logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 22 Desember 2007 NASIONAL
Line

ASAL-USUL Desa di Jateng dengan Julukan Unik (1)

Besito, Desanya Tukang Batu


SM/Sony Wibisono MASJID AL IDRUS: Masjid Al Idrus, Kauman Besito, berdiri megah setelah dibangun gotong royong oleh warganya sendiri yang sebagian besar tukang batu. (57)

Sejumlah desa di Jateng memiliki julukan unik karena sebagian warganya bekerja di sektor tertentu. Sebut saja Desa Besito. Warga desa itu, konon sejak 1800-an, sudah bekerja sebagai tukang batu secara turun- temurun. Berikut laporannya.

MEMASUKI Dukuh Kauman, Desa Besito, Kecamatan Gebog, Kudus tidak berbeda jauh dengan suasana desa lain. Namun satu kesan terasa jika kampung itu agak sepi. Hanya wanita dan anak-anak yang sering terlihat.

Untuk menjumpai laki-laki usia produktif seperti pagi saat saya berkunjung ke sana, agak sulit. Entah kenapa. Ketika berusaha menanyakan sebuah alamat, saya hanya bertemu dengan kaum perempuan-perempuan setengah baya.

"O, di sebelah utara masjid nak," begitu ucap perempuan setengah baya menunjukkan alamat Mbah Sapuan, salah seorang tukang batu senior di kampung itu.

Pertanyaan saya tentang suasana desa itu terjawab ketika saya bertemu langsung dengan Mbah Sapuan. "Memang sebagian besar di sini profesinya tukang batu, mereka banyak merantau di luar kota. Hanya sebulan atau seminggu sekali saja mereka pulang," kata pria berusia 83 tahun itu.

Mbah Sapuan mulai bekerja sebagai tukang batu sekitar 1946, saat Jepang keluar dari Indonesia. Pertama kali ia hanya ngenek atau membantu tukang batu. "Upahnya waktu itu 2 sen, harga beras sekilo masih setengah sen," katanya.

Menurut cerita Mbah Sapuan, saat itu orang-orang kampungnya sudah banyak yang menjadi tukang batu. Dan di Kaumanlah asal muasal pekerjaan tukang batu di Besito berkembang. "Kalau di sini memang empunya tukang batu di Kudus," tutur Sapuan yang sepuluh tahun ini sudah "pensiun".

Pekerjaan sebagai tukang batu memang selalu berpindah-pindah, tidak heran jika sampai sekarang tradisi itu terus berlanjut. Mbah Sapuan sendiri pernah merantau ke Semarang dan Jakarta.

Bahkan sekitar 1980-an ia pernah diajak mengerjakan proyek restoran di Singapura. "Tapi saya tidak mau karena anak-anak masih kecil," tuturnya.

Perihal maraknya pekerjaan tukang batu di kawasan Besito, diperkirakan sejak akhir abad XIX. "Yang pasti saya kelahiran 1924. Sedangkan bapak, simbah, dan buyut saya sudah jadi tukang batu masa itu," ungkapnya.

Sejak 1800

Hal senada dikatakan Mbah Sarmun Jenggot (76). "Diperkirakan pada akhir 1800-an penduduk sini sudah banyak yang menjadi tukang batu," ujarnya. Menurut Sarmun, tukang batu Besito mulai ikut merantau ke luar kota sekitar 1948.

"Dulu kami ramai-ramai ke Jakarta naik truk. Kendaran umum belum ada," ucap Sarmun yang ikut membangun Gedung BPK, Kantor Kehutanan Samarinda, dan Kantor Pertamina Balikpapan itu.

Menurut dua tokoh tukang batu senior itu, sejak dulu masyarakat lebih suka menjalani pekerjaan yang mengolah fisik. Mereka dikenal antibekerja sebagai buruh pabrik, karena dianggap pekerjaan perempuan.

Konon mereka pun enggan jadi guru. Versi Mbah Sarmun menyebutkan, dulu hasil buruh pabrik dan guru lebih kecil dibanding tukang batu. Dari situlah mereka lebih memilih pekerjaan tukang batu. "Dulu guru saja banyak yang mocok kerja bangunan, karena gajinya kecil," terangnya.

Terkait dengan keadaan buruh pabrik dan guru sekarang yang lebih sejahtera, Mbah Sarmun punya alasan tersendiri. "Tapi penduduk kampung yang menjadi tukang batu malah semakin bertambah. Hal seperti ini sudah menjadi kanggonan (tempat muasal), jadi naluri mereka sudah meresap turun-temurun," tutur Sarmun.

Diperkirakan saat ini jumlah penduduk produktif Besito yang menjadi tukang batu sudah mencapai ribuan. "Dari 6.000 yang sudah punya hak pilih, separuhnya adalah tukang batu," katanya.

Tidak heran saat proyek bangunan ada kenduri atau hajatan di Besito yang datang justru ibu-ibu. Pasalnya kebanyakan laki-laki sedang nukang batu di luar kota. Namun banyaknya penduduk yang bekerja tukang batu juga menguntungkan.

Seperti saat mereka total membangun Masjid Al Idrus. Ratusan tenaga bangunan bergotong royong merehab masjid tinggalan wali itu tanpa upah sepeser pun. (Sony Wibisono-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA