| Selasa, 18 Desember 2007 | WACANA |
LAPORAN AKHIR TAHUN BIDANG BUDAYABerpaling dari Globalisme BudayaAPAKAH persoalan kebudayaan kita hari ini? ''Kita memiliki begitu banyak kebudayaan dan kearifan lokal, tetapi abai pada sesuatu yang sangat bernilai itu. Kita seakan-akan mencintai budaya-budaya itu, tetapi tak memberikan kepada para pelaku kebudayaan sesuatu yang berharga,'' kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, dalam percakapan kecil sesaat sebelum, memberikan Anugerah Kebudayaan 2007 kepada media massa dan pelaku kebudayaan di Teater Ramayana Candi Prambanan, Yogyakarta, Selasa (6/11) lalu. Banyak orang tak kaget mendengar pernyataan yang terasa menyengat itu. Sangat wajar Sang Menteri geram karena beberapa saat sebelumnya Departemen Pariwisata Malaysia menggunakan lagu yang dulu dikenal sebagai lagu rakyat Ambon itu untuk mempromosikan kepariwisataan. Menteri Pariwisata Malaysia bahkan menyebut ''Rasa Sayange'' sebagai lagu Kepulauan Nusantara (Malay Archipelago). Tak hanya itu Mansor menyatakan rakyat Indonesia tak bakal bisa membuktikannya sebagai lagu rakyat Indonesia. Tentu saja Mansor ngawur. ''Rasa Sayange'' kali pertama direkam di Lokananta Solo. Maka tak mengherankan jika pada 11 November 2007, Menteri Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Budaya Malaysia mengakui bahwa lagu itu milik Indonesia. Akan tetapi kontroversi tetap berlangsung. Tetap saja kebanyakan orang Malaysia menganggap ''Rasa Sayange'' sebagai milik bersama. Perang di dunia maya juga berlangsung. Ada yang bikin ihateindon.blogspot.com yang berisi kejelekan-kejelakan dan pencurian-pencurian Indonesia terhadap kebudayaan Malaysia. Ada juga yang berencana bikin ilovemalay.blogspot.com yang berisi klaim-klaim Malaysia atas berbagai kebudayaan di Indonesia. ''Isinya Garin Nugroho, Teguh Karya, WS Rendra, Sutardji Calzoum Bachri diklaim sebagai budayawan kebanggaan mereka. Karya-karya besar mereka juga dianggap sebagai karya Malaysia,'' kata kritikus dan novelis Eka Kurniawan. Andaikata pada saat itu Malaysia juga sudah mengklaim ''Reog'' atau ''Barongan''-setelah sebelumnya batik- sebagai karya mereka, mungkin reaksi Wacik akan lebih keras lagi. Sangat mungkin ia akan menganjurkan Pemerintah agar memutus hubungan diplomatik dengan negeri yang memang secara kultural memiliki akar Melayu yang sangat kuat itu. ''Agar kebudayaan kita tidak diklaim milik asing, jalan keluar terbaiknya ya dipatenkan saja. Namun yang lebih penting dari semua itu, kita harus menumbuhkan kembali penghargaan kita terhadap kebudayaan. Kita harus menyandarkan kehidupan kita kepada kearifan budaya.'' Berpaling Wacik tak menyebut kata ''lokal'' di belakang ''budaya''. Namun karena Anugerah Kebudayaan memang memberikan pemihakan kepada budaya-budaya lokal yang terpinggirkan -juga yang tak diabaikan- maka kebijakan Wacik jelas mengarah kepada penghormatan kepada kearifan budaya lokal yang apa boleh buat tergerus oleh budaya-budaya baru yang mengalir deras ke negeri ini akibat globalisme dan globaliasi. Meski demikian, sekalipun globalisasi semula melahirkan ''keseragaman'' kian banyak pengamat yang menengarai betapa tak ada sebuah universalistas yang tunggal. Ramalan MacLuhan tentang global village (dusun global) terbang entah ke mana. Karena itu, sebagaimana dinyatakan Benedict Anderson, bahwa bangsa hanyalah sebuah komunitas-komunitas yang dibayangkan (imagined community), banyak orang yakin globalisme kebudayaan pun hanyalah sebuah fiksi. Sesuatu yang kita bayangkan ada, namun ia hanya sebuah bayang-bayang yang cepat pudar. Bahkan globalisasi tak harus dipahami sebagai impian-impian kebesaran Amerika. Sebab, bahkan Mac Donald pun tak dibuat hanya dengan ''rasa'' Amerika. Bahkan iklan-iklan versi dangdutnya pun cenderung sangat lokal. Hanya yang patut diperhatikan sesuatu yang kita sangka sebagai budaya lokal atau tradisi rakyat (a folk tradition) kini sedang bermetamorfosis menjadi ''sesuatu yang lain'' dan memunculkan beragam varian. Kita tahu di samping ada wayang klasik telah muncul ''wayang mbeling,'' ''wayang apa maneh,'' dan ''wayang bebas.'' Kita juga paham di samping ''ketoprak klasik'' hadir pula ''ketoprak humor,'' ''jampi stress.'' Dan kita juga mengerti di samping ''ludruk klasik'' masih hidup, berkembang pula ''ludruk glamour.'' Malah, di samping memiliki tembang-tembang klasik, kita juga mempunyai campursari, dangdut koplo, dangdut-jaipongan, dan lain-lain. Dalam kasus ini, mereka rupa-rupanya mengenakan identitas secara longgar. Sebab, bukankah kata James Balwin, ''Identitas dapat dikatakan ibarat kain yang menutup ketelanjangan diri: bila demikian halnya, paling baik bila kain itu dikenakan longgar, sedikit seperti jubah di padang pasir, yang masih menyebabkan ketelanjangan itu dirasakan, dan kadang-kadang, dapat ditilik.'' Sebab, paling tidak menurut pendapat Julia Kristeva, identitas-identitas kita dalam hidup tak putus-putus dipersoalkan, digugat, dibatalkan. Atau mengutip Edward W Said, ''no one today is purely one thing.'' Tak seorang pun pada hari ini yang secara murni, secara utuh, terdiri atas satu hal saja. Suatu identitas, kata James Baldwin dalam The Price of the Ticket, dipertanyakan hanya ketika ia terancam, seperti ketika si perkasa mulai runtuh, atau ketika yang celaka mulai bangkit, atau ketika si orang asing masuk lewat gerbang. Bagaimana merespons persoalan semacam itu? Kebudayaan hari ini, jika kita bersepakat dengan Kuntowijoyo, sangat berelasi dengan etos ekonomi, urbanisme, inovasi dan kreativitas. Monitisasi telah menggusur budaya lokal yang dulu merupakan participatory culture menjadi budaya komersial. Dipaparkan dengan bagus oleh Kuntowijoyo, untuk menyaksikan klenengan atau nanggap wayang, dulu dengan sistem sambatan, seorang petani hanya menyediakan tempat, sedangkan sekarang harus membayar semua dengan uang. Komersialisasi budaya lokal, dengan demikian, telah mengondisi sebuah aktivitas kebudayaan muncul jika ada yang menyediakan banyak uang. Ada uang budaya disayang, tak ada uang budaya ditendang. Urbanisme juga melahirkan ''anak jadah kebudayaan.'' Anak-anak muda yang beranjak menjadi kelas menengah perkotaan di samping telah tak terlalu mengenal ''akar budaya'' pedesaan harus berhadapan dengan budaya-budaya pop yang menjelma dalam lagu-lagu Westlife, film-film biru Hollywood, makanan cepat saji Mc Donald, KFC, Pizza Hut,dan barangkali festival perempuan-perempuan bugil di internet. Karena itulah, selain membangun "kebudayaan" yang senantiasa bermetamorfosis menjadi sesuatu yang berelasi dengan etos ekonomi, urbanisme, inovasi, dan kreativitas, ada baiknya kita menggunakan cara pandang baru dalam memahami kebudayaan. Cara pandang baru, itu dalam pemahaman penari Suprapto Suryodarmo, adalah mencari greget atau roh -yang oleh isme kebudayaan baru (posmodernisme) telah diacak-acak atau didekonstruksi sedemikian rupa sekadar menjadi laku serbabeda dengan yang terdahulu dalam aktivitas kebudayaan. ''Jika semua serbaboleh, serbabisa, kita justru akan kesulitan menemukan diri kebudayaan yang telah hilang,'' tutur dia. Hanya pencarian itu tak akan mendapatkan hasil yang memuaskan jika penghargaan-penghargaan kebudayaan -yang termutakhir adalah Hadiah Akademi Jakarta kepada Sutardji Calzoum Bachri atas jasa-jasa menghidupkan mantra (kebudayaan lokal) dalam puisi Indonesia modern- hanya bermakna sebagai ''pengelus-elus'' kebudayaan lokal. Penghargaan itu harus menjadikan kearifan kebudayaan lokal sebagai spirit zaman, sanggup bergaul dengan persoalan baru (kontekstual), dan mampu memberi pencerahan untuk perjalanan bangsa ini menuju masa depan yang lebih gemilang. (Triyanto Triwikromo-35) |