logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 24 Desember 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Tinjau Kembali Ujian Nasional

Masih hangat membekas dalam ingatan, pelaksanaan Ujian Nasional tahun lalu yang berlangsung lancar. Barangkali, penyelenggaraan sistem nasional baik dari pembuatan soal, pendistribusian maupun pelaksanaan yang ketat tersebut menciptakan suasana ketegangan. Hal ini dialami para siswa, pendidik, pengelola yayasan bahkan juga para orang tua.

Dari pemerintah, hal ini dimaksudkan guna mencapai peningkatan standar kualitas pendidikan agar tidak ketinggalan dengan negara maju lainnya. Tetapi bagi para siswa dan orang tua barangkali hal ini bisa menciptakan stres atau tekanan mental tersendiri, bahkan sampai trauma psikis bagi kalangan tertentu.

Sebab tidak semua siswa memiliki kualitas kepandaian yang memungkinkan mencapai standar minimal kelulusan. Siswa dari golongan ekonomi menengah ke atas barangkali bisa memenuhi kriteria, karena mereka memiliki kemampuan pemicu dengan berbagai fasilitas. Dengan standar nilai minimal kelulusan 4,26 mungkin mereka tidak terlalu kesulitan.

Tetapi karena soal yang disajikan cukup membuat siswa terpana akan tingkat kesulitannya, maka 4,26 bagi sebagian siswa dan sekolah serta bagi beberapa daerah, akan membuat jantung berdetak seratus kali lebih cepat. Lebih ironis lagi sebagian siswa yang tidak dibekali landasan mental yang baik, akan terjerumus untuk menyontek dan cara tidak jujur. Akhirnya budaya ini makin berkembang

Lebih ironis lagi, budaya nyontek justru mendapat restu guru demi menolong anak didiknya dan agar sekolah memiliki tingkat kelulusan lebih tinggi. Melihat gejala kurang baik di mana akhirnya semua cara dilegalkan untuk mencapai kelulusan, apakah tidak sebaiknya sistem Ujian Nasional ditinjau kembali.

Bahkan kalau bisa disederhanakan agar siswa tidak trauma, hemat biaya dan otoritas sekolah lebih dihormati. Semoga pihak-pihak yang terkait untuk menangani masalah ini berkenan untuk meninjau dan mempertimbangkan kembali demi kebaikan semua pihak.

SH Indriati SH

Jl. Mandasia III/360, Semarang.

Bank Danamon Kudus

Pengalaman tidak mengenakkan ini dialami Ibu saya bernama Ibu Tumariyah, pedagang pakaian di pasar Sukorejo Kendal. Sekitar bulan Juli 2007 Ibu menerima telepon petugas marketing officer Bank Danamon Kudus yang menawari pinjaman tanpa jaminan senilai Rp 10 juta dengan bunga 2.06%/bulan dan angsurannya Rp 622.667 atau dibulatkan menjadi Rp 623.000.

Karena butuh uang untuk kontrak kios baru maka Ibu menerima dan mengambil jangka waktu pembayaran selama 24 bulan. Saat pengajuan aplikasi memperoleh penjelasan, bila utang dilunasi sebelum masa pinjaman habis maka yang harus dibayar adalah sisa pokok utang ditambah 2 kali bunga.

Saat penandatanganan perjanjian, Ibu tidak memperoleh kopi surat tersebut dan sampai sekarang Bank Danamon juga tidak mengirimkan. Padahal telah mencantumkan alamat rumah secara lengkap. Bulan November 2007 Ibu mau melunasi utang dan menanyakan berapa sisa yang harus dibayar.

Ternyata sisa utangnya masih sebesar Rp 9.413.509 dibulatkan menjadi Rp 9.415.00 (rincian terlampir). Padahal sudah mengangsur 4 bulan dari Agustus s.d November 2007 tanpa keterlambatan angsuran. Seharusnya sisa utang sebesar Rp 8.745.334 tapi anehnya rincian bank tertulis ada pinalty ammount sebesar Rp 368.364,57.

Menurut saya ini aneh, masak orang bayar angsuran tepat waktu kena pinalti dan bila benar ya baru terjadi di Bank Danamon. Di bank lain bila ada nasabah bayar utang tepat waktu malah mendapat potongan. Petugas menyarankan ibu menghubungi Bank Danamon Cab Jateng di Semarang 024-3566086 dan mendapat jawaban bahwa sisa utang memang sebesar Rp 9.415.00.

Bila terlambat membayar maka debt collector akan mengurusnya. Saya kecewa dengan bank tersebut yang ternyata mencekik leher.

Apa karena orang awam yang tidak tahu hukum sehingga dipermainkan. Kepada masyarakat, berhati-hatilah bila menerima tawaran dari bank, siapa tahu di balik kata manisnya tersimpan niat menjerat.

Aris Purwoko SE (08282570135)

Gg Sombo 70 Jati Wetan, Kudus

***

Sentuh Kabel PLN

Musim penghujan telah datang. Berbagai ancaman mulai nampak di depan mata misal banjir menjadi pemandangan yang dengan mudah bisa disaksikan.

Ada ancaman lagi yang selama ini jarang terpikirkan yang potensial membahayakan yakni kabel listrik. Banyak pohon yang daun, batang dan rantingnya bersentuhan dengan kabel listrik.

Ini tentu membahayakan bagi keselamatan orang yang melewatinya atau kebetulan berteduh di bawahnya. Di sebelah rumah saya misalnya kebetulan terdapat tiang listrik yang kabelnya bersentuhan dengan ranting pohon mangga. Sebetulnya saya berinisiatif memangkas sendiri namun terkendala oleh risiko yang mungkin menghadang.

Akibatnya setiap hari saya diliputi perasaan was-was, baik bagi keselamatan keluarga maupun warga sekitar. Saya mengimbau kepada petugas PLN yang membawahi wilayah Mutih Kulon Kecamatan Wedung Demak agar secepatnya mengadakan pengecekan hal tersebut sebelum timbul korban yang tidak diinginkan.

Nabi' Hudallah SE

Mutih Kulon RT 3/RW 3 Wedung, Demak

***

Terima Kasih Masjid

Al Huda Rembang

Sehubungan dimuatnya surat saya berjudul "Mushala Baitul Muttaqin" belum lama ini, panitia pembangunan mushala "Baitul Muttaqin" Jl Widuri I RT 2/TW 5 Bangetayu Kulon. Genuk Semarang mengucapkan terima kasih kepada panitia/pengurus masjid Al Huda Desa Tireman Rembang atas bantuan/dukungannya baik moril maupun materiil.

Tatang Suryana (081325854810)

Sekretaris Panitia

***

Kedelai dan

Kesuburan Kandungan

Akhir-akhir ini banyak pasangan suami istri belum dikaruniai keturunan. Hal itu disebabkan banyak faktor salah satunya, pola hidup dan pola makan yang salah. Bagi pasangan tersebut, saya sarankan mengonsumsi banyak kedelai atau produk dari bahan kedelai seperti tempe, tahu atau sari dele (susu kedelai).

Kesuburan seorang wanita selain berkaitan dengan reproduksi yang sehat, juga dipengaruhi hormon estrogen dan progesteron. Setiap bulannya wanita memproduksi sel telur dan bila tidak buahi maka akan gugur yang disebut mengalami menstruasi. Beberapa bahan tanaman yang diketahui memiliki kandungan senyawa isoflavon yang mirip hormon estrogen atau disebut fitoestrogen adalah tanaman kedelai.

Sebenarnya masih banyak tanaman yang bisa digunakan untuk pengobatan. Keuntungannya di samping aman juga tanpa efek samping. Kebetulan saya punya resep ramuan tanaman obat yang berguna bagi pasangan suami istri yang ingin mendapatkan keturunan. Sudah banyak yang mencoba dan berhasil, di antaranya telah 16 tahun menikah. Saya berikan informasinya secara gratis.

Hadi Wibowo SE (08122830798)

Jl Diponegoro V/5, Semarang

***

Ketergantungan

Cagub Pada Birokrasi

Makin dekat pelaksanaan pilgub, makin semarak berpetualang dan berstrategi guna mendapatkan kemenangan. Demokrasi yang kita butuhkan adalah kesepakatan atas dasar pilihan rakyat murni meski bercorak perbedaan dalam multipartai atau kemajemukan masyarakat. Namun masih banyak anggapan, calon merasa akan kehilangan dan kalah bila tak merangkul massa dari kalangan birokrasi.

Bagaimana tidak. Cagub berupaya memboyong dan memobilisasi kaum praja desa. Di sana pula sejuta harapan dan janji bergema. Pula kaum praja bersuara tentang nasib dan kemakmurannya, tapi adakah mereka perjuangkan rakyatnya ?. Wahai para cagub, praja memang yang tahu langsung masyarakat masih di bawah garis kemiskinan.

Ingatlah, kalian kaum praja lebih beruntung dari mereka yang masih miskin. Betapa egois bila hanya perjuangan kaum praja yang digemakan. Ingat pula perjuangan Angkatan '45 masih hidup di garis kemiskinan. Lihatlah pengabdiannya beliau tak harus bergejolak karena miskin dan tak harus mendapatkan kemakmuran.

Siapa yang ingat pada mereka?. Seyogianya memperhatikan kesejahteraan bagi masyarakat luas tanpa tendensi kepentingan individu/kelompok. Berbagai problem dan masalah kompleks harus dicermati dan upayakan untuk menjadikan rakyat pintar. Upayakan masyarakat kenal cagubnya meski nantinya kalau memilih pun tak merasa nasibnya akan berubah.

Masyarakat jenuh dengan seabrek pilihan dari tingkat RT hingga tertinggi dan adakah langsung mendapatkan keberuntungan?. Semoga dalam demokrasi ini bukan hanya sekadar fatamorgana, karena banyak kepura-puraan di berbagai lapisan hingga tidak mendidik masyarakat dalam rangka berpolitik yang benar dan bertanggung jawab pada bangsa dan negara.

Jadikan pilihan gubernur sebagai tongak dalam menerima aspirasi masyarakat guna mengubah yang jelek dan bermuara pada kebenaran. Dari kemiskinan menjadi sejahtera, kebodohan menjadi cerdas dan cerdas pun harus dibentengi kejujuran. Haragan rakyat, pilihan gubernur untuk mendapatkan pemimpin yang arif, jujur, bijaksana tahu penderitaan rakyat.

R Puji Prapto Ujiatmo

Lambur RT 1/RW I Mrebet, Purbalingga

***

RM Bu Mayar Cawas

Pada 1 Desember 2007 pukul 18.15 Wib, saya dan keluarga makan di Rumah Makan Bu Mayar Cawas di Jl Raya Delanggu Klaten. Tanpa sengaja saya meletakkan ponsel Nokia N 73 di meja lain karena mengambil kaleng krupuk dan saat itu tidak ada konsumen lain kecuali saya dan keluarga. Beberapa menit kemudian saya teringat ponsel yang tertinggal tapi ternyata sudah raib.

Langsung saya menghubungi nomor ponsel yang hilang dan tapi sudah tidak aktif lagi. Saya berusaha menanyakan kepada pihak rumah makan juga tidak ada yang mengetahui. Saya yakin hilangnya barang itu bukan diambil oleh konsumen lain. Karena pada saat itu hanya saya dan keluarga yang ada di tempat itu.

Untuk pemilik saya imbau lebih selektif memilih karyawan sehingga memberikan kenyamanan dan keamanan bagi konsumen. Untuk konsumen lain agar berhati-hati dengan barang bawaannya.

Dra Ambar Prihartini MSi

Jl Cemara A1/21 Beringin Indah, Semarang.

***

Haji Sekali, Larangan

dan Aturan

Wacana Menteri Agama yang membatasi warga beribadah haji hanya sekali seumur hidup dan pengenaan sanksi bagi yang melanggar (SM 10 Desember 2007) agaknya perlu dipikirkan lebih lanjut. Ibadah haji hukumnya wajib bagi yang mampu. Mampu dalam membiayai hidup dan keluarga yang ditinggal, juga mampu dalam menyelenggarakan transportasi keberangkatan (oleh pemerintah).

Kalau ternyata orang yang sudah pernah naik haji, kemudian dirinya dilimpahi rezeki untuk naik haji lagi, haruskah pemerintah melarang. Sejauh manakah kewenangan pemerintah mengatur ibadah warganya?

Pemerintah tidak seharusnya melarang, karena untuk memeluk agama dan menjalankan ibadah, warga dibebaskan dengan jaminan UU.

Lebih baik jika pemerintah mengatur, bukan melarang. Misal dari kuota, 90% bagi jamaah yang sama sekali belum pernah naik haji, sisanya untuk yang ingin naik haji lagi. Bagi yang ingin naik haji lagi, diprioritaskan berangkat rombongan (dengan keluarga). Untuk lainnya karena mampu, kalau tidak mau menunggu giliran dipersilakan ikut haji plus. Toh mereka mampu.

Setiap pendaftar diberi nomor register dengan index nama, orang tua, alamat sehingga dengan mudah diketahui apakah untuk yang pertama atau tidak. Kalau sistem dijalankan dengan baik dan pengalaman bertahun-tahun menyelenggarakan haji, tentunya pemerintah tak kesulitan. Dengan demikian yang pertama kali berangkat tidak terlalu lama menunggu dan keinginan warga yang ingin naik haji lagi pun terpenuhi.

Keduanya sama-sama urut antrean. Kalau aturan ini ditetapkan dengan baik tentunya tidak ada warga yang merasa dilarang melaksanakan ibadah. Semuanya berjalan lancar sesuai aturan dan tidak menghabiskan energi untuk bersitegang masalah pelarangan naik haji lebih dari sekali.

AB Kusuma SKom

Jl Beringin Putih D2/14 Ngaliyan, Semarang

***

Manfaat Jalan Kaki

Di Wonogiri, aktivitas jalan kaki hura-hura berhadiah selalu dibanjiri ribuan peserta. Tetapi di luar acara itu, saya jarang menemui individu atau kelompok yang secara rutin melakukan olah raga jalan kaki pagi. Beberapa waktu lalu pernah aktif kelompok ibu-ibu dan putri remaja dari Metro Jaya (Kerdukepik) Wonogiri, sayang sepertinya kini tidak aktif.

Saya melakukan olah raga jalan kaki pagi sejak 1989 untuk merayakan keberhasilan saya berhenti dari kebiasaan merokok yang mencengkeram 19 tahun lamanya. Di Jakarta, saya yang tinggal di Rawamangun, jalan kaki sampai di ujung Jatinegara Kaum. Kalau hari Minggu, di seputar Pulomas. Sedang bila di Bogor, mengelilingi Kebun Raya Bogor merupakan pengalaman yang selalu menakjubkan.

Di Wonogiri, kalau ke utara sampai Wonokarto, ke selatan sampai tepian Waduk Gajah Mungkur. Jalan kaki pagi bermanfaat untuk melemaskan sendi-sendi tubuh, membentuk postur yang ideal, menguatkan massa tulang sehingga terhindar dari ancaman pengeroposan. Juga membakar lemak sehingga tubuh tetap langsing serta menstabilkan tekanan darah.

Majalah Reader's Digest pernah pula menulis, jalan kaki pagi mampu membuat pelakunya berpikir secara lebih jernih, menetralisasi stres sehingga membuat awet muda. Sebagai seorang epistoholik alias pencandu penulisan surat pembaca, olah raga jalan kaki pagi memberi manfaat besar bagi saya pribadi.

Seperti dikatakan Raymond Inman, bila Anda mencari ide-ide kreatif lakukan olahraga jalan kaki. Karena, menurutnya, para malaikat akan senang berbisik kepada seseorang yang berjalan kaki. Saya selalu membawa bloknot dan bolpoin ke mana pun pergi sehingga ketika bisikan malaikat itu terdengar, segera saja saya tulis, ide-ide bermunculan. Embrio beberapa topik tulisan telah mulai saya semaikan

Bambang Haryanto (081329306300)

JI Kajen Timur 72, Wonogiri

***

Obyek Wisata Klating

Pucakwangi, salah satu kecamatan di Kabupaten Pati yang berada di daerah pegunungan. Daerah ini mempunyai potensi di bidang kepariwisataan yang jumlah dan kualitas obyek wisatanya lebih banyak dibanding kecamatan lain. Di pucakwangi ada obyek yang sampai sekarang masih fenomenal, namanya Kating.

Klating adalah obyek yang berada di persawahan Desa Mojo Kecamatan Pucakwangi. Untuk mengunjungi obyek ini harus memakir kendaraan sekitar 400 meter dari lokasi yang diteruskan dengan berjalan kaki melewati pematang sawah yang berlekak lekok dengan berhamburan berbagai tumbuhan. Meski demikian sampai saat ini tidak menyurutkan para pengunjung terutama anak muda untuk menikmati keeksotisannya.

Berbagai bentuk dan jenis batu yang indah, ditambah air terjun setinggi 5 meter yang menawan sunggup menyejukan hati dan menyegarkan pikiran. Sayang hal ini tidak diimbangi pengelolaan dan penataan layaknya obyek wisata sehingga Klating tidak sepopuler obyek wisata lain. Klating sebagai obyek wisata eksotis kini memang masih semrawut walau berpotensi besar untuk dikembangkan.

Saya yakin bila klating dikelola dengan baik, suatu saat akan menjadi obyek wisata andalan di daerah ini. Masyarakat sekitar dan Pemerintah Kecamatan Pucakwangi bisa lebih sigap menaggapi dan menindaklanjuti potensi yang ada didaerahnya.

Muhammad Thoha.

Mahasiswa Unnes, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA