logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 24 Desember 2007 SEMARANG
Line

Kuda Kepang Desa Keji Bertahan sejak 1950

Generasi Ketiga Bisa Membuat dan Memainkan

  • Oleh Rony Yuwono

BAGI anak-anak Dusun Suruhan, Desa Keji, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, permainan kuda kepang bukan hal yang mengherankan. Tak sekadar bisa memainkan, bocah-bocah generasi ketiga itu bahkan bisa membuat permainan jaran kepang yang terbuat dari anyaman bambu.

Dari mana mereka bisa memiliki kemampuan yang tak dimiliki kebanyakan anak-anak lain? Semua itu berawal dari Supar (98). Kakek yang akrab disapa Mbah Supar ini sejak 1950-an tinggal di Desa Keji, karena istrinya orang Dusun Suruhan. Baru-baru ini kesenian yang nyaris mati itu digelar kembali dalam kemasan kuda kepang tiga zaman. Anak-anak, pemuda, dan orang tua (kakek-kakek) berbaur menari bersama.

''Saya berharap desa ini bisa menjadi desa wisata, karena memiliki keunikan yang khas, yakni kuda kepang diiringi lesung,'' terang Mbah Supar yang berasal dari Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang ini.

Ada kisah menarik saat belum terbentuknya kelompok Langen Budi Utomo di desa ini. Ketika itu tahun 1950-an. Di Desa Keji tidak ada kegiatan seni. Orang-orang suka main kartu (gaple). ''Awalnya kami ngumpul main gaple dan yang dibuat taruhan adalah kerupuk,'' kenang Mbah Supar yang memperistri Maryam dan Sukiyem.

Sial bagi mereka, karena kartu dan kerupuk disita pamong desa. Tapi, Supar muda dan kawan-kawan meminta kembali ''barang bukti'' tersebut. Ia beralasan, gaple menjadi sarana mengumpulkan dan merukunkan orang.

''Di tengah bermain kartu gaple itu muncul ide bermain jatilan. Kami awalnya pinjam di Dusun Sitoyo, Lerep. Alat permainannya kami pinjam sampai rusak,'' tutur Mbah Supar.

Singkat cerita, mereka bisa tampil bagus dengan kuda kepang dan hendak mengamen. Tapi, waktu itu dilarang lurah setempat. ''Pertama pentas kami dibayar Rp 50,'' ungkap Supar.

Menggadaikan Tanah

Dalam perjalanannya, ia meminta istrinya Sukiyem (almarhumah), untuk menggadaikan tanah buat membeli ijuk sebagai bahan kuda kepang, selain anyaman bambu.

''Tujuan awal pembuatan kesenian kuda kepang agar warga hidup tenteram dan sayuk rukun. Terbukti, sampai sekarang warga bisa hidup rukun,'' ungkapnya.

Mbah Supar pun dengan sabar mengajari generasi di bawahnya untuk bisa bermain dan membuat jaran kepang. Ia mengaku senang dengan kedatangan tim kreatif Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dispartabud) Kabupaten Semarang, Yossiady BS, yang tinggal di Dusun Suruhan, belum lama ini.

''Dengan adanya Bang Yosi di sini saya berharap kesenian yang hampir punah ini bisa dilestarikan anak cucu,'' harap Mbah Supar.

Yosi mengatakan, kuda kepang yang bertahan sejak 1950-an dengan iringan lesung ini sulit didapatkan di daerah lain belahan Bumi Pertiwi ini. Dia menyangkan jika kekayaan seni yang lahir dari sebuah dusun kecil harus mati sia-sia. ''Kami menggiatkan kembali kesenian ini selain untuk melestarikan budaya, juga menjalin rasa gotong-royong,'' tuturnya.

Yang menarik, di desa ini banyak anak yang bisa membuat kuda kepang. ''Anak-anak juga pintar menari kuda kepang,'' imbuh Yosi yang berharap Desa Keji menjadi bagian dari Desa Wisata di Kabupaten Semarang. (37)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA