logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 19 Desember 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

PDI-P Paradigma Lama ?

Sebagai simpatisan PPDI-P, sungguh kaget dan prihatin dengan niat ketua DPD Jateng Bapak Murdoko akan maju dalam pilgub mendatang. Beliau menunjukkan sikap yang merugikan partai karena bersikap mendua. Semua masih ingat, sejak awal beliau sering membuat pernyataan tidak akan maju dalam pilgub 2008. Beliau menurut saya masih belum bisa berkaca diri karena pasti akan menjadi sasaran tembak dalam kampanye mendatang, terkait dengan saudara kandungnya, Bapak Hendy Budhoro (Bupati Kendal) yang sudah divonis oleh pengadilan sebagai koruptor.

Dengan alasan tersebut, menurut saya sudah cukup menurunkan perolehan suara baik untuk pilgub Jateng 2008 maupun pemilu 2009. Masyarakat muak dengan sikap pemimpin negara yang tidak konsisten, apalagi dengan latar belakang keluarga yang tidak bersih. Masalah korupsi adalah salah satu problem yang belum bisa dituntaskan.

Masyarakat yang jadi korban belum bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi, sehingga dengan mudahnya cagub dari partai lain akan terus mem-blow up. Hal ini pasti sangat merugikan partai. Semua ingat pada era orde baru, bahwa alur benang merah menjadi momok bagi seseorang untuk tampil menjadi seorang pemimpin.

Karena itu saya sebagai simpatisan setia PDI-P menyarankan Bapak Murdoko mengurungkan niatnya untuk maju apalagi ada beberapa tokoh kredibel telah mendaftar melalui partai ini seperti Letjen Bibit Waluyo, Sumaryoto maupun Prof Eko Budihardjo. Mereka bertiga yang sebaiknya dipresentasikan ke DPC dan DPD untuk menyampaikan konsep memenangkan pilgub.

Juga memenangkan pemilu 2009 dan bagaimana meningkatkan citra partai yang berkesan masih tidak banyak diminati kaum intelektual. Termasuk meningkatkan kesejahteraan sebagian besar warga PDI-P yang terdiri dari wong cilik.

Dengan mengadu beliau bertiga dalam satu forum, sudah akan mengangkat citra partai dari partai wong cilik menjadi partai wong cilik dan intelek. Perlu diingat, citra baik partai pada era mendatang harus selalu dijaga dan ditingkatkan, bila tidak ingin ditinggalkan konstituennya.

Aji Sofyan

Ledok RT 3/RW 4 Sukolilo, Pati

Penipuan Mencatut

Foto AB Susanto

Saya mendapat informasi dari seorang rekan bahwa di kupon undian "Daia" berhadiah langsung sebuah mobil, terpampang foto saya sebagai "Direktur Utama". Di kupon tersebut, penerima hadiah harus menghubungi PT Wing Surya di 021-32137333 atau 021-32137444. Setelah menghubungi, mereka meminta untuk mentransfer sejumlah uang.

Saya yakin ini penipuan dan merk "Daia", nama PT Wing Surya seperti juga foto saya telah disalahgunakan oleh para penipu. Ciri-ciri. kupon tersebut sbb : ukuran lebih kecil dari SIM, di bagian depan terdapat gambar mobil, stempel dan foto saya sebagai "Direktur Utama". Di bagian belakang terdapat 6 butir cara untuk memperoleh hadiah disertai stempel perusahaan PT Wing Surya dan ada tulisan "Hati-hati terhadap penipuan" dengan tulisan yang lebih besar.

Ternyata penipuan tersebut masih berlanjut ke kota lain, dengan menggunakan merek lainnya. Seorang kerabat di Semarang memberitahu juga menemukan foto saya di kupon sejenis dalam kantong "Rinso". Saya ingatkan pembaca waspada dan menyebarkan informasi penipuan ini agar tidak jatuh korban lebih banyak. Bentuk penipuannya tergolong profesional dan terorganisasi rapi, karena mereka bisa masuk ke jalur distribusi dan menyisipkan kupon di kantong deterjen "Daia" dan "Rinso".

AB Susanto (0215727515)

Managing Partner The Jakarta Consulting Group

Wisma 46 Kota BNl Lt 32

Jl Sudirman Kav I Jakarta

***

Jalingkut Tegal Mandeg

Jalingkut (Jalan Lingkar Utara) Kota Tegal yang merupakan proyek vital untuk mengatasi kepadatan arus lalu lintas Tegal dan Brebes saat ini mangkrak/terbengkalai. Hal tersebut disayangkan sebab Jalingkut merupakan solusi untuk menyebarkan/pemerataan beban arus lalu lintas agar tidak menumpuk di jalan utama.

Daerah pusat kota (Jl Gajah Mada, Jl Mayjen Soetoyo dan Jl Kol Soegiono) rawan kecelakaan sebab kendaraan berat bus, truk, kontainer melewati ketiga jalan tersebut.

Pemkot Tegal harus proaktif untuk mencari tahu dan berusaha keras untuk melanjutkan pembangunan Jalingkut. Manfaatnya banyak sekali apabila Jalingkut selesai dibangun kendaraan berat tidak boleh melewati pusat kota sehingga dapat menekan kecelakaan lalu lintas dan membuat arus lalu lintas di pusat kota lebih tertib dan teratur.

Pada saat-saat jam sibuk kondisi ketiga jalur utama tersebut sangat semrawut dan membahayakan bagi para pengendara kendaraan kecil (sepeda, motor dan becak), serta para pejalan kaki dan penyeberang jalan.

Fungsi jalan lingkar disamping untuk kelancaran arus lalu lintas juga untuk menghidupkan suasana di sepanjang jalan lingkar yang selama ini sepi dan terisolasi.

Adrila Trismiadhi

Kp Sumur 44 RT 2/RW 10 Klender, Jaktim

***

Gedung Pameran

Chris Dharmawan, pemilik Galeri Semarang termasuk manusia "langka". Bila orang lain memilih bisnis yang menguntungkan, tapi beliau malah menetapkan hatinya pada bisnis yang "merugi". Dalam arti mengelola tempat pameran seni yang jarang ada penikmatnya apalagi sampai terjadi transaksi jual-beli. Namun kepuasan tak hanya diukur dari segi materi.

Bangunan lama yang menempati Jl Dr Cipto 10 Semarang adalah salah satu contohnya. Di tempat itu baru saja berlangsung pameran tunggal kartun oleh GM Sudarta. Pameran sepi penikmat, padahal menempati lahan strategis di pinggir jalan besar. Di sana tak dipungut bayaran, malah terhibur oleh gambar lucu sebagai jampi stres.

Bertolak dari pembukaan mal yang berjubel sampai jatuh korban. Padahal di mal harus mengantongi uang cukup. Sebab mata manusia "terhibur" dengan harga diskon. Sungguh langka tapi nyata. Jiwa seni pemilik menjadikan kawasan Kota Lama menjadi "target" berikutnya. Jadilah bekas pabrik limun Fresh Jl Taman Srigunting 5-6 menjalani renovasi untuk tempat berbagai pameran seni berikutnya.

Tempat ini didukung dengan bangunan kuno sebagai ikon Nedherland Kecil-nya Indonesia. Maka wajarlah jika pemerintah daerah mengagendakan tempat pameran ini sebagai tujuan kunjungan wisata baik skala nasional maupun internasional.

Di seputar bangunan antik tersebut menuntut segera dibenahi nuansa kumuh di sekitarnya. Agar jika sudah berlangsung ajang pameran mata penonton tak tertuju pada "seni instalasi " tanaman menempel di tembok dan sarang laba-laba.

Juga suasana seram di malam hari bisa diantisipasi dengan banyak penerangan dan sorot lampu tertuju di gedung bangunan. Masalah banjir dan rob butuh pembenahan nyata. Selamat Bung Chris, Anda menyelamatkan keterhimpitan insan oleh materi beralih ke seni.

Agus Eko Santoso SE (081575155422)

Pondok R Patah Blok K1/21,Demak

***

Jalan Tikus

Selama ini orang mengenal istilah jalan tikus dalam arti konotatif, yakni jalan kecil yang menjadi jalur alternatif akibat kemacetan. Namun kini istilah itu tampaknya mengalami perluasan makna dalam arti denotatif.

Ya, jalan tikus tidak lagi sebuah jalur alternatif, namun sebuah jalanan yang di tengahnya terdapat bangkai tikus yang dibuang warga yang tidak bertanggung jawab.

Ini adalah sebuah perilaku jelek yang harus dicegah sebelum menular kepada orang lain dan semakin membudaya. Mungkin orang yang tidak bertanggung jawab itu beralasan, bangkai tikus yang dibuang di tengah jalan akan dilindas oleh kendaraan dan selanjutnya akan mengering dengan sendirinya. Tapi, apakah mereja tidak memahami perilaku seperti itu sangat jorok, menjijikkan dan sekaligus memperburuk kebersihan.

Tragisnya, perilaku itu begitu mudahnya ditemui di mana-mana. Mengapa harus membuang bangkai tikus ke tengah jalan raya. Bukankah akan lebih balk bila meluangkan waktu sedikit untuk menggali tanah dan mengubur bangkai itu atau mungkin masih banyak solusi lain yang lebih beradab. Semua berkepentingan dengan jalan raya yang bersih, mulus dan tidak jorok. Mennjadi kewajiban bersama untuk mewujudkannya.

Nabi' Hudallah SE

Mutih Kulon RT 3/RW 1 Wedung, Demak

***

Merasa Berkelimpahan

Saya sekeluarga tengah mendidik pikiran sendiri untuk selalu merasa berkelimpahan (feeling abundance) . Caranya, dengan membiasakan diri berbagi kepada sesama dan karena itu di dashboard selalu tersimpan duit recehan untuk diberikan kepada mereka yang mengajari saya akan rasa berkelimpahan itu. Di setiap lampu bangjo saya biasa menjumpai "guru-guru" saya.

Suatu saat karena perjalanan luar kota beberapa hari, istri saya terlambat mengisi recehan di dashboard. Sepulang dari Bandara Adi Sucipto Yogya, saat berhenti bangjo Janti, seorang wanita tua menyorongkan tangannya. Saya ragu, memberi atau tidak karena uang receh tinggal Rp 950 dan akhirnya saya beri Rp 150. Itu pun dengan rasa kurang percaya diri.

Ibu tua itu menerima, mengamatinya dan kemudian meninggalkan saya tanpa pesan. Setelah itu, uang dibuang ke tengah jalan. Spontan saya memakinya meski yang keluar hanya bunyi desis. lstri saya mengelus pundak sambli menghibur. Katanya, orang yang tidak bisa menghargai uang tidak akan pernah kaya.

Ya, saya setuju tapi ini bukan persoalan kaya dan miskin namun semangat kurang narima yang saat ini menjadi virus endemik bangsa. Mental berkekurangan menjadi pusat persemaian mental korupsi di negeri ini sekaligus merupakan jenis penyakit yang kelewat menyebar di sanubari bangsa. Setelah merenung, saya menyebut nama Tuhan mengucap terima kasih telah dipertemukan dengan "guru besar" saya di bawah jembatan layang Janti.

Saya ingin berterima kasih kepada Ibu tua itu yang telah mempertajam pengertian saya tentang makna memberi. Dia telah membuat rasa berkelimpahan saya makin meraksasa. Juga merupakan "guru besar" sejati yang mau berkorban, tulus dan ikhlas menjalani hidup sebagai cermin abadi. Selamat hari Ibu.

R Budi Sarwono

Jl Melati 2 Banyubiru, Ambarawa

***

Pengurus Perempuan

Dibatasi Hanya 30 %

Panja RUU Parpol melalui perdebatan alot, akhirnya menyepakati keterwakilan perempuan dalam kepengurusan pusat sebanyak 30 persen. Yang perlu dipertanyakan, mengapa secara kuantitatif diadakan pembatasan. Apakah UU lama ada ketentuan keterwakilan perempuan kurang dari 30 persen dan bagaimana dengan kualifikasi mereka.

Bila pengurus perempuan yang memenuhi syarat/standar kualifikasi mutu kurang dari 30 persen apakah akan dipaksakan harus 30 persen. Sebaliknya jika kualifikasi pengurus perempuan yang memenuhi lebih dari 30 persen, apakah jumlah kepengurusan perempuan tidak boleh lebih dari jumlah tersebut.

Mestinya jumlah kepengurusan pusat bagi perempuan tidak perlu dibatasi. Yang diutamakan mutu pribadi pengurus. Apa artinya jumlah tertentu bila dedikasi, perhatian dan perjuoangannya bagi partai atau publik, wakilnya hanya minim. Lebih baik wakilnya kurang dari 30 persen tetapi berbobot dan produktif daripada tetap 30 persen tapi pasif, dalam sidang hanya duduk manis, ngantuk atau ngrumpi melulu.

JW Wardoyo

Jl Kelud Utara 16 Petompon, Semarang

***

Tertipu Mobile 8 Fren

Pada Desember 2007 saya menerima SMS iklan dari operator Fren 888 : " Dapatkan bonus pulsa 50% setiap isi ulang voucher mulai Rp 100 ribu ke atas s.d 7 Desember..dst". (bukti SMS tersimpan). Karena menarik, saya segera mengisi pulsa Rp 100 ribu hari itu juga. Sebelumnya sisa pulsa saya Rp 26.548. Ternyata setelah saya cek hanya ditambah 20% atau Rp 20 .

Seharusnya pulsa menjadi Rp 100.000 + Rp 50.000 (bonus) + Rp 26.548 = Rp 176.548 tapi saat dicek ulang, saldo akhir hanya Rp 146.548 yang berarti saya rugi Rp 30.000. Saat lapor ke operator, petugas menjelaskan isi SMS iklan tidak lengkap. Seharusnya kalau isi ulang Rp 100 ribu hanya mendapat pulsa 20% saja.

Sementara bonus yang 50%, bila mengisi ulang di atas Rp 150 ribu. Bahkan katanya SMS dari operator hanya memakai "bahasa iklan" dan konsumen harus aktif cek ke operator terlebih dulu sebelum mengisi pulsa. Hebat sekali. Saya heran perusahaan sebesar Mobile-8 tega menipu konsumennya dengan iklan yang menyesatkan.

Seharusnya YLKI dapat membantu melindungi hak konsumen dengan menuntut produsen yang menggunakan bahsa iklan menyesatkan seperti itu. Bagi konsumen lain yang mengalami hal sama dengan saya, mari komplain dan punya hak memperjuangkan.

Andri Ariawan

Jl KH Agus Salim 148, Kudus

***

Panasonic Award dan

Reog Ponorogo

Menyaksikan penganugerahan Panasonic Award belum lama ini saya seraya di dunia lain. Sepanjang acara penuh gemerlap, bertaburkan kemewahan dan kemeriahan. Timbul pertanyaan dalam benak saya, betulkah yang saya lihat ini terjadi di Indonesia. Sepanjang penyerahan award untuk para insan teve berprestasi, terlihat pakaian yang dikenakan para pembaca nominasi bagaikan di negeri dongeng.

Yang wanita mengenakan pakaian serban terbuka, pundak terbuka, belahan dada rendah, celana pendek di atas lutut. Yang laki-laki berjas lengkap bak pangeran dari kahyangan. Keduanya berjalan menuju podium dengan tersenyum bangga. Sementara si penyanyi yang katanya calon wakil Indonesia justru tidak membawakan lagu berbahasa Indonesia dan latar penari yang "aneh" bergaya kebarat-baratan.

Belum lagi akting beberapa penerima penghargaan yang tanpa risih walau pun bukan suami istri langsung bercipika-cipiki dengan pembaca nominasi. Sungguh saya serasa melihat wajah Indonesia malam itu sebagai orang lain. Tanpa mengurangi penghargaan terhadap mereka yang telah berkarya dan berkiprah di dunia pertelivisian, saya metasa acara digelar telah meninggalkan nilai budaya dan tradisi Indonesia.

Sepengetahuan saya, tidak ada secuil pun budaya tradisi asli yang terakomodasi. Justru sebaliknya budaya orang lain dijadikan lahan untuk berbangga dan berpamerria. Atau saya yang terlalu kuno sehingga merasa aneh dengan peragaan modern tersebut.

Sementara di sisi lain Reog Ponorogo yang saat ini sedang diklaim sebagai milik negeri tetangga, hanya "dibela" seadanya dengan tayangan Legenda Reog Ponorogo oleh salah stasiun stasiun teve beberapa jam sebelum Panasonic Award dilaksanakan. Agaknya kita sudah lupa dengan nilai budaya dan tradisi sendiri dan tidak bangga dengan nilai-nilai lokal bangsa.

Wajar bila nilai dan bentuk tradisi budaya yang tidak dilestarikan justru diklaim orang lain yang lebih peduli. Di titik inilah musti kita bertanya, mengapa harus kebakaran jenggot sesaat. Penampilan Dedi Mizwar malam itu yang mengajak rekannya untuk memberikan pilihan tayangan yang bermutu yang berdasar nilai luhur bangsa memang memberi sedikit harapan. Tunggu saja apakah ajakan Dedi Mizwar menjadi kenyataan atau hanya harapan semu yang hilang di tengah hingar bingar kemeriahan dan kemegahan pagelaran.

Roziqun

Jambangan Brt RT 2/RW 6 Kunden

Wirosari, Grobogan

***

Aduhai Bali Tour ...

Saya mengikuti Senam Sehat Indonesia (SSI) karena ingin tetap sehat jasmani dan rokhani. Karena itu warga SSI dari berbagai sasana di Semarang juga mengharapkan kepuasan dan kesehatan ketika mengikuti tour ke Bandung pada 30 November s.d 1 Desember 2007 yang dilelola oleh Bali Tour. Tapi sial, di perjalanan terjadi musibah atas peserta dari SST sasana PDAM Semarang.

Di antara korban, ada yang patah hidung atau dua gigi depan dan semuanya ibu-ibu. Mereka tidak mendapat santunan karena dinilai hanya korban kecelakaan murni. Padahal itu akibat kecerobohan sopir atau perusahaan bus akibat rem blong. Secara darurat sih sudah ditangani di Puskesmas Lembang Bandung.

Mana tanggung jawab baik Bali Tour maupun pengurus SSI Kota Semarang. Menengok atau menelepon korban pun tidak. Kok malah menyatakan itu hanya kecelakaan murni. Siapa yang harus mengganti biaya perawatan korban. Setahu saya, dianggap kecelakaan murni kalau tertimpa pohan roboh atau tanah longsor.

Prof Dr Abu-Su'ud

Jl Tampomas Selatan 3, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA