| Selasa, 18 Desember 2007 | WACANA |
Surat PembacaMana Combo-mu?Saya membeli kartu Perdana Flexi edisi Fleci Trandy Dahsyat yang cover depannya tertulis "harga Rp 15 ribu isi total lebih dari Rp 55 ribu". Selama pengaktivan nomor, baru sekali saya bisa menggunakan di Yogyakarta dari nomor asal Solo. Saya juga mengaktifkan ke Semarang, tapi setelah sampai di kota tujuan nomor Combo tidak dapat digunakan. Pada 7 November 2007 saya mengaktifkan lagi di Semarang, ternyata sama saja. Saya berpikir mungkin operator jaringan sedang sibuk, namun setelah dua kali gagal, tanggal 21 November 2007 saya mengaktifkan lagi ke Semarang. Balasan SMS dari operator "Maaf aktivasi nomor Combo anda belum berhasil. Code error. Silahkan hubungi customer service". Petugas operator menyatakan nomor Combo saya sudah aktif di kota tujuan. Namun setelah sampai di kota tujuan juga tidak dapat digunakan. Saya hubungi lagi operator 147, dia minta saya mematikan dan kemudian menghidupkan ponsel lagi. Namun tetap tidak bisa digunakan. Saya hubungi operator lagi dan disuruh menunggu SMS-nya setelah memberikan nomor di belakang kartu sim. Dua hari saya tunggu nggak ada SMS, mana mungkin ada SMS lha wong nomornya aja nggak dapat Combo?. Setelah tiga kali gagal, 28 November 2007 saya mengaktifkan lagi ke Semarang. Sudah lebih 3x SMS minta pengaktifan namun balasan operator: "Maaf aktivasi nomor Combo anda belum berhasil, silakan hubungi customer service". Saat itu juga saya menghubungi operator minta panduan langsung untuk pengaktifan dan petugasnya menyatakan sudah aktif. Dia menyatakan setelah sampai di kota tujuan, ponsel matikan sejenak kemudian tekan *77 untuk pengaktifan call forwarding. Saya turuti sarannya tapi ternyata juga tidak berhasil. Saya kesal dan menghubungi operator menggunakan ponsel teman, bahwa saya tidak mendapatkan nomor Combo. Operator bertanya sudah mendapatkan nomor Combo tetapi kok tidak dapat digunakan. Saya jawab kalau sudah mendapat nomor, berapa nomor saya, ternyata dia tidak menjawab. Terakhir 2 Desember 2007 saya mengaktifkan dari Salatiga dan pernah ada balasan dari operator bahwa "nomor Combo di Salatiga berlaku s.d 5 Desember 2007, tekan *77 u call forward dan *770 u menonaktifkan". Sampai di kota tujuan juga tidak dapat digunakan padahal temen saya juga mengaktifkan di kota yang sama dan dapat dipakai. Teman menggunakan Perdana Flexi keluaran lama. Apa yang terjadi pada kartu Perdana Flexi saya? Apa karena diberandol harga yang terjangkau terus pelayanannya kurang. Saya merasa dirugikan dan kecewa. Saya mengimbau agar pelayanan pengaktifan nomor Combo benar-benar diperhatikan agar pelanggan merasa puas. Siswanto Kurnia Abidin Sriyatno RT 1/RW 1 Karanggeneng, Boyolali Kemiskinan Brangsong Membaca berita di harian ini beberapa waktu lalu bahwa Kecamatan Brangsong termasuk 5 besar daerah termiskin di Kabupaten Kendal sungguh membuat saya tersentak. Dari 60.914 rumah tangga miskin yang tersebar di 20 kecamatan, Brangsong menempati urutan ke-5 dengan 3.555 keluarga. Data yang dikeluarkan oleh Bagian Humas Setda Kendal itu jelas mengundang keprihatinan. Pasalnya, sebagai warga yang tinggal di wilayah Kecamatan Brangsong, predikat tersebut akan membawa pengaruh psikologis. Konotasi negatif tentang kemiskinan bisa berdampak mundurnya para pelaku bisnis yang akan berinvestasi. Belum lagi anggapan, masyarakat yang dicap miskin akan menimbulkan masalah sosial seperti kejahatan, keterbelakangan dan kurang pangan. Indikator yang digunakan meliputi tingkat kesehatan, pertanian dan pendapatan yang diperoleh. Sebenarnya kalau melihat infrastruktur, sarana dan prasarana yang tersedia sudah cukup memenuhi syarat majunya sebuah wilayah. Jalan yang menghubungkan dengan wilayah kecamatan lain atau desa, semua telah beraspal. Fasilitas kesehatan tersedia 2 puskesmas induk yang megah dengan berbagai kelengkapan dan tenaga medis ditambah puskesmas pembantu di desa. Sarana pendidikan pun tidak kalah lengkap mulai dari sekolah kejuruan sampai sekolah dasar yang konon penyaluran dana BOS-nya telah sesuai prosedur. Hamparan lahan pertanian yang subur dengan saluran irigasinya juga mencukupi. Lalu mengapa hal itu terjadi, apakah selama ini para punggawa baik yang ada di tingkat kecamatan bahkan desa memang mandul?. Kalau terjadi gejala demikian mohon pejabat yang memegang otoritas segera mengambil langkah. Buat apa mempertahankan pejabat/pegawai mandul yang hanya makan gaji buta. Sungguh ironis jika para punggawa hanya mengukur kinerja mereka atas dasar rampungnya pelaksanaan program. Sementara di satu sisi hasil yang dicapai memprihatinkan. Tahun 2008 masyarakat menaruh harapan besar kepada para punggawa sehingga Brangsong menjadi daerah gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta lan raharja, jumbuh kang ginayuh teka kang sinedya. Sobirin Tosari RT 3/RW 1 Brangsong, Kendal Terjebak SMS Fren Saya mendapat SMS dari Mobile 8 (Fren) pada tanggal 2 Desember 2007 yang isinya "Dapatkan bonus pulsa hingga 50% setiap isi ulang voucher mulai dari Rp 100 ribu ke atas s.d 2 Januari 2008". Pada tanggal 8 Desember 2007 saya membeli pulsa Rp 200 ribu agar mendapat bonus 50%, tetapi ternyata pulsa yang masuk tetap Rp 200 ribu, tidak ada tambahan bonus. Saat itu juga saya telepon ke 888 dan petugas mengatakan bahwa program bonus telah direvisi masa berakhirnya hanya sampai 7 Desember 2007 (jadi hanya 5 hari dari SMS Mobile 8, juga tidak ada SMS revisi ke pelanggan). Mungkin banyak pelanggan yang terjebak seperti saya dan tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menggerutu. Mohon lain kali Mobile 8 jika ingin menaikkan omset untuk menutup target tahunan jangan mengecewakan pelanggan setiamu. Ir Irwan Siswanto Khuangga Jl Tirtoyoso Batas 81, Semarang *** Rapor Merah Depag Sesungguhnya Depag saat ini sudah dikepung para guru yang siap meledakkan kekecewaan. Para guru RA, MI, MTs dan MA pada bulan Januari 2007 telah melakukan pemberkasan CPNS tahun anggaran 2006. Tetapi kesabaran mereka diuji oleh pejabat Depag pusat dan memuncak pada akhir tahun ini setelah tiada kejelasan kapan SK PNS yang genap 1 tahun tersebut akan turun. Apa pemberkasan para guru tersebut sebenarnya tidak serius, hanya guyon atau sandiwara. Saya bukan anak kecil yang masih suka guyon sambil jongkok menahan perut lapar. Tentang tunjangan fungsional para guru Dinas baik SD, SMP, SMA telah menerimanya secara berkala sebesar Rp 200.000/bulan. Tapi Depag lagi-lagi terlambat. Selama setahun, baru bulan ini rencana akan cair dan dengan jumlah yang jauh berbeda secara signifikan. Para guru kontrak Depag lebih tragis lagi nasibnya. Kesalahan dari institusi Depag mengakibatkan para guru kontrak tidak masuk dalam database. Namun lagi-lagi guru kontrak yang harus menanggung, terhalang untuk menuju panggung CPNS. Kasihan deh. Agung Sanarto SAg Griya Kalisalak Asri RT 2/RW 4, Batang *** Tanggapan PLN PT PLN menanggapi tulisan Ibu Rahmawati SE di Surat Pembaca berjudul ''Dirugikan PLN'' 28 Nopember 2007 derngan penjelasan sbb : Pemadaman yang kami lakukan saat itu karena pada 18 Oktober di Jl Dr Wahidin Semarang ada pohon tumbang yang mengenai jaringan di tiang nomor 52-82 dan mengakibatkan aliran listrik padam. Pada 19 Oktober 2007 juga pohon tumbang di perumahan Bukit Sari dan 21 Oktober 2007 FCO putus di tiang SRL02-103. S007 lokasi Jl Karangpanas dan FCO rusak di kompleks Sapta Marga Jangli. Pada 4 dan 10 November 2007 trafo di tiang SRL02-124 T004 padam. Untuk mengatasi hal tersebut pada 11 November 2007 dilakukan pengurangan beban dengan memindahkan sebagian beban ke trafo lainnya. Pada 11 November 2007 sudah kami lakukan penambahan trafo. Untuk itu PLN mohon maaf atas ketidaknyamanan yang diterima Ibu Ratnawati dan kami sampaikan terima kasih atas semua laporannya demi makin memperbaiki pelayanan kami. Area Pelayanan dan Jaringan Semarang Ir Mulyono Widodo MT (Manajer) *** Ujian Nasional, Tetap Semangat Menanggapi tulisan Kristophorus Bagus, siswa SMA Don Bosco Semarang di kolom Surat Pembaca I Desember 2007 tentang Ujian Nasional, saya menyampaikan salut atas isi tulisan tersebut. Selaku orang tua yang punya anak kelas IX SMP, saya sebetulnya merasa was-was dengan pencanangan Ujian Nasional tahun ini oleh Mendiknas. Bagaimana tidak, mau menaikkan mutu pendidikan saja, langkah yang diambil dari tahun ke tahun kok hanya dengan begitu-begitu saja, yaitu pengamatan sesaat. Dari pengalaman Ujian Nasional tahun-tahun sebelumnya saja belum jelas sejauh mana bisa meningkatkan mutu pendidikan. Kini langkah yang sama diambil lagi bahkan dengan menambah jumlah mata pelajaran yang diujikan dari 3 menjadi 6 untuk SMA. Kalau dari hasil Ujian Nasional tahun-tahun lalu dikatakan ada peningkatan, bisakah itu sebagai peningkatan kualitas, atau hanya sekadar peningkatan kuantitas. Namun bagaimana pun pemerintah telah menentukan sikap dan rakyat harus manut. Maka sungguh sikap terpuji bahwa ananda Kristophorus Bagus tidak nglokro atau menyalahkan pihak lain. Justru dia membangun semangat, mengajak temannya mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh untuk menghadapi Ujian Nasional. Bagai para pejuang di zaman penjajahan kolonial dulu, berjuang adalah final. Semoga perjuangan para siswa dalam persiapan diri membuahkan hasil yang optimal. Selamat berjuang. G Kus Suprayogo Jl Kalimantan Raya 383, Ungaran *** Menjaga Hati dalam Investasi Banyak media yang memberitakan tentang tertipunya sejumlah orang alam berinvestasi. Ketika berharap mendapat sejumlah hasil, ternyata uang malah dibawa lari. Ada hal yang perlu dipikir dan dipertimbangkan ketika kita ingin berinvestasi. Terutama adalah mengenai hasil bunga. Kalau hasil bunga yang ditawarkan sangat tinggi, bahkan cenderung tidak masuk akal, lebih baik Anda urungkan. Karena pemerintah pun membatasi tingginya bunga yang dijamin pemerintah. Iming-iming dalam bisnis MLM bahwa dalam waktu singkat akan mendapat hasil yang menggiurkan juga harus Anda waspadai. Sebetulnya, apa yang dikatakan dalam iming-iming itu benar. Bahkan dalam sehari pun, Anda akan bisa meraup hasil hingga jutaan rupiah apabila member yang bergabung di bawah Anda bertambah dalam jumlah yang luar biasa. Namun tidak mudah, bahkan mustahil untuk mendapat banyak member dalam sehari. Segala yang mungkin pun cuma menjadi angan-angan karena hati kita sudah terbuai dengan harapan mendapat hasil yang besar dalam waktu singkat. Kebanyakan dari mereka yang tertipu investasi adalah orang miskin yang ingin cepat kaya dengan cara mudah dan secepatnya. Juga kaum kaya yang serakah, yang ingin kekayaannya segera berlipat dalam waktu singkat. Akhirnya hati kita menjadi tameng terakhir untuk bisa berpikir jernih. Tanyakan pada hati kita, mestikah kita hidup serakah? Kalau mau dan mampu menggunakan hati dalam berinvestasi, insya Allah mendapat hasil yang barokah dan jauh dari tertipu. AB Kusuma SKom Jl Beringin Putih D2/14 Ngaliyan, Semarang *** Loyalitas Tak Harus dengan Beli Barang Saya menemukan brosur yang isinya perusahaan butuhkan staf kantor dan mencoba melamar ke PT NEJ di Jl Majapahit, Ruko Majapahit Blok K 339 (belakang Bank Mandiri) Semarang. Singkat cerita saya langsung wawancara dan diminta mengisi curiculum vitae serta mengisi 1 lembar formulir yang isinya harus memiliki salah satu barang elektronik yang mereka produksi sebagai bentuk loyalitas/kesetiaan kepada perusahaan. Kalau sudah memiliki barang tersebut maka 100% akan diterima. Berbicara loyalitas/kesetiaan kepada perusahaan, saya berpikir tidak harus dengan cara memiliki/membeli barang yang mereka produksi kecuali kalau sudah diterima dan mendapatkan gaji. Loyalitas kepada perusahaan adalah bagaimana kinerja karyawan misal tidak korupsi, mengunggulkan barang produksi perusahaan kepada keluarga, kerabat, saudara, tetangga agar mereka ikut memakainya. Jujur saja saya merasa tertipu. Banyak orang yang tidak punya uang ingin kerja agar mendapat uang, kok malah harus beli barang dulu. Uangnya dari mana dan itu sama artinya bohong. Bilang saja mau jualan. Sekarang cari kerja memang sulit, tapi tolong pemilik perusahaan di tempat tersebut jangan membunuh orang kecil yang sedang cari kerja. Kalau mau menerima karyawan jangan dengan syarat seperti itu, dengan embel-embel harus memiliki/membeli barang produksinya sebagai bukti loyalitas/kesetiaan. Saya imbau kepada yang sedang melamar pekerjaan lebih beri-hati. Jangan tergesa-gesa mengambil keputusan. Saat ini mencari pekerjaan memang sulit, tetapi jangan menyerah. Apa pun bisa dikerjakan dan yang penting halal. Jonathan IW Jl Tlogomukti Barat III/774, Semarang *** Telkom (Masih) Peduli ? Kejadian pahit saya alami selaku konsumen Telkom sejak 1 Desember 2007 sampai sekarang. Telepon rumah sebagai sarana komunikasi paling praktis mengalami gangguan. Yang membuat jengkel, kelihatannya tidak ada itikad baik dari PT Telkom untuk menyelesaikan masalah tersebut. Hal ini terlihat dari sejak kali pertama saya melaporkan bahkan berkali-kali ke 147, tapi jawaban selalu sama yaitu minta menunggu tanpa tahu kejelasan pasti. Saya selaku konsumen merasa kecewa kepada kinerja PT Telkom. Kewajiban membayar telepon yang tidak pernah terlambat seakan tidak bertimbal balik dengan pelayanannya. Padahal terlambat satu hari saja telepon langsung diblokir, tapi ada gangguan sampai seminggu... ? Seharusnya perusahaan telekomunikasi terbesar milik negara ini lebih bisa mawas diri, bahwa pelayanan terhadap konsumen adalah kunci utama. Sony Wahyu Hidayat SH Jl Candi Pawon XIII RT 4/RW I, Semarang *** Aksi Penanaman Jutaan Pohon Kalau berhasil, anak cucu akan menikmati Indonesia yang teduh, ayem dan tenteram berkat Aksi Penanaman Jutaan Pohon yang lagi digalakkan pemerintah maupun masyarakat. Tapi imbauan saya, jangan sekadar penanaman saja, perawatan jauh lebih penting. Harus disiram dan dipagari agar tidak dimakan hewan dan kalau mati harus segera diganti yang baru. Bukan pamer, depan rumah saya di pinggir jalan raya tertanam mangga, matoa dan rambutan. Ternyata dalam 4 tahun terakhir ini sudah dirasakan manfaatnya, halaman jadi teduh, buahnya sering diminta orang dan saya dengan senang hati memberinya. Tidak saya kecilkan jasa anak, cucu dan pembantu yang sering merawat, menyapu dan menyiram pohon buah tersebut. Untuk itu saya imbau mereka yang tinggal di pinggir jalan, kiranya ikut-ikut menanam pohon, merawat dan mengasihi, untuk warisan anak cucu. Janganonomi saja, karena berapapun pemasukan tidak akan cukup kalau dituruti, kenikmatan alami perlu dipikirkan juga. H Erlangga Chandra (EI) Bantulan RT 1/RW 1 Banyudono, Boyolali *** Pilgub, Harus Siap Menang atau Kalah Slogan yang tidak sekadar di bibir tetapi betul-betul diaplikasikan bagi calon gubernur dan wakil gubernur Jateng adalah siap menang atau kalah. Sengketa paskapilkada sering terjadi dan yang kalah selalu mencari titik lemah pemenang. Imbasnya, konflik sosial terjadi mulai dari perusakan kantor bupati, KPUD, demo yang destruktif, hingga berlanjut ke tingkat pengadilan. Masalah ini terjadi karena tidak adanya kerelaan hati untuk menerima kekalahan. Secara logika, bagi yang kalah sangat rugi secara finansial yang angkanya mencapai puluhan miliar rupiah. Faktor kerugian uang menurut asumsi saya, sebagai penyebab kerusuhan paskapilkada. Kekalahan yang secara etika politik melarang perusakan sarana publik, terasa hanya ucapan semata. Rakyat Jateng menanti pilgub 2008 yang tidak hanya jujur, adil, langsung, umum, bebas dan rahasia namun juga yang damai. Komitmen untuk siap menang atau kalah jangan semata imbauan, tetapi harus tercetak secara hitam putih di depan hukum dan disepakati setiap calon. Setiap permasalahan pilkada harus diselesaikan secara hukum tanpa intimidasi serta siap menerima keputusan yang ditetapkan pengadilan. Mujibur Rohman SPd I Guru SMPN 2 Wonokerto, Pekalongan. |