logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 24 Desember 2007 EKONOMI
Line

Bulog Optimistis Tak Tambah Impor

JAKARTA-Menghadapi musim paceklik, Perum Bulog menyatakan akan terjadi kenaikan harga beras 5 persen setiap bulan. Bulog pun sudah menyiapkan langkah berupa operasi pasar khusus (OPK), operasi stabilisasi harga beras (OSHB), dan penyaluran raskin.

Dirut Perum Bulog Mustafa Abubakar menyatakan, kebutuhan beras untuk ketiga program itu sudah mencukupi, sehingga tidak perlu impor. ''Stok OSHB dianggap telah mencukupi, tidak perlu menambah impor. Saat ini telah disuplai ke pasar sekitar 50 ribu ton beras kualitas premium. Kalaupun masih kurang dan harga belum stabil, Bulog bisa menggunakan stok raskin (public service obligation/PSO) yang mencapai 1,7 juta ton,'' paparnya di Kantor Bulog Jakarta baru-baru ini.

Bulog memperkirakan musim paceklik terjadi pada Desember 2007 hingga Februari 2008. Kenaikan harga beras, kata Mustafa, terjadi karena datangnya tiga hari raya besar, yaitu Idul Adha, Natal, dan Tahun Baru. Di samping juga adanya aksi spekulan yang menahan stok dan kenaikan gaji PNS di 2008. OSHB sendiri akan diprioritaskan di DKI dan Medan yang banyak memberi pengaruh terhadap kenaikan harga.

Untuk ketiga program itu, Bulog telah menyediakan stok beras yang dipergunakan untuk mengamankan harga di kisaran Rp 4.750 per kilogram untuk beras termurah dan Rp 6.000 per kilogram untuk beras termahal.

Diperpanjang

Mustafa mengatakan, OPK akan diperpanjang sampai Januari 2008 dengan harga dinaikan menjadi Rp 1.600 per kilogram. ''Total beras yang akan disalurkan mencapai 300 ribu ton,'' tambahnya. Sedangkan untuk penyaluran raskin, lanjut Mustafa, pada 2008 dilaksanakan pertengahan Januari dengan total raskin 200 ribu ton per bulan. Di tahun 2008, kenaikan harga diperkirakan akan terjadi pada semua jenis bahan pangan.

Menurut Menteri Pertanian Anton Apriyantono, kenaikan harga pangan di satu sisi akan menguntungkan petani, mengingat selama ini petani menjual hasil panennya dengan harga rendah. ''Kapan petani dapat harga setinggi itu? Kuncinya naikkan produksi, tahun ini kami sudah melakukan terobosan (produksi) beras bisa naik 4,8 persen dan jagung 14,4 persen,'' paparnya ditemui usai rapat koordinasi privatisasi di Kantor Kementerian Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat pekan lalu.

Anton menyatakan hal itu akan terus dilanjutkan dengan melakukan perluasan lahan sekaligus peningkatan produksi. Tahun ini target produksi beras telah tercapai yaitu 58,1 juta ton. Diharapkan, lanjutnya, peningkatan produksi beras dapat mencapai 5 persen, sedangkan jagung ditargetkan naik 20 persen.

Sementara itu, Menko Perekonomian Boediono mengungkapkan kenaikan harga bahan pangan akan terjadi tahun depan. ''Saya bayangkan kenaikan harga bahan makanan di luar negeri. Dampaknya kepada kita berapa. Itu yang coba dikendalikan,'' ungkapnya. Menurut dia, kenaikan harga bahan pangan akan berpengaruh pada laju inflasi, selain kenaikan harga BBM. (J10,tri-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA