logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 18 Desember 2007 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Prestasi Olahraga dan Indeks Pembangunan Manusia

Usai sudah pesta olahraga antarnegara Asia Tenggara di Nakhon Ratchasima, Thailand. Dalam SEA Games XXIV itu Indonesia mencapai target memperbaiki peringkat, namun gagal memenuhi sasaran memperoleh jumlah medali emas yang diharapkan para petinggi olahraga negeri ini. Dari urutan kelima di Manila, dua tahun silam, sekarang naik ke posisi keempat. Hasil itu dicapai melalui proses yang mendebarkan. Medali emas terasa seret didapat begitu lomba digelar. Ternyata memang kita hanya mampu meraih 56 medali emas, empat keping di bawah target minimal yang diharapkan.

Perkiraan target tentu dilakukan berdasar perhitungan cermat terhadap perkembangan kinerja terakhir cabang-cabang olahraga sebelum SEA Games XXIV digelar. Dengan demikian, meskipun Indonesia mampu mencapai empat besar, prestasi itu harus disambut dengan hati yang mendua. Tak bisa sepenuhnya dunia olahraga kita disebut telah mengalami perbaikan. Banyak cabang yang gagal memenuhi harapan. Pencapaian luar biasa dari atletik dan bulu tangkis tidak sekedar menjadi obat kecewa, tetapi juga generator dalam persaingan berebut peringkat.

Bahkan atltetik memberi suntikan mental berarti, dengan merebut medali emas pertama untuk kontingen melalui nomor prestisius, 100 meter putra. Atlet Jawa Tengah Suryo Agung Wibowo yang sebelumnya tidak masuk skenario calon peraih emas, membuat kejutan. Dia juara memecahkan rekor SEA Games. Suryo juga menyumbangkan medali emas 200 meter putra, dan memecahkan rekor nasional yang telah bertahan 23 tahun. Atletik menyumbangkan tujuh medali emas, dua keping di atas target. Sayang pada cabang-cabang lain yang padat medali, prestasi kita suram.

Untuk berjaya dalam multievent, penguasaan pada cabang-cabang individual merupakan kunci keberhasilan. Pada masa Indonesia berjaya di lingkup Asia Tenggara selama dua dasawarsa mulai akhir 1970-an, kita tak hanya punya pelari tangguh, tetapi juga perenang hebat, pesenam tangguh, maupun pepanah jempolan. Cabang-cabang yang menyediakan banyak medali memang harus dikuasai agar kembali mengulang keberhasilan masa lalu. Namun, sebenarnya strategi demikian masih dalam kerangka waktu jangka pendek. Prestasi olahraga adalah cermin dari bagaimana bangsa itu menempa dirinya.

Dalam jangka panjang, stategi makro pembangunan suatu negara bakal menjadi penentu prestasi olahraga mereka. Keberhasilan memadukan sukses ekonomi dengan kemampuan membangun manusia seutuhnya, bakal memetik hasil pada berbagai bidang, termasuk olahraga. Indeks pembangunan manusia (human development index, HDI) merupakan indikator kemampuan suatu negara dalam memperhatikan kualitas warganya. Berdasarkan data HDI 2005, tiga negara yang mengungguli Indonesia dalam SEA Games XXIV memiliki peringkat HDI yang memang lebih baik.

Juara umum Thailand berada pada urutan ke-77 berdasarkan HDI dari 177 negara yang disurvei lembaga PBB, UNDP. Runner-up Malaysia menempati posisi ke-63, sedangkan peringkat ketiga Vietnam ada di tempat ke-105. Indonesia harus puas pada urutan ke-107. Singapura adalah negara Asia Tenggara dengan peringkat HDI tertinggi, yaitu posisi ke-25. Posisi mereka dalam SEA Games yang masih di bawah menunjukkan sempitnya negara dan sedikitnya jumlah penduduk juga punya pengaruh berarti dalam prestasi olahraga. Indonesia adalah negara yang dianugerahi potensi geografis dan demografi luar biasa, modal yang tak boleh disia-siakan untuk mengembalikan kejayaan olahraga.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA