| Senin, 17 Desember 2007 | WACANA |
Surat PembacaLagu Terang BulanSaya masih ingat di tahun 1940 menonton film di gedung bioskop Glodok Batavia alias Jakarta, sebuah film berjudul Terang Bulan. Pemain utama pria adalah Raden Mochtar, pemain wanitanya Miss Roekiyah dan pemain pembantu Tan Tjeng Bok. Ceritanya cinta segi tiga, di mana cinta Raden Mochtar dan Miss Roekiyah diganggu oleh saudagar kaya tukang kawin Tan Tjeng Bok. Akhir ceritanya happy ending kedua sejoli dapat menikah. Tapi yang ingin saya tonjolkan dalam film itu adalah adanya lagu Terang Bulan yang dinyanyikan oleh Miss Roekiyah karena terkait adanya bajak-membajak oleh negara jiran Malaysia. Setelah film itu diputar di beberapa kota, maka lagu Terang Bulan sangat digemari rakyat khususnya di Betawi. Lenong Betawi selalu membawakan lagu ini kalau sedang menggelar pertunjukan, artinya sudah menjadi milik bangsa Indonesia. Lirik lagu itu adalah sindiran bagi kaum lelaki sebagai berikut: Terang bulan terang di kali. Buaya timbul disangka mati. Jangan percaya mulut lelaki. Berani sumpah tapi takut mati. Miss Roekiyah menyanyikan lagu itu di suatu adegan malam hari, di tepi sebuah sungai tak jauh dari rumah saudagar Tan Tjeng Bok. Tetapi sekali lagi tetapi, ketika negeri Malaysia mendapat kemerdekaan dari Kerajaan Inggris kemudian menetapkan irama lagu Terang Bulan sebagai lagu kebangsaan negara Malaysia sampai sekarang. Waktu itu pemerintahan Bung Karno masih menanggapi positif kemerdekaan Malaysia dan meminta rakyat tidak menyanyikan lagu itu demi menghormati bangsa serumpun. Kalau toh belakangan Bung Karno melakukan politik konfrontasi karena menganggap Malaysia cenderung menjadi antek kaum neoimperialis dan kapitalis. Bahkan Singapura yang awalnya menjadi bagian dari Malaysia memisahkan diri menjadi negara merdeka sendiri sebagai Republik Singapura. Jadi rame-rame sekarang ini di mana Malaysia mengklaim lagu Rasa Sayange adalah miliknya dan Reog Ponorogo diklaim sebagai tari Barong asal Johor, buat saya pribadi tidak mengherankan. Lagu kebangsaannya saja mungut lagu rakyat Indonesia. Saya setuju pendapat Datuk Anwar Ibrahim, bekas deputi perdana menteri zaman Mahathir Mohammad, bahwa para pejabat Malaysia sangat arogan dan memberangus pers sehingga rakyat tidak banyak tahu soal kejadian politik atau TKW Indonesia yang disiksa. Kita tunggu reaksi PM Abdullah Badawi atas demo Reog Ponorogo di Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta. Kita juga ingin mendengar reaksi dari pejabat tinggi negeri ini, karena membajak Reog Ponorogo sebagai milik orang Malaysia sudah sangat keterlaluan menghina bangsa Indonesia. Apa perlu ada konfrontasi jilid dua kalau SBY-Kalla berani menjaga harga diri bangsa yang sudah diinjak-injak oleh Malaysia. ASEAN boleh jalan terus, tetapi kalau salah satu anggotanya menghina terang-terangan dan berulangkali, ngana ya ngana ning aja ngana. Roh Bung Karno bisa ngamuk dari alam kubur. Sudarjo Jl S. Parman 61, Purwokerto Peran Paperless Akan Meningkat Sekitar tahun 1975, teve masih barang mewah. Saya yang tinggal di desa kalau nonton teve mesti ke kantor kecamatan. Teve hitam putih yang ditempatkan di "kotak panggung" tersebut baru bisa ditonton warga mulai pukul 17.00 s.d jam 21.00 dengan siaran dari TVRI. Tapi dalam waktu singkat, tontonan tersebut sudah merambah pedesaan dan jadi barang biasa. Suara Merdeka, Korannya Wong Jawa Tengah, Perekat Komunitas Jawa Tengah dengan visi Semar-nya tampak masih sarat dengan semangat sebagai koran lokal. Memang ada Cyber News, namun berkesan masih terbatas pembacanya. Mungkin pertimbangannya, koreksi internet dinilai mahal. Ada baiknya harian ini sigap mengantisipasi. Konsekuensinya, harus ada refreshing terhadap motto dan slogan. Sekarang mungkin masih didominasi spirit dijangkau dengan koran "tradisional" (menggunakan kertas) sehingga wong Jateng yang ada di Jakarta, Surabaya dan lainnya bukan jadi prioritas. Dengan kemajuan IT, harian ini harus berparadigma baru bahwa Cyber News akan meningkat perannya. Dengan demikian Perekat Komunitas Jawa Tengah dan Visi Semar menjadi relevan untuk orang Jateng yang tersebar di seluruh Indonesia, namun juga sejagad raya. Saya pikir tidak terlalu muluk kalau kita mencermati surat pembaca dari Bambang Haryanto beberapa waktu lalu yaitu "Bangsa gaptek dan tidak gaul" yang direspon WNI yang tinggal di San Bernardino, California AS "Teguran dari San Bernardino". Perkembangan IT telah memunculkan virtual manager, small office home office/SOHO, Branchless corporation. Dalam imaginasi saya, dengan teknologi Wimax, jangan-jangan nantinya koneksi internet akan semudah teve sekarang. Internet akan jadi sarana masal untuk menangguk informasi yang menjadi salah satu "kebutuhan pokok" di era modem. Sebagai awam saya memperkirakan bahwa dalam waktu singkat internet akan mudah dan murah dinikmati seperti teve yang bisa dijangkau di rumah bahkan dalam kendaraan bergerak sekali pun. Ini pangsa pasar yang harus dicermati, diantisipasi untuk diolah menjadi pasar SM yang tidak main-main. Globalisasi informasi teknologi telah mewujudkan mantra Act locally, think globally menjadi nyata. Ditambah dengan mobilitas warga Jateng yang juga makin mengglobal, sebaiknya SM tampil seperti Indovision yang dapat ditangkap jernih di mana saja. Sekadar urun rembug. Purnomo Iman Santoso (EI) Villa Aster II Blok G/10 Srondol, Semarang *** Tak Usah Malu-malu untuk Menjadi Malu Waktu kecil di desa, saat bermain di antara ilalang dan wahangan tapi begitu mendengar adzan, serentak semua beriari ke masjid dan selesai shalat bermain lagi. Tidak ada paksaan, tak ada intimidasi, cuma malu dan aib bila tak shalat. Semua riang tanpa beban, yang ada hanya rasa malu bila tak bisa mengaji, malu tak menolong orang, malu berbuat curang. Hanya takut malu. Itu 30 tahun lalu. Kini tidak hanya antara ilalang dan wahangan, sementara malu makin sulit dimiliki dalam substansi dan aplikasi baik secara pribadi atau kolektif. Tak simultan eksis dalam deretan gelar skolastik, tak baur dalam atribut kultural, bahkan bias dalam rnodalitas awal. Malu, menjadi komoditas abstraksi yang eksklusif, hanya dimiliki oleh orang yang murni manusia. Di lampu merah, pengendara pertama berhenti pas di garis depan. Pengendara kedua tak malu nyelonong melampaui dan selanjutnya berlomba ingin tampil terdepan. Tak malu melanggar rambu. Di bus anak muda duduk santai, tak malu ada nenek-nenek gelantungan. Ada wakil rakyat yang tak malu mesumnya dibeberkan, ada pejabat tak malu konangan korupsi, ada hakim tak malu dan sebagainya. Malu bukan budaya dan tak usah dibudayakan, hanya butuh kontemplasi imani. Malu inhern, substansinya immanent dalam jiwa manusia. Jika memang manusia, pasti dilengkapi potensi malu dan andai potensi ini tak diaktifkan lambat laun kehilangan rasa malu. Konsekuensinya, dunia manusia yang dibanggakan hanya dalam anima sintetik. Maka sebelum jadi makhluk mengerikan, tak usah malu-malu biar lalu lintas lancar, biar peringatan Allah tak dieksekusi. Bahwa untuk menghancurkan komunitas manusia yang minculak, tahap awal Allah akan mencabut rasa malu dari hati mereka. Bisakah harmoni hidup dinikmati tanpa malu? Sumiyartono Jl Badak Taya 9A, Semarang *** Tentang Quesnet Oknum PNS di Kendal gelapkan uang MLM Rp 600 juta (SM 4 Desember 2007). Sepasang suami istri di Grobogan ditahan, diduga menggelapkan uang setoran MLM. Juga Surat Pembaca beberapa waktu lalu menanyakan tentang Quesnet. Versi pertama, sebenarnya Quesnet merupakan jaringan MLM internasional yang berpusat di Hong Kong. Bisnis produknya berupa koin emas, alat kesehatan, voucher pulsa atau voucher wisata. Aturan mainnya, member harus mendaftar kemudian membeli produk yang dijual. Selanjutnya member mereferensikan pada orang lain agar bergabung. Setiap satu orang yang bergabung, member mendapat komisi 41,6 dolar yang penyerahannya setelah mendapatkan 6 referer hingga seluruhnya sebesar 250 dolar. Untuk bergabung ada beberapa pilihan dengan tarif berbeda. Untuk tarif normal, terendah sekitar Rp 5 juta tergantung barang yang dibeli. Versi kedua, karena tidak semua orang paham internet dan berhubungan dengan bank, dibentuk tim untuk mengurus pendaftaran member. Di antaranya Palapa (Madiun) dan Kalingga (Purwodadi). Visinya, semua anggota akan mendapat keuntungan dan berhasil bersama. Pendaftarannya melalui tim, uang yang harus dibayarkan selisih antara Rp 1,1 juta hingga Rp 1,5 juta. Jadi tarif terendah untuk jadi member Rp 6 juta. Dari selisih Rp 1,1 juta yang Rp 900 ribu dikembalikan ke panitia (sub) untuk biaya operasional. Sayangnya biaya operasional tidak pernah diberitahukan kepada member, hanya dikatakan untuk menjadi member harus membayar Rp 6 juta. Hal ini akhirnya menimbulkan kekecewaan. Juga bila satu keluarga bergabung lebih dari satu anggota, tidak ada potongan biaya. Untuk kasus yang muncul, member memberi janji bohong kepada calon anggota. Ada yang menjanjikan pekerjaan atau dalam 21 hari pasti dapat komisi dan bila tidak maka uang akan diganti. Juga janji setelah bergabung 1 bulan, tabungannya sudah menjadi Rp 10 juta. Jelas promosi tersebut menyesatkan. Versi ketiga, member mengatakan punya anggota sisi kiri 3.000 orang dan sisi kanan 10 orang. Agar komisi segera turun Rp 3 M, harus menyeimbangkan sisi kanan. Ditempuhlah strategi dengan mendirikan koperasi serba usaha, namun kegiatan utamanya bermain di Quesnet. Aturan mainnya, calon anggota menyetor Rp 7,5 juta dan mendapat motor yang BPKB-nya dijanjikan pada bulan ke-13, plus alat kesehatan. Oleh koperasi, uang diputar dengan cara membayar DP motor sebesar Rp 1,5 juta, selanjutnya mengangsur selama setahun menggunakan uang hasil komisi. Sedang sisanya, Rp 6 juta untuk mendaftar sebagai member. Demikian garis besar aturan main dari 3 versi Quesnet. Saya berharap, tuliskan ini dapat menjadi bahan pertimbangan sebelum berinvestasi. Ingat, yang tertipu biasanya orang miskin yang ingin cepat kaya dengan cara mudah atau orang kaya serakah yang ingin tambah kaya dengan cara mudah. Selamat berpikir dan berinvestasi. AB Kusuma SKom Jl Beringin Putih D2/14 Ngaliyan, Semarang *** Soal Solusi Hidup dengan Akal Sehat Sebagai jawaban atas tulisan saya di Surat Pembaca beberapa waktu lalu, saya jelaskan sbb: dalam menghadapi masalah hidup, ekonomi dan usaha di saat yang sudah buntu, maka hendaknya tetap tenang mencari solusi yang tepat. Pertama, akal sehat dan saya telah membuat sarana yang nyata, bukan mistik, jin atau gaib sehingga masalah keuangan akan teratasi. Shalat malam kerezekian yang merupakan laku ritual yang dilengkapi zikir dan wirid ayat kerejekian serta hizib 1000 malaikat, hizib al Ghozali dan hizib Maqolad as Samaawaat wal ardh. Bila lelaku ini dikerjakan rutin, yakin, percaya diri dan istikomah maka seberat apa pun masalahnya akan mendapat jalan keluar dari Allah SWT. Daya batin Illahiyah, di mana setiap manusia memiliki kekuatan batin yang terpendam.Bila daya ini diaktifkan maka dapat mengatasi permasalahan seperti sial, sempit rezeki dan sebagainya. Nah ketiga sarana ini harus dilakukan bersamaan. Tapio semua ini hanya sarana sebab semua kembali pada ridha Allah dan keyakinan, percaya diri, istikomah dan sabar. Widodo SAMPh Tulakan RT 6/RW I Keling, Jepara *** NKRI Mengulang Sejarah Majapahit ? Setiap hari selalu disuguhi berita korupsi yang pelakunya oknum menteri, gubernur, bupati/wali kota dan pejabat tinggi termasuk anggota DPR. Sepertinya korupsi merupakan tugas rutin yang harus mereka kerjakan setiap saat. Korupsi dianggap sebagai budaya yang harus dilestarikan tanpa rasa malu di depan publik yang dulu memilihnya. Yang menjadi pertanyaan, mengapa mereka korupsi padahal gaji beserta fasilitas yang diterima setiap bulan lebih dari Rp 10 juta. Korupsinya tidak tanggung-tanggung dengan landasan aji mumpung mencapai puluhan miliar sampai ratusan miliar rupiah. Padahal para pejuang yang merebut kemer-dekaan, setiap bulan hanya mendapat uang tunjangan Rp 600.000. Anak koruptor biasanya sukar menerima ajaran agama dan tidak patuh nasihat orang tuanya. Bahkan ada yang menantang berkelahi orang tuanya. Hukuman Tuhan, koruptor bila sudah pumatugas, banyak yang terkena penyakit beruntun sampai ajal datang. Kondisi ini merupakan gejala hancurnya negara seperti yang dialami Majapahit. Hancurnya Majapahit bersumber pada kesalahan Patih Gajahmada yang tidak mengader calon penggantinya. Dua tahun setelah Gajahmada meninggal, Majapahit yang kekuasaannya sampai kepulauan Madagaskar diAfrika Selatan, akhirnya hancur. Sedang kesalahan penguasa di NKRI sudah multikompleks, di antaranya semua instansi baik eksekutif, legislatif dan yudikatif, menjamur tindakan merongrong dan merampok kekayaan negara. Akibatnya masyarakat kehilangan kepercayaan kepada pemerintah. Ibaratnya, mana mungkin sampai tujuan bila kendaraannya rusak di tengah jalan. Kemerdekaan yang dipersembahkan para pejuang dan pendahulu hanya bisa dirasakan saat Ir Soekarno sebagai presiden. Setelah beliau dilengserkan secara sistimatis, kembali bangsa ini menjadi terjajah dan hebatnya lagi penjajah tersebut tanpa harus mendatangkan pasukannya. Mari telusuri sektor ekonomi, semua dijajah/dikuasai Jepang dan Korea Selatan. Pertanian oleh Vietnam/Thailand. Padahal Vietnam konon lebarnya hanya sebesar kepulauan Madura. Dulu kita terkenal sebagai negara agraris dan dapat membantu negara lain di era Presiden Soekarno. Perkebunan juga dikuasai Malaysia. Pertambangan oleh Amerika dan Belanda. Lihat saja bertonton emas dan tembaga Freeport dibawa ke negara tersebut sehingga rakyat setempat bagaikan tikus mati dalam tumpukan padi. Yang lebih lucu lagi politik kita juga dijajah Amerika sehingga bak rek gambar arit, nderek sing duwe duwit. Seperti penguasa dinegara kita sudah tidak memikirkan soal harga diri bangsa sebagai bangsa yang besar. Dicaploknya P Ligitan dan Sipadan oleh Malaysia hanya ditanggapi dengan seribu bahasa. Pelecehan seksual kepada TKW di beberapa negara juga sama saja. Mungkin fenomena para pimpinan, untuk apa mengurusi hal seperti itu, lebih nikmat kalau korupsi. Saat era Soekarno, harga diri bangsa sangat diperhatikan. Ketika Amerika lewat PBB menekankan Indonesia untuk mengikuti politiknya, Presiden Soekarno dengan gagah berani lantang menentang dan langsung keluar dari PBB. Dilecehkan Singapura dan Malaysia langsung membentuk Dwikora sehingga kita disegani bangsa lain. Kemerdekaan yang dulu diperjuangkan para pejuang dengan ribuan korban nyawa, kini makin melenceng arahnya, sebab semua unsur telah dikuasai bangsa lain tanpa kita bisa berdaya. Akibat banyak yang silau godaan harta benda. Saya yang awam sebagai rakyat kecil berpendapat pelaku korupsi dan penyalahgunaan wewenang harus segera dihentikan. Bila tidak, cepat atau lambat NKRI pasti hancur seperti Majapahit. Saran, penegakan hukum dan pemberantasan korupsi yang dilaksanakan pemerintah harus didukung maksimal sampai ke daerah. DPR segera merubah UU antikorupsi dengan hukuman mati seperti di RRCa agar koruptor jera. H Soeleman Jl Girimargo 46, Wonosobo |