logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 27 Desember 2007 MURIA
Line

Rasa Durian Lokal Lebih Mantap

  • Oleh Ruli Aditio

DURIAN mungkin salah satu buah yang cocok dinikmati saat cuaca dingin pada musim penghujan. Karena saat menyantapnya, perut akan terasa hangat. Desember, musim durian tiba. Banyak para pedagang buah yang menjualnya. Namun, ada juga pedagang musiman yang membeli durian langsung dari petani dan kemudian menjualnya kembali.

Salah seorang dari mereka adalah Mugiarto (40), warga Desa Beji, Kecamatan Undaan. Dia pedagang buah di salah satu ruko Jalan Sosrokartono Kudus. Karena saat ini musim durian, dia membuka lapak tambahan khusus durian di Jalan Diponegoro Kudus yang jaraknya sekitar 100 meter.

Meski dia baru menggelarnya dua minggu, sudah banyak para calon pembeli berdatangan. Memang saat ini harganya masih agak tinggi karena baru pada awal musim dan banyak yang mencarinya.

Durian-durian ini dijualnya Rp 20.000-Rp 40.000 namun para pembeli masih bisa menawarnya saat membelinya dari pemilik kebun harga sudah tinggi. Menurut Mugiarto, harga itu sudah terbilang terjangkau dan pembeli boleh menawarnya. "Pembeli saya persilakan menawar dan bisa mencicipi dulu," ujar dia.

Durian itu kebanyakan didatangkan dari Jepara dan Pati. Akan tetapi, ada beberapa yang didapat dari Dawe, Kudus.

"Biasanya, orang-orang menyebutnya durian lokal. Karena jika dilihat dari bentuk fisiknya, tidak terlalu besar," ucapnya.

Banyak para pembeli yang menyukainya karena bentuknya kecil, tidak merepotkan saat akan dibawa ataupun saat dibuka. Meski berbeda dari jenis durian lain yang harganya lebih mahal, paling murah di atas Rp 20.000.

Ike (24), karyawati sebuah instansi pemerintah, bersama keluarganya membeli untuk dibawa pulang ke daerah asalnya, Semarang, untuk oleh-oleh.

Tidak Sebanding

Menurut wanita itu, rasanya lebih mantap dibandingkan dengan durian jenis lainnya yang terkadang bentuk dan ukurannya lebih besar namun tidak sebanding dengan isinya yang lebih sedikit.

"Jenis durian lokal, jika dimakan rasanya lebih mantap, ukuran beton (isi durian) lebih kecil dan dagingnya tebal," ungkap dia.

Setiap hari, Mugiarto membawa 40 durian untuk dijual dan rata-rata dia mampu menjual dua sampai lima buah per hari.

Sebenarnya dia bisa lebih banyak menjual duriannya. Namun karena cuaca hujan terus-menerus, banyak konsumen yang enggan keluar rumah. "Biasanya kalau tidak turun hujan pembeli ramai, bisa sampai sepuluh buah. Namun karena cuacanya seperti ini, hanya laku sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali," ujar dia.

Cuaca merupakan kendala baginya dan memang berpengaruh pada keuntungan penjualan yang tiap hari lebih kurang Rp 200.000. Dia pun berdagangan pada pukul 10.00-22.00 agar cepat habis dan dapat mendatangkan durian lagi. (69)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA