logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 18 Desember 2007 KEDU & DIY
Line

Komitmen Ary pada Pembangunan Karakter

YOGYAKARTA - Rektor UNY Prof Sugeng Mardiyono PhD mengatakan, Dr (HC) Ary Ginanjar Agustian telah banyak menunjukkan betapa besar komitmennya terhadap pembangunan dalam bidang karakter dan akhlaqul karimah.

Berbagai kegiatan seperti publikasi, aksi sosial, dan training ESQ (emotional and spiritual quotient) dengan menggunakan multimedia yang mampu membangkitkan kesadaran seseorang untuk memperbaiki moral dan tata susila, telah banyak dilakukan.

Hal itu dikatakan oleh Rektor UNY ketika memberikan sambutan pada pemberian gelar Doktor Honoris Causa (HC) dalam bidang Pendidikan Karakter kepada pendiri ESQ Leadership Center, Ary Ginanjar Agustian (42), di auditorium UNY Karangmalang, Yogyakarta, Senin (17/12).

Dia menjelaskan, sikap visioner Ary Ginanjar untuk dapat mewujudkan Indonesia emas, besarnya perhatian terhadap peningkatan kualitas efektif guru, cakupan langkah, dan gerak simpatik yang tidak hanya berskala nasional tetapi juga internasional, sungguh pantas untuk mendapat acungan jempol.

Sementara itu, promotor Prof Suyata PhD dan Prof Darmiyati Zuchdi EdD mengemukakan, Ary Ginanjar memang pantas menerima anugerah Doktor (HC) dalam bidang Pendidikan Karakter karena jasa besarnya dalam mengonseptualisasi dan melakukan gerakan pembaharuan pendidikan karakter bangsa.

Tak Pernah Terlintas

Dia secara kreatif menciptakan, merumuskan, dan menggunakan model ESQ dan mendirikan ESQ Leadership Center yang dikembangkannya untuk membangun karakter individu, organisasi, dan korporasi untuk memperbaiki karakter bangsa.

Ary Ginanjar dalam pidato ilmiahnya pada kesempatan itu mengemukakan, tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa dengan apa yang telah dan sedang dilakukannya yaitu menulis buku dan menyelenggarakan training ESQ, membuatnya bisa berdiri di Rapat Terbuka Senat UNY itu.

Di balik semua itu, sesungguhnya membentang perjalanan panjang dan berliku yakni sesuatu yang mengubah perjalanan dan kiprah hidupnya.

''Saya pun mulai mencoba-coba memberi makna akan arti hidup dan akhir puncak dari pencarian itu saya dapatkan ketika selesai menulis, yaitu tulisan pencarian makna hidup yang kemudian menjadi sebuah buku.''

Buku itu diberi judul ''ESQ: Emotional Spiritual Quotient''. Tidak mengangkat dimensi IQ yang sudah tuntas dibahas oleh para ahli, namun bagaimana menyatukan tiga potensi dasar dalam satu kesatuan untuk menciptakan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang tidak saja memiliki intektualitas tetapi juga memiliki kecerdasan emosi yang dituntun oleh kecerdasan spiritual. (P12, Jul-70)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA