| Senin, 24 Desember 2007 | EKONOMI |
Harga Kebutuhan Pokok Merambat Naik
SEMARANG-Harga kebutuhan sembilan bahan pokok hingga Minggu (23/12) di sejumlah pasar tradisional di Semarang masih terus merangkak naik. Kenaikan cukup tinggi dirasakan, terutama pada komoditas sayur-sayuran, gandum, bumbu-bumbuan, telur ayam horn, dan beras. Di Pasar Johar misalnya, kol yang biasanya dijual dengan harga Rp 2.500 kini naik menjadi Rp 4.000 sampai Rp 4.500/kg. Kentang juga mengalami kenaikan dari Rp 3.000 menjadi Rp 4.500 per kg. Namun bawang merah yang sempat dijual hingga Rp 16.000 kini turun, berkisar Rp 10.000-Rp 11.000/kg. ''Kebanyakan memang naik, terutama sayuran yang dipasok dari Bandungan,'' kata Suyati (38) pedagang sayur di Johar. Sementara itu harga gandum sepekan belakangan terus melonjak dari Rp 4.500 kini berada di kisaran Rp 5.500 sampai Rp 6.000. ''Biasanya menjelang Natal banyak yang mencari gandum untuk membuat roti atau kue, sehingga harganya tiap hari naik seratus atau dua ratus,'' papar Dewi (31) penjual tepung dan bahan kue di Johar. Tepung gandum yang biasa dibeli Rp 122.000 per sak, kini melonjak di kisaran Rp 135.000 per sak isi 25 kilogram. Masih Wajar Harga telur ayam di Pasar Bulu juga mengalami kenaikan. Jika sebelumnya harga telur sekitar Rp 8.800, kini bertengger di angka Rp 9.800/kg. Bahkan ketika dijual di warung-warung harganya bisa menembus angka Rp 10.000. Peningkatan konsumsi telur menjelang Natal dan akhir tahun ini diperkirakan memicu kenaikan harga. Harga beras juga masih terus naik bervariasi antara Rp 300 sampai Rp 500. Untuk beras C-4 misalnya, dari semula Rp 4.400 kini merambat hingga Rp 4.700. Kenaikan ini, menurut Kasubdin Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perdagangan Propinsi Jateng Edison Ambarura, masih dalam batas kewajaran. ''Namun permintaan saat Natal hingga akhir tahun diperkirakan tidak akan sebanyak waktu lebaran. Hanya khusus pada produk pabrikan yang terkait minyak dunia tentu akan berpengaruh pada harga produksi, seperti gandum,'' jelas Edison yang ditemui baru-baru ini. Dia menambahkan, pihaknya masih memberikan toleransi pada kenaikan hingga 10 persen. Namun jika di atas itu, maka langkah antisipatif akan segera dilakukan. (J14-33) |