| Senin, 24 Desember 2007 | SALA |
SubosukowonosratenTujuh Orang KeracunanSOLO- Nahas dialami keluarga pasangan Sri Hendrayati alias Kris (40) dan Joko Anggoro (43). Keduanya yang tinggal di Lemah Abang RT 04 RW II, Kadipiro, Banjarsari itu diduga keracunan usai makan ikan layur yang dibelinya dari pedagang di Pasar Nusukan. Namun sayangnya, kejadian tersebut baru terungkap ketika Joko Anggoro bersama istrinya, melaporkan peristiwa yang dialaminya di Poltabes Surakarta, Sabtu (22/12) petang. Seperti yang dikemukakan Kris, Rabu lalu, dia memasak ikan layur untuk buka bersama dengan saudaranya menjelang hari Raya Idul Adha di rumahnya. Ada tujuh orang yang ikut berbuka puasa. ''Namun beberapa jam kemudian, saya mendapat kabar beberapa saudara yang ikut makan ikan layur mengalami muntah-muntah,'' ungkap Kris. Kris dan suaminya baru melaporkan kejadian itu di Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Poltabes Surakarta, pada Sabtu. (G11-42) Ambil Alih Benteng Vastenburg SOLO- Untuk mempertahankan cagar budaya, Pemkot Surakarta bisa mengambil alih kepemilikan Benteng Vastenburg di Jalan Sudirman yang kini sudah dimiliki swasta atau perorangan dan akan didirikan hotel dan pusat perbelanjaan. Apalagi benteng yang menempati lahan 2,5 hingga 5 hektare itu merupakan satu-satunya yang masih utuh di Indonesia. Hal itu mengemuka dalam diskusi dengan tema ''Menyikapi Hotel Beauty Vastenburg'' di Rumas Sastra Kampung Petoran, Jebres, Sabtu (22/12). Informasi dari Dinas Tata Kota (DTK) menyebutkan, harga tanah di pusat kota di Solo, khususnya di Jalan Slamet Riyadi dan Jalan Sudirman mulai Rp 5 juta hingga Rp15 juta per meter. Jika lahan di Benteng Vastenberg dilepas dengan harga Rp 5 juta hingga Rp 10 juta, maka menurut salah seorang peserta diskusi, HM Sungkar, paling tidak Pemkot harus menyediakan dana sekitar Rp 50 miliar . (G8-42) Sulit Berantas Perjudian WONOGIRI - Kabag Ops Polres Wonogiri Kompol H Hartanto SH mengakui, judi sulit diberantas. Sebagai jenis penyakit masyarakat, pemberantasannya sama sulit dengan memberantas prostisusi. Sebab, media judi tidak lagi terbatas pada kupon togel, kartu domino, atau kartu ceki. Pada sebagian komunitas masyarakat, seperti para tukang becak, ludah kini dipakai sesebagai media baru. Caranya? Tiga atau empat tukang becak bersama-sama meludah. Ludah siapa yang cepat dihinggapi lalat, dianggap menang dan mendapatkan taruhan uang. ''Kalau sudah begini, polisi kan sulit memberantasnya,'' tandas Kompol Hartanto. Persoalannya, penangkapan kasus perjudian harus didukung barang bukti, saksi, dan tersangka. ''Kalau alat bukti yang dipakai ludah, bagaimana polisi mengambil barang bukti?,'' tanyanya.(P27-58) Kurang Tegas Soal Pembajakan KARANGANYAR-Aparat penegak hukum dinilai tidak tegas dan berkesan menutup mata, atas maraknya kasus pembajakan hak cipta. Padahal, pembajakan sangat merugikan insan seni, khususnya pencipta lagu. Demikian diungkapkan James Sondakh, salah seorang pencipta lagu dari Jakarta, usai Seminar Hak Cipta dan Pembajakan yang digelar di pendapa Rumah Dinas Bupati Karanganyar, Sabtu (22/12). Menurut dia, aparat memang tidak menutup mata terhadap pembajakan. Tetapi mereka tidak tegas dalam menindak para pelakunya. Senada dengan James, salah seorang pencipta lagu kondang Tito Soemarsono menilai, pemerintah dan insan seni serta aparat perlu duduk satu meja untuk membahas hal ini. "Selama tidak bisa duduk bersama-sama dan merangkul para pembajak itu bekerjasama dengan insan seni lainnya, pembajakan akan terus terjadi," tandasnya. (H46-63) Pilih Jualan di Trotoar KLATEN - Puluhan pedagang tetap memilih berjualan di trotoar dan mulut gang sekitar bekas lokasi pasar darurat di Lapangan Merdeka Delanggu, Klaten, daripada pindah ke Pasar Delanggu yang baru saja dibangun. Para pedagang menyatakan enggan pindah, selama uji kelayakan bangunan Pasar Delanggu belum dilakukan. Beberapa pedagang mengatakan, Minggu (23/12) kemarin, mereka sebenarnya bersedia pindah asalkan sudah ada kejelasan soal layak tidaknya bangunan pasar baru, demi keselamatan mereka. ''Saya tidak ikut himpunan pedagang mana pun. Namun, untuk pindah ke Pasar Delanggu, saya masih ragu. Pedagang masih ingat, salah satu lantai pasar itu runtuh ketika dalam proses pembangunan,'' ujar Winarti, pedagang sembako. Kepala Kantor Pengelolaan Pasar (KPP) Drs Sugiharjo Saptoaji mengatakan, pedagang yang enggan pindah itu mayoritas pedagang oprokan. Hanya sebagian kecil saja pedagang kios.(H34-58) |