| Selasa, 18 Desember 2007 | PANTURA |
Nelayan Diminta Waspadai Perairan Laut JawaTEGAL- Kepala Stasiun Meteorologi Tegal, Agus Hadi Utomo mengatakan, dari analisa arus angin ketinggian 10 meter terlihat pola angin barat mulai nampak di atas Jawa, yaitu dari arah barat menuju ke arah timur. Hal itu disebabkan karena suhu muka laut di perairan Indonesia sebelah timur mulai lebih panas dibanding perairan Indonesia bagian barat. Menurut dia, Indonesia mulai dipenuhi oleh awan-awan hujan, termasuk Pulau Jawa serta Laut Jawa. Maka, yang perlu diwaspadai adalah terbentuknya pias konvergensi atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ) yang merupakan daerah penumpukan awan di atas Jawa serta Laut Jawa yang berpotensi hujan lebat disertai puting beliung. Dengan kondisi demikian, diharapkan para nelayan yang mencari ikan di Laut Jawa untuk meningkatkan kewaspadaannya. Pasalnya, berkaitan dengan terjadinya penumpukan awan badai guntur di seluruh perairan Laut Jawa cukup berpotensi menimbulkan badai di laut. "Angin di Jawa dari arah barat bertiup dengan kecepatan antara 10 sampai 40 km/jam," katanya. Agus mengemukakan, dampak dari hal tersebut menyebabkan tinggi gelombang laut di Laut Jawa rata-rata mencapai 0,5 ñ 1 meter. Hal itu juga terjadi di Samudera Indonesia Selatan Jawa tinggi gelombang rata-rata antara 1-1,5 meter. " Waspadai perairan Laut Jawa, saat hujan dapat menimbulkan angin kencang berkekuatan 30 - 40 knot atau setara dengan ketinggian gelombang yang dapat mencapai 3 - 5 meter. Kondisi ini berbahaya bagi semua kegiatan laut," tegasnya. Tak Pakai Pelampung Sementara itu, Ketua Himpunan Nelayan SeIuruh Indonesia (HNSI) Kota Tegal, Mahmud Effendi mengatakan, seringnya terjadinya korban di laut selain karena faktor cuaca juga dipengaruhi kesadaran para nelayan menggunakan peralatan keselamatan masih minim. Akibatnya, ketika kapal yang mereka tumpangi diterjang ombak dan tenggelam mereka turut hilang. Pasalnya, mereka tidak menggunakan pelampung. Menurut dia, sejauh ini para nelayan masih beranggapan membawa peralatan keselamatan merepotkan dan biayanya mahal. Karena itu, untuk mengikis atau menghilangkan anggapan tersebut pihaknya bersama instansi terkait selalu menyosialisasikan pentingnya menggunakan peralatan keselamatan saat melaut. Selain itu, banyak kapal nelayan yang belum dilengkapi alat telekomunikasi. Padahal, alat tersebut sangat dibutuhkan untuk mengetahui letak maupun saat terjadi musibah. "Kami selalu mengimbau setiap nelayan yang akan melaut untuk melengkapi peralatan kemananan," tandasnya.(H17-17) |