| Jumat, 14 Desember 2007 | SEMARANG |
Terlambat Sekolah karena Berobat
SUDAH enam setengah tahun, Dina Kusumawati dan Nina Kusumawati menjalani berbagai cara pengobatan untuk menyembuhkan kelainan pada kulitnya. Baik pengobatan secara medis maupun melalui paranormal, sudah mereka tempuh demi menghilangkan sisik yang selalu tumbuh pada kulit putri ketiga pasangan Sunarto (48) dan Riyanti (45) warga RT 6 RW 5 Kenteng, Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Argomulyo Salatiga. Namun usaha tersebut, belum juga membuahkan hasil. Biaya yang dikeluarkan untuk berobat pun sudah terbilang banyak bagi Sunarto yang hanya bekerja sebagai seorang buruh batu dan istrinya sebagai buruh pocokan. Menurut penuturan Sunarto, putri kembar mereka yang lahir 28 Mei 2001 pada awalnya lahir secara normal. Namun begitu menginjak bulan pertama, kelainan pada kulit kedua putri mereka mulai terlihat. Hampir seluruh bagian tubuh keduanya, dari wajah hingga kaki, nampak bersisik. ''Menjelang kelahiran putri kami, saya tidak mempunyai firasat apa-apa. Hanya neneknya saja yang saat itu mengalami mimpi aneh,'' terang Sunarto yang dulunya gemar memancing di Rawapening. Diceritakannya, waktu dirinya gemar memancing, dia pernah mendapatkan sepasang ikan yang lain dari biasanya di Rawapening. ''Ikan itu sejenis ikan hias dan kemudian saya berikan ke neneknya, Saginem (86) untuk dipelihara,'' terangnya. Sejak itu, hampir setiap malam, Saginem bermimpi kalau sepasang ikan itu berubah menjadi dua wanita cantik dan meminta untuk dilepaskan kembali. Karena sering bermimpi hal tersebut, ikan itu lantas dikembalikan lagi ke asalnya. ''Setelah kejadian itu, tidak berapa lama istri saya melahirkan putri kembar yang mempunyai kelainan pada kulit,'' ucapnya. Untuk menyembuhkan kelainan kulit pada anaknya tersebut, ia sudah mencoba membawa keduanya berobat ke Purwokerto, Demak, Yogyakarta, Semarang, dan di Kota Salatiga. Pengobatan secara medis oleh dokter kulit maupun secara spiritual oleh paranormal, telah dijalani kedua gadis cilik tersebut. '' Terakhir, saya membawa kedua anak saya ke Palembang untuk berobat ke paranormal, namun hasilnya belum ada,'' terangnya. Karena berobat kesana, kedua anaknya jadi terlambat sekolah. Dana bantuan dari para dermawan untuk anaknya juga habis terpakai untuk berobat. Dari sejak umur sebulan hingga sekarang, dirinya sudah mengeluarkan uang sebesar Rp 75 juta untuk biaya pengobatan. Itu pun sejak 6 bulan terakhir, putrinya sudah tidak lagi minum obat yang harganya mencapai Rp 2,5 juta.''Saya berharap anak saya bisa sembuh dan sekolah seperti anak-anak yang lain,'' tuturnya. (Leonardo Agung B-16) |