logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 24 Desember 2007 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Natal dan Pesan Kemanusiaan

Natal yang Selasa besok diperingati oleh umat Kristiani, tentulah tidak hanya sarat ritualitas. Perayaan, dengan bayi Yesus terbaring di dalam palungan pada sebuah kandang domba sebagai ornamen fisiknya, memberi pijakan bagi munculnya keoptimistisan. Harapan selalu menyertai rasa syukur dalam sebuah keluarga setiap menyambut kelahiran. Ketika kelahiran itu dikenang seiring berjalannya waktu, harapan janganlah pernah surut. Dengan demikian nuansa kegembiraan memang harus dominan dalam menyambut Hari Natal. Tetapi momentum itu bukanlah saat untuk melupakan berbagai persoalan.

Yesus yang lahir dengan ditunggui para gembala, menjadi pengingat akan keberadaan kaum marjinal. Persoalan mengangkat derajat warga miskin, menemukan aksentuasinya ketika lonceng Natal berdentang. Apalagi ketika kesenjangan ekonomi global begitu terasa sekarang. Dari sekitar enam miliar penduduk dunia, 20 persennya berada di bawah garis kemiskinan. Padahal lebih dari 50 persen total nilai kekayaan dunia hanya dikuasai oleh dua persen penduduk berusia dewasa. Data yang muncul dari laporan salah satu lembaga bentukan PBB pada 2006 itu mestinya mengetuk hati kita semua.

Proses pemakmuran masyarakat memang mengandung risiko. Dan risiko itu telah mewujud. Jargon yang kaya makin kaya dalam aroma kapitalisme, bisa menimbulkan kemirisan karena angka-angka menyangkut kemiskinan masih sangat memprihatinkan. Dalam level global, negara-negara yang biasa disebut sebagai kelompok Barat tetap menjadi pusat penumpukan aset dunia. Hanya memang, negara-negara Asia-Pasifik makin menunjukkan perbaikan ekonomi. Tetapi sebagian besar kawasan Afrika tetap saja bergelut dengan persoalan-persoalan dasar kebutuhan individu maupun masyarakat.

Ketika dunia dihadapkan pada realitas kesenjangan ekonomi seperti itu, perayaan Natal harus bisa memberi pencerahan. Peringatan hari yang merupakan produk religiositas itu, sebenarnyalah tidak terpenjara dalam eksklusivitas. Begitu juga pesan-pesan yang dimunculkannya, karena secara universal jelas menyangkut nilai-nilai kemanusiaan. Batas-batas apa pun bakal bisa ditembus bila sisi kemanusiaan yang hendak disentuh. Bukankah dalam momen peristiwa kelahiran Yesus di Betlehem sekitar 2000 tahun silam, lambang-lambang kesederhanaan dan kemiskinan begitu menonjol menyertai?

Sekarang, saatnya bagaimana isu kemiskinan yang biasa menjadi dagangan politik menemukan lentingan kepedulian secara nyata. Aksi mengurangi kemiskinan sebenarnya tidak melulu berupa kebijakan ekonomi. Upaya badan PBB bekerja sama dengan Bank Dunia untuk melacak hasil jarahan para diktator-koruptor dan berusaha mengembalikan ke tempat asalnya, bagaimanapun merupakan kabar yang bisa membersitkan semangat baru bagi warga yang belum beruntung. Ketim-pangan berawal dari ketidakadilan. Karena itu penegakan keadilan sebenarnya adalah juga stimulus mental bagi kaum miskin.

Dengan kebijakan yang nilai keadilannya mudah terasakan, orang menjadi tidak nglokro dalam memperbaiki keadaan. Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar individual maupun komunal memang tidak bisa dikesampingkan. Tetapi pembangunan berdimensi fisik seperti itu harus pula diimbangi dengan kebijakan lain yang memberi suntikan semangat. Seperti halnya perayaan Natal yang membawa inspirasi, upaya mengangkat derajat warga tertinggal tak akan mencapai titik optimal ketika mereka masih dijangkiti oleh skeptisisme. Skeptisitas tentu tidak akan membangkitkan inspirasi untuk kemajuan.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA