| Selasa, 18 Desember 2007 | SEMARANG |
Ngisor AsemPutra Sekayu Ingin Kembali Merajut KejayaanKepada kampungku Sekayu, dengan harapan dia tidak akan berganti nama di masa mendatang. DEMIKIANLAH, asa yang dituliskan oleh Nurhayati Srihardini yang lebih populer dengan Nh Dini kepada kampungnya di sebuah novelnya yang berjudul Sekayu. Nama kampung di belahan Kecamatan Semarang Tengah itu bagi sastrawati angkatan 1950-1960-an begitu melekat. Dari tempat itulah awal dedikasi Dini- begitu dia disapa, di bidang sastra. Ternyata nama Sekayu tidak saja melahirkan sosok Nh Dini. Di era tahun 1950-an, dari rahim kampung kecil itu lahir kelompok olahraga kenamaan di Kota Semarang, Putra Sekayu Club (PSC). Dalam diskusi panel yang diselenggarakan pada Minggu (16/12) di Balai Kelurahan Sekayu, mantan anggota PSC ingin kembali merajut kejayaan itu, tentunya dengan regenerasi. Bertindak sebagai pembicara utama Nh Dini serta tokoh-tokoh tua membicarakan kembali ''PSC dalam Pembaharuan (Dulu, Sekarang dan Masa Datang)''. Nama kelompok di era 1950 sampai 1980-an, PSC cukup melegenda khususnya di cabang sepak bola, bola voli dan bridge. Dari sepak bola PSC melahirkan nama klub Persatuan Sepak Bola Anak Sekayu (Persas), Sakura dan Romeo. Klub-klub itulah merupakan cikal bakal terbentuknya klub sepak bola kenamaan di Kota Semarang sekarang ini seperti TCS, Kuda Laut dan PS Undip. Bola Voli Di cabang bola voli, PSC melahirkan nama Club Horrison. Dari PSC-lah ikut mendorong berdirinya Persatuan Voli Indonesia Semarang (Pervis). Dari voli melahirkan jagoan sampai tingkat nasional seperti Amat Subari, Pitoyo, Pohari dan Sundari. Pada 1959 dua orang warganya alm Dri Siswanto dan Sumadi memelopori olah raga bridge. Cukup mengheranan permainan bridge yang saat itu dikenal sebagai olahraga eksklusif, ternyata diminati warga Sekayu. Tercatat tim PSC pada 1961 menjadi juara Walikota Club Salatiga. Sejarah bridge PSC turut menentukan lahirnya Gabungan Bridge Semarang (Gabrisem). Namun, upaya untuk merintis kejayaan itu terhadang oleh perubahan wajah Kota Semarang sekarang ini. Tokoh PSC Ali Suyono menyatakan lapangan yang dulu tempat beraktivitas berubah menjadi gedung besar. Mulai dari Thamrin Square, kantor Bank Jateng, pusat perbelanjaan Duta Pertiwi (DP) Mall dengan Carrefour-nya sampai terakhir pembangunan Paragon City. ''Setidaknya kami ingin, PSC tidak hilang, meski tidak setenar dulu. Tetapi bisa menjadi langkah dari anak-cucu kami untuk meneruskannya,'' ujarnya. Oh, Sekayu, apakah engkau akan berganti nama di masa mendatang? (Dicky Priyanto-41) |