logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 24 Desember 2007 MURIA
Line

Pengamen di Terminal Cepu, Blora

Tak Pulang sebelum Kumpulkan Rp 10.000/Hari

MATANYA berkaca-kaca ketika menjawab pertanyaan di mana kedua orang tuanya kini. Suaranya terdengar lirih manakala menjelaskan kehidupan keluarganya. Jawaban lantang dikemukakan saat mengatakan keinginannya. "Saya tidak ingin adik-adik saya ikut ngamen," ujar Eko Cahyono Putra (15), salah seorang pengamen di terminal Cepu, Blora, kemarin.

Ya, Eko, sapaan akrabnya, merupakan satu dari sekian pekerja anak yang tidak bisa menikmati keceriaan dunia anak. Di usianya yang masih terbilang muda, dia harus bekerja untuk menghidupi tiga adiknya.

Kedua orang tuanya, Jono dan Sulaikah, sejak enam tahun lalu menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Namun, selama itu pula bapak dan ibunya tak pernah pulang, mengirim kabar, apalagi uang.

"Nenek saya bilang seperti itu. Saya sendiri tidak tahu bagaimana keadaan bapak dan ibu di Malaysia," katanya dengan suara lirih.

Selama ditinggalkan orang tuanya, Eko dan tiga adiknya tinggal bersama neneknya, Muktah, di Desa Petak, Kecamatan Purwosari, Bojonegoro. "Kakek saya sudah meninggal, sedangkan nenek sudah tua. Dia sudah tidak mampu bertani."

Ketiadaan uang menyebabkan Eko hanya bisa mengenyam pendidikan hingga kelas empat SD. Padahal, dia ingin meneruskan sekolah hingga ke tingkat yang lebih tinggi.

Demikian juga adik-adiknya. Tak satu pun dari mereka yang kini bersekolah.

"Bagaimana lagi. Kami tidak punya uang untuk biaya sekolah," ujar Eko yang mengaku lupa tanggal lahir, tapi masih ingat tahun kelahirannya, 1992.

Untuk tetap sekadar bertahan hidup, dia pun mencari uang dengan cara mengamen. Anak berperawakan kurus itu setiap hari mengamen di dalam bus yang melintasi trayek Cepu-Surabaya maupun Bojonegoro-Ngawi dan Ngawi-Cepu.

Sesekali dia tampak di terminal Cepu, namun tidak berapa lama kemudian terlihat di pemberhentian penumpang di perempatan Padangan Bojonegoro. Terminal bus di Bojonegoro seakan menjadi rumah keduanya."Di mana bus melaju saya ada di dalamnya. Tentu saja bergantian dengan pengamen lain," katanya.

Gemas

Sejumlah penumpang dibuat gemas dengan perilakunya. Lagu-lagu yang tengah ngetren dengan mudah dinyanyikan. Sebut saja lagu berjudul Munajat Cinta dari The Rock.

Lagu yang dinyanyikan Ahmad Dani, vokalis Dewa 19 itu terasa berubah makna ketika yang menyanyikannya anak-anak seusia Eko. Sebab, syair lagunya berisi harapan datangnya seorang kekasih.

Belum lagi ketika menyanyikan lagu campursari berjudul Bojo Loro. Keceriaan tampak dari wajahnya. Dia seakan melupakan beban hidup yang harus dipikulnya selama ini.

"Diberi Rp 500 saya terima, tidak diberi pun tidak apa-apa."

Dia mengaku setiap hari menargetkan pendapatan dari mengamen sebesar Rp 10.000. Menurutnya uang tersebut digunakan makan sehari-hari nenek dan ketiga adiknya.

Tak jarang ia harus pulang malam lantaran uang di kantongnya tidak sampai Rp 10.000. "Pokoknya kalau belum dapat Rp 10.000 saya tak pulang," katanya.

Salah seorang adiknya belum lama ini juga mengamen bersama dia, tapi hal itu berlangsung tidak lama. Sebab dia tidak sampai hati adiknya yang masih berusia 12 tahun itu ikut mengamen.

"Biarlah saya sendiri yang mengamen. Adik-adik jangan seperti saya," tandasnya sembari menyebutkan adiknya paling bungsu berusia lima tahun. (Abdul Muiz-19)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA