logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 08 Desember 2007 SALA
Line

Delegasi Kamboja Tertarik Kembangkan Salak dan Jenmanii

KARANGANYAR- Salak lawu hasil pengembangan salak pondoh yang disilangkan dengan salak Tawangmangu, ternyata menarik perhatian delegasi pengusaha Kamboja. Mereka merencanakan mengembangkan salak tersebut di negaranya.

"Kami tertarik karena ternyata rasanya manis, buahnya lebih besar dibandingkan salak pondoh. Ini berbeda dengan yang kami dapatkan selama ini, pasokan dari Thailand," kata HE Son Koun Thor, pimpinan delegasi misi dagang Kamboja saat jamuan makan malam di pendapa rumah dinas Bupati Karanganyar, Kamis malam.

Dia yang juga Presiden Chamber of Professional and Micro Enterprises of Cambodia (CPMEC) semacam ketua bidang usaha menengah kecil Kadin Kamboja mengatakan, selama ini masyarakat negerinya juga sudah mengenal salak sebagai salah satu buah kegemaran warga.

"Kami memperoleh pasokan dari Thailand. Hanya, bentuk buahnya kecil dan rasanya sedikit masam. Sangat lain dengan yang kami temui di Karanganyar. Karena itu, jika memungkinkan kami akan mengembangkan di negeri kami," kata dia.

Tidak hanya salak, delegasi yang membawa belasan pengusaha papan atas Kamboja itu juga tertarik mengembangkan anthurium jenmanii. Mereka memiliki dataran tinggi di Provinsi Seam Reap yang sama dengan Tawangmangu, lokasi pengembangan tanaman hias mahal itu.

"Kami akan mendatangkan bibit dari Karangayar, dan kami berkomitmen tetap mencantumkan nama anthurium Karanganyar. Ini sebagai bentuk penghormatan atas pengembangan tanaman yang kami ambil dari sini," lanjut dia.

Mereka juga tertarik batik kayu, yang selama ini menjadi cirikhas cendera mata yang dikembangkan salah satu industri rumahan di Jaten. Batik kayu sangat bagus dan halus, berbeda dengan batik kayu di Kamboja yang terlihat lebih kasar. "Kami memang punya produk kerajinan yang sama, tapi lebih kasar. Termasuk batik sutra yang di Solo jauh lebih bagus dan halus."

Karena itu, mereka akan mengirimkan guru untuk belajar ke Solo, atau mendatangkan guru ke negara tersebut, melalui kerja sama Indonesia-Kamboja. Apalagi tahun depan, akan ada Rumah Indonesia di Seam Reap dan Rumah Kamboja di Jakarta. Itu akan difungsikan sebagai rumah pameran produk dan pelatihan.

Bupati Rina Iriani belum menyatakan persetujuannya untuk tawaran melatih tenaga kerja dari Kamboja itu. Namun untuk memasok salak lawu dan memasuk kerajinan ukir kayu atau produk lainnya, termasuk anthurium, tidak masalah.

"Kalau mengajar tenaga kerja dari sana, nanti kalau sudah pintar mereka bikin sendiri, atau malah memasok ke Indonesia, kan rugi. Namun kalau kami memasok produk kami, berapa pun akan kami siapkan. Petani salak akan ditantang mengembangkan produk lebih baik untuk memasok Kamboja," kata dia.(an-42)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA