logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 26 Desember 2007 SALA
Line

Kaleidoskop Kota Surakarta 2007

Spirit Heritage di Tengah Gonjang-ganjing DKS

KALAU ada pertanyaan apa yang menarik dari peristiwa budaya sepanjang 2007 ini, Solo boleh jadi akan berbeda dengan daerah lain. Paling tidak, sebagai Kota Budaya tentu batasannya tak hanya cukup dari kuantitas berbagai pergelaran seni. Sebab, budaya memang memiliki pengertian yang lebih luas dari sekadar persoalan pergelaran seni.

Menurut pandangan Prof Dr Sri Hastanto SKar, Guru Besar ISI Surakarta, budaya sebenarnya adalah sikap (intangible). Bukan menyangkut tentang hal kebendaan. Sebab, hal-hal yang menyangkut kebendaan (tangible), termasuk misalnya karya seni, sejatinya merupakan hasil atau produk dari budaya.

Dengan pengertian tersebut, baiklah kita kesampingkan dulu persoalan tentang bagaimana kuantitas pertunjukkan kesenian sepanjang tahun ini. Bukan karena itu tidak penting. Namun masyarakat -bahkan dari luar pun- tentu sudah paham kapasitas Kota Solo.

Lalu apa yang menarik berkait budaya sebagai sikap? Terlepas apakah itu sebagai perkembangan atau kemunduran, ada beberapa fenomena yang rasanya patut untuk dicatat.

Salah satu fenomena itu adalah munculnya kesadaran akan pentingnya nilai heritage yang berkesan begitu menggebu. Sementara fenomena lain yang juga cukup menyita perhatian adalah hiruk pikuk tentang wacana pembentukan (kembali) Dewan Kesenian Solo (DKS).

Buka Tutup

Dua persoalan yakni heritage dan DKS tersebut, seolah membuka sekaligus menutup dari sekian lembaran peristiwa budaya yang terjadi. Menariknya, kedua persoalan itu juga dipandang memiliki peran yang cukup penting bagi perkembangan Solo ke depan. Utamanya berkaitan dengan sebutan sebagai Kota Budaya.

Tentang spirit heritage, cobalah buka kembali catatan peristiwa sepanjang tahun ini. Mulai dari pergelaran besar seperti Solo International Etnich Music (SIEM) dan Peringatan 250 Tahun Pura Mangkunegaran, hingga pertunjukkan yang digelar di kampung-kampung seperti pergelaran kelompok Sahita di kampung Manahan. Betapa dari sikap senimannya, pertunjukkan tak lagi hanya bicara estetika seni. Namun juga sudah mulai menyentuh tentang tempat-tempat yang bernilai sejarah.

"Heritage memang harus dipahami sebagai sesuatu yang tak bisa ditawar. Itu jika tak ingin Solo kehilangan citra sebagai Kota Budaya," ujar Wahyu Santosa Prabowo, budayawan. (Wisnu Kisawa, Sri Wahjoedi-50)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA