| Selasa, 18 Desember 2007 | KEDU & DIY |
Suasana Natal Mulai Terasa di Berbagai Tempat
HARI kelahiran Nabi Isa Al Masih atau Yesus Kristus sebentar lagi bakal diperingati umat kristiani. Kendati masih 10 hari lagi tapi suasananya sudah terasa di berbagai tempat. Di Mal Malioboro misalnya, hiasan dan pernik-pernik Natal ada di mana-mana. Bahkan pengelola mal memasang boneka Santa Claus (Sinterklas) mengendarai kereta salju. Pohon-pohon cemara berhiaskan lampu kerlap-kerlip juga terpajang di sejumlah sudut. Bukan hanya boneka Santa Claus yang mejeng di sana. Seseorang dengan pakaian merah-merah, bertopi panjang, dan berjenggot putih menyambut pengunjung di pintu masuk. Dia selalu menyapa pengunjung terutama anak-anak. Kadang-kadang dia malah mengajak anak-anak bercanda. Suasana serupa terlihat di Toko Buku Kanisius yang berada di Deresan, Yogyakarta. Pintu masuk disulap menjadi goa bebatuan dengan patung-patung keluarga kudus yakni Maria, Yusuf, dan Yesus serta domba-domba kecil di sekelilingnya. Lampu berwarna-warni menjadikan goa tersebut seolah-olah hidup. Sementara itu, Natal ternyata membawa berkah bagi Tri Atmojo, perajin patung dan pernak-pernik natal berbahan fiber dari Ganjuran, Bantul. Pesanan patung meningkat tajam menjelang hari kelahiran Yesus dan dia terpaksa menolak sebagian pesanan karena kewalahan mengerjakannya. Maklum, karyawannya yang hanya 20 orang tak mampu membuat order dalam waktu singkat. ''Pesanan di bulan Desember biasanya memang melonjak, saat ini saja kami menerima 1.700 set patung keluarga kudus dan harus selesai tepat pada waktunya,'' tutur Tri. Beli Eceran Di rumah produksinya, dia bersama karyawan membuat berbagai bentuk patung Natal seperti Maria, Yusuf, Yesus, kambing, malaikat, salib, unta, sapi, dan pernik-perniknya. Satu set yang berisikan 16 jenis patung dijual dengan harga Rp 450.000. Pembeli bisa pula mendapatkan secara eceran dengan harga Rp 25.000-Rp 200.000/potong. Harga tersebut cukup murah dibandingkan dengan patung buatan tempat lain yang dapat mencapai jutaan rupiah. Wajar kalau kemudian pesanan datang begitu banyak dari kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dan lainnya. Pemesan dari Yogyakarta malah hanya sebagian kecil. ''Sebelum gempa tahun 2006 lalu jumlah karyawan ada 45 orang dan cukup untuk memenuhi order tapi sekarang tinggal 20 karena sebagian menjadi korban gempa, ada yang meninggal dan ada pula yang sampai sekarang masih mengurus rumah tangganya,'' paparnya. Dia juga sempat berhenti berproduksi selama beberapa bulan karena rumahnya ikut hancur kena gempa. Tanpa menunggu bantuan pemerintah yang tak kunjung tiba, dia dan sejumlah karyawan bangkit sendiri dan berjalan hingga kini. Dia dan pekerjanya ingin membuktikan usaha mandiri ternyata juga dapat dilakukan tidak harus menunggu janji-janji bantuan. Sekarang omzet perbulannya Rp 50 juta, masih kalah ketika sebelum gempa yang dapat mencapai Rp 70 juta. (70) |