logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 18 Desember 2007 BUDAYA
Line

Ekspresi Rindu untuk Prof Rahayu

kalau aku merantau lalu datang musim kemarau/sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting/hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir... PENYAIR Madura yang berjuluk Celurit Emas, D Zawawi Imron, membacakan puisi "Ibu" karyanya dengan begitu energetik. Bait demi bait puisi mengalir dengan vokal tegas dan artikulasi amat jelas.

Sesekali dia memainkan tangan atau bahasa tubuh untuk menghadirkan penekanan atas larik-larik puisi itu.

Sungguh, puisi "Ibu" merupakan pilihan yang tepat benar untuk dihadiahkan pada mendiang Prof Dr Th Sri Rahayu Prihatmi. Apalagi puisi itu dia bacakan pada acara yang diniatkan sebagai a tribute to... kritikus sastra Undip yang wafat setahun silam.

"Kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan/namamu ibu, yang akan kusebut paling dahulu....," lantang penyair asal Batangbatang, Madura, itu.

Ya, lewat puisi itu Zawawi menghadirkan sosok Bu Yayuk, demikian Prof Rahayu Prihatmi dipanggil oleh para murid dan koleganya, dengan nyaris utuh. "Saya tidak sedang membacakan puisi 'Ibu', tapi mewakili anak-anak dan murid-murid beliau," demikian prolog penyair yang kerap disapa Pak Haji, sebelum membacakan puisi itu.

Dalam kegiatan bertajuk "Untukmu Ibu" di aula Fakultas Sastra (FS) Undip, Jalan Hayamwuruk, Pleburan, itu Zawawi membacakan tiga puisi.

Selain "Ibu", dia melantunkan "Sungai Kecil" dan "Sajak Alif". Pada puisi terakhir, dia mengajak penonton larut dalam kekhusyukan zikir.

"Kugali hatiku dengan linggis alif-Mu/hingga lahirnya mata air/jadi sumur, jadi sungai, jadi laut, jadi samudra dengan gelombang, mengerang menyebut alif-Mu/HompimpaÖ/hompimpaÖ/hompimpa.../Hidupku, matiku, nasibku...."

Murid dan Kolega

Bukan cuma Zawawi Imron yang mangayubagya setahun meninggalnya Bu Yayuk, yang digagas para murid dan koleganya. Tampil pula penyair imajis Sapardi Djoko Damono, mantan Rektor Undip Prof Ir Eko Budihardjo MSc, Triyanto Triwikromo, hingga penyair muda Adin dari Komunitas Hysteria.

Juga seniman Bowo Kajangan yang memainkan sebuah performance singkat, berisi ritus doa untuk mendiang.

Selain itu, tampil juga Musik Kamar dari Yogya. Kelompok yang antara lain beranggota mahasiswa ISI Yogya itu menghadirkan beberapa komposisi yang-- selalu saja -- berhasil membuat para penonton terpaku.

Sapardi Djoko Damono membacakan beberapa puisi. Sapardi yang tampil nyaris kembaran dengan Zawawi Imron, sama-sama menutup kepala dengan topi baretta, memesona dengan tiga puisi. Salah satunya puisi "Aku Ingin" yang sinambung dengan tema mengenang Bu Yayuk.

Sebuah puisi yang amat populer dan dikenal nyaris semua hadirin yang memenuhi aula malam itu.

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/dengan kata yang tak sempat diucapkan/kayu kepada api yang menjadikannya abu...." (Achiar M Permana-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA