| Senin, 10 Desember 2007 | WACANA |
Surat PembacaAyo, Dukung PSIS!Pecinta bola Kota Semarang resah atas keputusan Dewan yang tidak menyetujui permintaan dana tambahan bagi PSIS dengan alasan dana yang telah digelontorkan sudah cukup banyak. Keputusan itu sebenarnya baik kalau dilihat dari sudut pandang bahwa dana dari masyarakat benar-benar bisa dipertanggungjawabkan oleh manajemen PSIS. Di satu sisi yang merasa sebagai warga Kota Semarang hendaknya berpikir jernih dan bisa mengambil sisi positif menyikapi keputusan Dewan tersebut. Bukan berarti saya membela tetapi mari semua warga Kota Semarang tidak terkecuali memikirkan kiprah PSIS di kancah sepak bola nasional. Jangan hanya tuntutan untuk menang tapi juga harus bisa mencari solusi ke depannyaa. Lewat Suara Merdeka sebenarnya bisa membuka dompet peduli dan saya yakin kepedulian warga Semarang pasti besar sekali. Dana yang terkumpul nantinya langsung diberikan kepada manajemen untuk dikelola. Manajemen pasti tidak akan main-main dengan dana tersebut karena akan langsung berhadapan dengan rakyat. Jadi manajemen tidak perlu lagi minta kepada Dewan, karena mereka sendiri juga suka minta kepada rakyat misal untuk rumah dinas, mobil dinas dan semua fasilitas yang semua harus baru dengan berbagai alasan. Untuk seluruh punggawa, teruslah berjuang karena tugasnya menjadikan PSIS sebagai yang terbaik di Indonesia. Ingat PSIS salah satu ikon penting Kota Semarang selain Lawangsewu dan Tugumuda. Suprihono Setyawan SKom JI. Kebon Arum Slt VII/9 Mranggen, Demak Kembalikan Uangku Saya nasabah BPD Jateng Cabang Udinus yang ATM-nya bisa digunakan pada ATM Bersama, di antaranya untuk transaksi di ATM BNI. Pada 8 Oktober 2007 sekitar pukul 11.00 WIB saya transaksi pengambilan uang di ATM BNI Indraparasta Semarang, namun gagal. Tetapi saldo di rekening saya berkurang Rp 2 juta Tanggal 10 Oktober 2007 saya komplain ke BPD Jateng lewat Cabang Udinus. Tetapi sampai saat ini belum ada tindak lanjutnya kecuali hanya menunggu dan menunggu dengan alasan masih dalam proses di BNI. Kepada pimpinan Bank BNI dan BPD Jateng, tolong kembalikan uang saya karena sangat diperlukan untuk biaya kuliah. Yang menjadikan tanda tanya bagi saya adalah bagaimana sebenarnya kinerja dari ATM Bersama tersebut. Jangan jadikan nasabah kecil dipermainkan dengan saling melempar tanggung jawab dari pihak BPD Jateng ke BNI atau sebaliknya. Saya merasa dirugikan dengan kegagalan transaksi tersebut. Mohon klarifikasi. Dwi Wahyu Jati (081327414355) Jl Sadewa 1 No 42 Semarang *** Buru Lumba-lumba Perburuan satwa liar yang dilindungi kini masih berlangsung. Banyak gajah mati diracun oleh orang yang tidak bertanggung jawab, cuma diambil gadingnya. Akibatnya semua satwa yang mempunyai hak hidup di hutan belantara kini nasibnya terancam kepunahan. Nasib satwa laut yang dilindungi seperti ikan paus dan lumba-lumba pun tidak luput dari incaran. Di ditayangan TV swasta beberapa waktu lalu, ada serombongan nelayan NTT bersenjatakan tombak, tidak mengenal belas kasihan ketika memburu ikan lumba-lumba. Dalam waktu sekejap sekawanan lumba-lumba ususnya terburai keluar. Setelah dibawa ke daratan, mereka mengajak ramai-ramai perempuan dan anak-anak melakukan pemotongan dan dagingnya dibagikan ke warga lain. Apakah ini namanya bangsa beradab? Apakah Pemerintah Daerah, Dinas Kelautan, para aktivis lingkungan hidup dan Kementerian Lingkangan Hidup tidak bertindak. Menurut informasi, pembantaian ikan paus dan lumba-lumba tersebut sudah berlangsung lama dan merupakan budaya turun temurun. Budaya yang cenderung pemusnahan makluk hidup harus dicegah. Ali Farkan Pabelan RT 1/RW I Kabupaten Semarang *** Pemikiran Sultan HB X Sata mencermati talk show antara Sri Sultan HB X di Metro TV yang mengambil bermacam tema seperti kehidupan rakyat dan peristiwa sakitar kehidupan Sultan. Saya sangat menghargai pemikiran beliau.bahwa presiden/pemimpin negara harus mendasari dengan Ketuhanan dan Perikemanusiaan (dua sila pokok Pancasila) Banyak orang berharap Sri Sultan HB X maju mencalonkan diri menjadi presiden, saya justru kurang bisa menerima. Menjadi Presiden Republik Indonesia paling lama 10 tahun (dua periode), itupun harus malalui pemilihan kembali. Sesudah itu mau ke mana? Saya berpendapat Sri Sultan HB X sebaiknya menjadi ketua Dewan Pertimbangan Presiden seumur hidup, dengan dilandasi UU, di samping tetap sebagai Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pengangkatan menjadi ketua Dewan Pertimbangan tersebut harus dikukuhkan dengan UU meski presidennya berganti sehingga bisa mengontrol, mengoreksi dan memberikan saran. Semoga pandangan saya ini bisa menambah wawasan bagi rakyat kecil, syukur diterima oleh pengamat serta simpatisannya. Bambang Poernomo Jl. Raya 36 Kranggan, Temanggung *** Pelayanan di KFC Saya sekeluarga beberapa waktu lalu makan siang di Kentucy Fried Chicken Jl Pemuda Magelang. Begitu masuk terlihat antrean panjang, saya membujuk anak untuk pindah ke tempat lain dengan menu sama yaitu ayam. Tapi anak saya rupanya tetap ingin mentraktir kami di resto 'orang kota'. Demi menyenangkan hatinya, saya pun akhirnya rela antre. Untung pelayanan cukup ramah membuat hati sejuk setelah mengantre hampir 1 jam. Tapi begitu sampai pada antrean, hati ini kembali "mendidih". Sudah mengeluarkan uang tidak sedikit, sajian makanannya hanya menggunakan 'piring kertas' dan gelas plastik yang habis pakai langsung dibuang. Mungkin orang menganggap saya orang udik. Tapi saya ingin dianggap sebagai orang yang masih bisa menikmati makan meski hanya berlauk tempe atau tahu yang disajikan di piring yang bersih dan gelas bening. Bukan berupa kertas yang dicetak bergambar pak tua tersenyum, seolah-olah mentertawakan bangsa Indonesia yang masih mau dibodohi. Ternyata susah menjadi "orang kota". Ida Widodo Manding Asri F-1 RT 8/RW 1, Temanggung. *** Nasib Hansip di Sinetron Dalam tayangan sinetron, pemirsa sering disuguhi adegan kekonyolan tingkah laku katrok petugas Hansip. Pemerannya pun baik tua maupun muda sengaja dikasting mudah dikibuli. Padahal walau klemprot mereka berpakaian atribut dinas lengkap plus sepatu lars dan pentungan. Melihat itu rasanya ada yang kurang pas bila memperlakukan mereka seperti itu meski sekadar sandiwara. Lupakah para penulis skenario atau sutradara bahwa petugas Hansip adalah bagian dari sistem Hankamrata. Padahal pemerintah telah berupaya mengangkat derajat satuan Hansip dengan cara mewajibkan para PNS memakai seragam dinas Hansip pada hari tertentu. Sementara di dunia hiburan malah menertawakan posisi mereka. Saya khawatir anak-anak sebagai pelanggan televisi terpengaruh oleh pembentukan opini sepihak terhadap eksistensi petugas Hansip yang sama sekali tidak berdasar itu. Secara umum kehidupan petugas Hansip sehari-hari masih perlu mendapat perhatian. Mertua saya sampai terobsesi hendak memberdayakan potensi Hansip di setiap kelurahan. Proposal berisi konsep pengembangan budi daya hewan air di setiap kelurahan telah disiapkan. Pengelolaannya dilakukan oleh satuan Hansip sehingga mereka nantinya yang menikmati panennya 100%. Sayang saat cita-cita hendak terwujud mertua meninggal dunia. Noor Rofiq Jl Wamena V/228-229, Ungaran *** Dampak Selular Bisnis selular mengalami pertumbuhan mencengangkan. Dari semula yang hanya dimiliki segelintir orang ; kini sebagian besar masyarakat mulai dari anggota Dewan, pengusaha, tukang ojek bahkan penjual jamu keliling pun menggunakan kemudahan alat komunikasi ini. Dengan kata lain, selular telah menguasai hajat hidup orang banyak. Hajat hidup adalah sesuatu yang selalu digunakan atau dikonsumsi setiap hari, sesuatu yang strategis yang berpengaruh besar bagi kehidupan yang jika tidak dikelola akan memberi dampak bagi kehidupan sosial. Pertanyaan, benarkah akses telepon selular yang digunakan selama ini termasuk cabang yang menguasai hajat hidup orang banyak?. Bandingkan, setiap bulan mengeluarkan rata-rata Rp 150 ribu untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras dan Rp 200 ribu untuk listrik. Tetapi, berapa biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan pulsa. Setiap bulan rata-rata lebih besar dari biaya membeli kebutuhan pokok dan membayar listrik. Pernahkah membayangkan hal tersebut?. Ini baru dampak kecil dari penggunaan alat selular yang tidak disadari. Berdasarkan pemberitaan, beberapa penyedia jasa layanan komunikasi memberikan sebagian sahamnya kepada Tematek Holding Singapore, melalui anak perusahaannya Singapore Technologies Telemedia. (STT). Artinya negara tetangga tersebut berhak mementukan tarif harga (price fixing). Dengan demikian akan terjadi persaingan tidak sehat antar penyedia jasa layanan telekomunikasi. Price fixing seperti itu bertentangan dengan pasal 5 UU No 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat. Jika hal ini dibiarkan terus maka perusahaan jasa telekomunikasi di negara tercinta ini tidak akan tumbuh. Mohon pemerintah lebih arif dan bijaksana mengatasi masalah ini agar kondisi ekonomi di negara kita menjadi lebih baik. Bagi pengguna jasa layanan telekomunikasi mohon lebih berhati-hati agar tidak menyesal dikemudian hari. Nur Khotim SPdI Jatisari RT 2/RW 3 Mijen, Semarang *** Buat Website Gratis Harian ini pernah memuat artikel "Website dalam bentuk blog berpeluang untuk bisnis lebih optimal". hingga saya langsung tertarik dan mencari informasi. Ternyata apa yang diberitakan memang benar. Dulu orang memiliki alamat email yang dicantumkan di kartu nama sebagai kebanggaan tetapi kini orang bisa membuat website pribadi secara gratis dan alamatnya dapat dicantumkan pada kartu nama. Perkembangan dunia internet memang sangat cepat dan bila tidak mengikuti maka akan ketinggalan termasuk penyedia layanan pembuatan website gratis antara lain dalam bentuk blog. Dengan blog setiap orang dapat membuat website pribadi atau bahkan sebagai sarana menawarkan produk/bisnisnya. Untuk membuat blog sangat mudah dan pendaftaran gratis. Orang tidak harus pandai pemrograman. Asal bisa mengetik dan mau belajar pasti dapat membuat blog. Keuntungannya, dapat mengikuti program bisnis PPC yang disediakan penyedia layanan blog dengan potensi penghasilan jutaan rupiah. Di negeri ini hanya orang tertentu yang mengetahui dan merahasiakan. Sekali lagi, membuat website dalam bentuk blog dan mengikuti program PPC adalah gratis (betul-betul gratis). Ayo membuat blog agar bangsa Indonesia lebih cerdas dan berpengetahuan luas. Nor Khanib Kalipucang RT 1/RW 2 Welahan, Jepara *** Ketertinggalan Pendidikan Dusun Gondang Desa Sendangsari Kecamatan Garung Wonosobo merupakan salah satu dusun yang relatif sedikit jumlah penduduknya, hanya 50 KK. Meski terhitung sedikit penduduknya tetapi anak-anak mereka masih banyak yang belum mengenyam pendidikan. Banyak remaja yang mengganggur dan sebagian lagi tidak bisa baca tulis. Bahkan banyak anak harus membantu orang tuanya mencari nafkah dengan menjadi pemulung. Sangat sedikit anak yang sekolah apalagi sampai ke tingkat SLTA bisa dihitung dengan jari. Ini menunjukkan kondisi ekonomi dusun tersebut masih lemah sehingga mengakibatkan ketertinggalan kualitas pendidikannya. Wagiyatul 'Atikah Mahasiswa Unsiq, Wonosobo *** Pemkot Harus Ikut Bertanggung Jawab Sedih rasanya membaca berita tentang kecelakaan yang menimpa pengunjung Wonderia Semarang. Yang tidak habis mengerti kenapa menimpa di wahana permainan yang sama, artinya kecelakaan yang pertama tidak bisa menjadi pelajaran bagi pengelolanya. Setelah yang kedua Pemkot Semarang baru memutuskan menutup tempat hiburan modern tersebut. Harusnya sejak awal pembangunan dan pengadaan atat permainan, Pemkot meneliti secara cermat apakah wahana permainan itu benar-benar baru atau bekas pakai yang kemudian dipermak sehingga menjadi seolah baru. Kalau barang tersebut ternyata bekas pakai maka alangkah ngawurnya Pemkot memberi izin kepada pengelola. Akibat dari barang bekas pakai tersebut yang menderita adalah rakyat kecil sebagai pengguna wahana tersebut. Kalau tempat itu tidak jelas kapan akan dibuka lagi berarti Pemkot menelantarkan rakyatnya sendiri, sebab cukup banyak orang yang menggantungkan hidupnya kepada Wonderia. Hal ini yang bisa menambulkan hilangnya kepercayaan rakyat kepada pemerintah. Khusus untuk Bapak Wali Kota agar mencari jalan keluar terbaik sehingga tidak ditinggalkan wisatawan. Kepada pengelola, bekerja lebih hati-hati dan penuh tanggung jawab dan untuk anggota Dewan mohon jangan hanya diam saja. Bantu cari solusi terbaik untuk Kota Semarang, ingat bisa duduk di kursi Dewan karena dipilih juga oleh orang Semarang. Suprihono Setyawan SKom Jl Kebon Arum Slt VII/9 Mranggen, Demak *** Belajar dari Gagak Benci sekali saya terhadap gagak, si burung hitam ini. Burung ini sering mengerubung sampah dan bangkai. Mengapa begitu benci, padahal burung gagak ini menguraikan bangkai yang menebarkan bau menyengat hidung. Sayang, umumnya orang hanya melihat hitam dan bodohnya saja hingga lupa untuk belajar keistimewaannya. Belajar dari mata gagak yang pandai memilih buah. Matanya hanya melihat buah berkualitas saja. Itulah sebabnya masyarakat Arab menamakan kurma yang berkualitas tinggi sebagai tamrat al-ghurab-kurma gagak. Belajarlah dari sifat survivalnya. Setelah telur menetas, induk gagak meninggalkan anak-anaknya. Seandainya burung lain tentu sudah mati kelaparan, tapi tidak bagi si anak gagak yang kuat semangatnya. Anak gagak bisa hidup dengan memakan semut atau serangga Iain yang datang ke sarangnya. Burung ini juga mengajari orang untuk menghormati jenazah. Jika tidak karena burung hitam ini mungkin Qabil akan kebingungan, tidak tahu apa yang dibuat atas mayat adiknya, Habil yang telah dibunuhnya.Tanpa gagak, mungkin pada hari ini orang akan membiarkan saja mayat bergelimpangan di atas tanah atau mengenyahkannya ke laut. Kalau demikian patitkan saya terus membenci ? Sutriningsih Mahasiswi Unsiq, Wonosobo *** Kualitas Pendidikan Belum Terjamin Sudah 62 tahun Indonesia merdeka tetapi kualitas pendidikannya masih belum terjamin. Seharusnya di negara merdeka, masyarakat tidak terpuruk. Banyak orang tidak mendapatkan apa yang seharusnya peroleh. Contoh, anak-anak jalanan tidak bisa sekolah karena mencari uang untuk makan saja kesulitan. Apakah hanya kalangan mampu saja yang bisa menikmati sekolah dengan nyaman dan tenang. Bagaimana anak-anak yang tidak mampu membayar uang sekolah? Dengan demikian secara tidak langsung masyarakat daerah tersebut menghambat kemajuan. Karena dengan adanya anak-anak yang tidak sekolah itu mengurangi kualitas pendidikan. Pemerintah telah mengadakan program dana BOS tapi kenapa masih belum bisa menyekolahkan anak jalanan? Ke mana dana untuk mereka tersebut, apakah diambil untuk kepentingan pribadi pejabat tertentu sehingga menghambat pemberian pendidikan kepada anak-anak tidak mampu. Jika memang ada dana untuk kalangan menengah ke bawah, berikanlah kepada yang berhak terutama anak jalanan agar mereka bisa bersaing dengan anak lainnya. Makin banyak anak mendapatkan pendidikan, akan membuat persaingan belajar lebih ketat dan negara makin lebih baik lagi. Tsana Nida Trisnawati Siswi SMP AL Irsyad Gg Arjuna 6, Purwokerto
|