| Senin, 24 Desember 2007 | SEMARANG |
Tak Punya Biaya Operasi, Tumor Dibiarkan Membesar
RASA sakit yang dialami Latifah (40) warga RT 3 RW 5 Dusun Kenteng Kelurahan Pulutan Kecamatan Sidorejo Salatiga, sudah terbilang cukup lama. Penyakit tumor yang dialami pada bagian wajahnya, sudah dirasakannya sejak ia masih bayi hingga sekarang. Biaya yang dikeluarkan untuk berobat pun sudah tak terhitung lagi banyaknya, guna mengobati penyakit yang semakin lama kian membesar dari leher hingga menutupi mulut dan pipi kirinya. Tak ayal, hal tersebut menyebabkan dirinya mengalami kesusahan bila ingin menyantap makanan untuk menutup rasa lapar. Ia pun harus menutupi penyakit tersebut dengan kerudung setiap kali hendak bepergian. Ketika ditemui di rumahnya yang sederhana, Latifah hanya bisa pasrah dengan keadaan yang menimpa dirinya. Berbagai cara pengobatan sudah ia tempuh, baik secara medis maupun lewat pengobatan alternatif, namun harapannya untuk bisa sembuh hanya tinggal angan-angan saja. Penyakit tumor yang menyerangnya tak kunjung mengecil tetapi justru membesar. ''Terakhir kali saya berobat alternatif di Temanggung 2006 lalu, setelah itu tidak lagi, karena sudah tidak punya biaya berobat,'' ucap ibu tiga anak ini. Lebih lanjut dikatakannya, dulu waktu berobat ke dokter, ia disarankan untuk operasi. Namun saran tersebut tidak bisa ia jalankan lantaran tidak punya biaya untuk operasi. Akhirnya ia memilih pengobatan alternatif karena biayanya lebih murah. Beberapa kali ia menjalani pengobatan dengan minum ramuan tradisional hingga di strum menggunakan listrik untuk mematikan akar tumor lewat pengobatan alternatif. ''Sekarang penyakit ini sudah membesar dan mengakar. Terkadang juga mengeluarkan darah,'' kata Latifah yang hanya bekerja sebagai buruh tani. Ditambahkannya, akibat penyakit yang dideritanya tersebut, ia sering merasakan sakit dan pusing. Menurut dokter yang pernah memeriksanya, tumor tersebut sudah menjalar kemana-mana. Bahkan matanya terancam buta karena serangan penyakit itu. Saat ini yang bisa dilakukan Latifah hanyalah menunggu uluran tangan dan belas kasih dari dermawan untuk bisa sembuh dari penyakitnya. (Leonardo Agung B-16) |