu dikaji berbagai pihak di daerah asal, kenapa warganya harus ke Jakarta. Semua perlu mencari terobosan, tepatkah bila kaum urban harus dipulangkan ke daerah. Sedang pemda setempat tak pernah menjamin dengan berbagai fasilitas atau permodalan. Program pertumbuhan ekonomi pedesaan seakan hanya slogan belaka sebab hanya dinikmati segelintir kelompok. Operasi yustisi seyogianya mendapat tanggapan pemda agar memperdayakan ekonomi daerah atau pedesaan. Pemda harus mampu menciptakan kesempatan berusaha demi terciptanya sentral ekonomi yang dapat mengurangi kesenjangan dan pengangguran hingga mencapai kesejahteraan warga. Sudah sepantasnya pemda memberikan ruang bagi masyarakatnya dengan peningkatan skill dan sumberdaya yang tinggi sehingga masyarakat dapat bernapas lega hidup di pedesaan. Tinggal bagaimana memperdayakan mereka dengan berbagai kebijaksanaan di bidang ekonomi demi meningkatkan kesejahterakan rakyat. R Puji Prapto Ujiatmo Lambur RT 1/RW 1 Mrebet, Purbalingga *** Uneg-uneg dari Pencari Kerja Saya pernah bekerja 1,5 tahun di pabrik meubel besar tapi karena kesehatan menurun saya putuskan mengundurkan diri. Kemudian saya buka rental komputer, namun baru berjalan 8 bulan ada razia hingga terpaksa tutup. Beberapa waktu lalu ada tawaran kerja, tapi belum terlaksana saya kecelakaan akibat ulah pengendara yang tidak bertanggung jawab. Awal November ada panggilan di sebuah perusahaan PT sekalian lamar formasi cpns mumpung di Semarang. Mari ciptakan lapangan kerja sendiri dan tak usah gengsi walau sarjana atau bukan. Jual gorengan atau apa saja yang penting halal. Retno Prihatin Setiyani Jl Jati Kulon II/67, Kudus *** Natal Ketika manusia bergelut dengan dosa Makin dalam jatuh lembah kematian Tiada lagi harapan yang tersisa Untuk lepas dari belenggu iblis durjana Karena Allah itu Pengasih dan Penyayang Tak membiarkan manusia mati binasa Pengampunan dosa, adalah Kasih Karunia Bukan perbuatan baik dan terpuji Dia menjelma dengan wujud manusia Lahir dari perawan sederhana Lihatlah malaikat bernyanyi merdu Memuji Sang Saja Surgawi Yang datang kedunia fana Untuk menebus dosa umat manusia Darah suci yang mengalir di Golgota Membasuh dosa kita semua yang berkenan kepadaNya Selamat datang Yesus Tuhanku Terima kasih atas anugerahMu Kini kami menanti, kedatanganMu yang kedua Tuk mengangkat umat pilihanMu Andreas Adhy Aryanto Jl Hayam Wuruk 62, Purwodadi |