| Senin, 17 Desember 2007 | BANYUMAS |
AnalisisMencatat Janji Calon BupatiPEMILIHAN Bupati Banyumas 10 Februari 2008, gaungnya makin hangat. Masyarakat selalu membicarakan proses pilbup yang baru kali pertama digelar di tlatah Banyumas. Seolah pembicaraan pilbup menjadi menu utama obrolan sehari-hari di berbagai tempat dan kesempatan. Dasar Wong Banyumas, pembicaraan tentang pemilihan umum bupati juga untuk guyon dan jarang yang serius. Keseriusan nampaknya hanya milik para elit politik saja dan tentunya tim sukses masing-masing pasangan cabup dan cawabup yang akan diadu dalam pesta demokrasi nantinya. Masyarakat lapis bawah bahkan tidak begitu berharap banyak terhadap figur bupati yang akan menjabat 2008-2013. Kondisi nasional yang belum lepas dari krisis, harga kebutuhan pokok terus naik, ongkos jasa melejit, biaya pendidikan mencekik, pengangguran semakin membengkak angkanya dan rupiah dirasakan turun nilainya. Karena faktor kesusahan nasional itu, banyak anggota masyarakat yang apatis terhadap pilbup. Masyarakat hanya mendengar janji-janji, wacana, visi-misi para bakal. Sementara kehidupan mereka sendiri tengah sumpek. ''Siapapun yang jadi bupati, kehidupan saya tidak berubah tetap susah ,'' pemilik warung kelontong di jalan Pahlawan. Si Pembeli juga tidak kalah pesimisnya, ''Saya tukang becak juga tetap mbecak, pendapatannya paling banyak Rp. 10 ribu karena sudah banyak taksi dan angkutan kota,'' celetuk tukang becak yang mangkal tidak jauh dari warung itu. (55) - Penulis adalah calon pemilih yang sudah terdaftar di KPU Banyumas |