| Senin, 24 Desember 2007 | SEMARANG |
Raskin Tak Diambil
UNGARAN - Sejumlah kepala desa (kades) di Kabupaten Semarang enggan mengambil jatah beras untuk warga miskin (raskin) bulan Desember 2007, yang dikemas dalam kegiatan operasi pasar khusus (OPK). Sebab, warga miskin keberatan bila harga beras raskin tersebut dinaikkan dari Rp 1.000/kilogram menjadi Rp 1.600/kilogram. Kades Pakopen, Kecamatan Bandungan, Suwandi mengatakan, pihak desa tidak memiliki modal bila harus menalangi dana pengambilan raskin di gudang Dolog Bawen. ''Untuk saat ini terpaksa belum kami ambil. Kas desa tidak ada untuk menalangi dana pengganti raskin,'' kata Suwandi, Minggu (23/12). Menurutnya, warga miskin di Pakopen masih bersedia membayar jika harga tetap Rp 1.000/kilogram. Sebelum ini pun beras raskin datang terlebih dulu, baru warga membayar, sehingga sistem cash and carry atau bayar tunai baru dibawa, tidak bisa jalan.''Mereka warga tidak mampu, kalau orang kaya disuruh bayar Rp 1.600/kilogram ya mau. Sementara ini saya diam dulu daripada yang salah. Kami akan berembuk dengan Pak Camat,'' ungkap Suwandi. Anggota DPRD Kabupaten Semarang The Hok Hiong mempertanyakan kenaikan harga beras raskin. Selain itu, dia mengaku heran program raskin dihentikan hingga November.''Ada apa ini? Tahun anggaran itu antara 1 Januari hingga 31 Desember. Kalau hanya sampai November itu lucu,'' kata The Hok yang juga Ketua Fraksi PDI-P DPRD, Minggu (23/12). Desember ini ada operasi pasar khusus (OPK) untuk menggantikan program raskin. Dia menyinyalir adanya OPK disebabkan oleh perencanaan yang kurang matang, sehingga kekurangan stok beras.''Atau, apakah OPK ini diadakan lantaran rakyat miskinnya bertambah? Padahal, sasaran pemberian beras OPK juga sama, yaitu untuk penerima raskin,'' terang dia. Harga Penyesuaian Kegiatan ini berasal dari pemerintah pusat. Karena itu, dia meminta harga tidak naik. ''Aneh, ada beras OPK dengan kualitas dan penerima yang sama, tapi harganya naik,'' ungkapnya. Kasubag Ketahanan Pangan Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Semarang Samsul Hidayat menjelaskan, Desember ini program raskin sudah habis, karena penyesuaian harga pada bulan November. ''Alokasi 2007 sampai November saja. Untuk Desember ada kebijakan dari Menteri Perdagangan, OP sasarannya penerima raskin, berasal dari beras cadangan pemerintah,'' tutur Samsul. Soal harga Rp 1.600, menurutnya, itu harga penyesuaian karena harga beras juga naik. Jadi, mulai Januari 2008 sudah Rp 1.600/kilogram. Pihaknya sudah menyampaikan ke kecamatan dan desa. ''Kemungkinan pihak desa enggan repot. Sosialisasi program ini baru 17 Desember. Ada penerima yang mau bayar Rp 1.600, tapi petugas tidak mau repot,'' imbuhnya. Bila ada yang tidak mau menerima diminta membuat surat pernyataan. Alokasi beras raskin untuk Desember lebih dari 613 ton. (H14-37) |