| Kamis, 27 Desember 2007 | SEMARANG |
Tak Ada Biaya, Anak Tanpa Anus Gagal DioperasiUSIA Marcelino telah menginjak lima tahun. Namun, semakin bertambah usia, beban putra dari Sri Ariastuti, warga Prampelan Kelurahan Blotongan Salatiga itu, bakal bertambah berat pula. Cacat lahir karena tidak memiliki anus , semakin membuat kondisinya memprihatinkan. Marcelino yang kini tinggal bersama ibu dan neneknya tersebut merupakan buah hati harapan ibunya, apalagi setelah ayahnya pergi meninggalkan keluarga. Namun saat lahir baru diketahui, dia tidak memiliki anus. Sehari setelah lahir 31 Maret 2002, direncanakan operasi. Tetapi karena tidak ada biaya, sedangkan untuk operasi membutuhkan uang puluhan juta, sehingga dibatalkan. Sebuah rumah sakit di Kota Semarang batal mengoperasinya karena tidak ada biaya. Terpaksa dibuat lubang sementara untuk membuang kotoran makanan di perutnya. Sambil menunggu mengumpulkan uang untuk operasi membuat anus layaknya anak normal. Tetapi, rencana itu tinggal kenangan saja karena uang untuk operasi tidak juga terkumpul. Anak tersebut kemarin dibawa ke Departemen Wanita DPC PDI-P saat digelar pengobatan gratis dalam rangka Hari Ibu di kantor DPC Jalan Soekarno-Hatta, Minggu (23/12) siang. Kontan, Marcelino menjadi pusat perhatian warga yang mendatangi pengobatan gratis tersebut. Sri Utami Djatmiko, ketua Departemen Wanita DPC PDI-P mengatakan, Marcelino datang bersama neneknya Siti Maimunah untuk mendapatkan pengobatan gratis. ''Di samping itu PDI-P akan bersama-sama siapa saja yang ingin membantu mengupayakan mencari dana untuk pengobatan dan operasi Marcelino,'' terang Sri Utami didampingi Ketua DPC PDI-P Teddy Sulistyo SE. Menurutnya, Marcelino dan keluarganya butuh uluran tangan agar anak itu tidak mengalami cacat fisik lagi. Bisa dibayangkan, bagaimana susahnya ketika akan buang air besar. Bahkan dalam beberapa hari Marcelino bisa tidak buang air besar, lantaran kesulitan mengeluarkannya. ''Kalau tidak bisa buang air besar, perutnya membesar,'' ujar neneknya. (Surya Yuli P-41) |